Kerja Keras Tidak Diperlukan, Karena Semua Sudah Dinilai Sama pada SKP

Di sebuah sekolah yang tampak tenang dari luar, berdiri kokoh sebuah sistem yang katanya bernama penilaian kinerja. Sistem itu disingkat menjadi tiga huruf yang sering diucapkan dengan nada serius, seolah-olah ia adalah penentu masa depan, pembeda antara yang bekerja dengan sepenuh hati dan yang sekadar hadir mengisi daftar hadir. Namun di balik kesan formal itu, ada sebuah kebijakan yang jauh lebih menarik daripada sekadar angka. Semua nilai dibuat sama rata.



Kepala sekolahnya orang baik. Sangat baik bahkan. Saking baiknya, ia tidak tega melihat ada guru yang nilainya rendah. Ia juga tidak tega melihat ada guru yang nilainya tinggi sendirian. Jadi ia menemukan solusi yang menurutnya paling adil dan paling damai. Semua orang diberi nilai yang sama. Tidak ada yang merasa lebih buruk. Tidak ada yang merasa lebih baik. Semua setara. Semua tenang. Semua… rata.

Awalnya para guru terkejut. Mereka yang terbiasa begadang menyusun perangkat pembelajaran, memperbaiki metode mengajar, dan memikirkan masa depan murid-muridnya, sempat berharap kerja keras itu akan terlihat. Mereka membayangkan ada perbedaan, sekecil apa pun, antara usaha dan kemalasan. Tapi ternyata tidak. Di rapat evaluasi, ketika angka-angka itu dibagikan, semua tersenyum. Bukan karena puas, tapi karena bingung harus bereaksi bagaimana.

Guru yang rajin menatap kertas penilaiannya lama sekali. Ia menghela napas pelan. Di sebelahnya, guru yang sering datang terlambat, pulang lebih cepat, dan menganggap mengajar sebagai rutinitas tanpa makna, tersenyum lebar. “Alhamdulillah,” katanya ringan, seolah-olah ia baru saja memenangkan sesuatu.

Di sudut ruangan, kepala sekolah tersenyum bangga. Ia merasa berhasil menjaga keharmonisan. Tidak ada konflik. Tidak ada kecemburuan. Tidak ada perbandingan. Semua damai. Ia mungkin lupa bahwa keadilan bukan selalu berarti kesamaan, tapi dalam pikirannya, kesamaan adalah jalan tercepat menuju ketenangan.

Sejak saat itu, suasana sekolah perlahan berubah. Bukan perubahan yang langsung terasa, tapi seperti air yang menetes perlahan dan akhirnya membentuk lubang di batu. Guru-guru mulai berpikir ulang tentang usaha mereka. Untuk apa begadang jika hasilnya sama. Untuk apa mempersiapkan materi dengan serius jika akhirnya dinilai sama dengan yang sekadar membuka buku di kelas.

Salah satu guru pernah berkata dalam hati, “Kalau begitu, mungkin aku juga bisa sedikit santai.” Awalnya hanya sedikit. Ia mulai mengurangi waktu persiapan. Lalu mulai tidak terlalu memikirkan metode mengajar. Lama-lama, ia pun menemukan kenyamanan dalam kata “cukup”.

Di sisi lain, guru yang sejak awal memang bekerja seadanya semakin merasa dibenarkan. Ia tidak lagi merasa perlu memperbaiki diri. Sistem telah mengafirmasi bahwa apa yang ia lakukan sudah cukup. Bahkan lebih dari cukup, karena nilainya sama dengan mereka yang bekerja lebih keras.

Sekolah itu tetap berjalan. Kelas-kelas tetap berlangsung. Murid-murid tetap datang setiap pagi. Dari luar, semuanya tampak normal. Tapi di dalam, ada sesuatu yang perlahan memudar. Semangat. Keinginan untuk menjadi lebih baik. Rasa tanggung jawab yang dulu terasa berat tapi bermakna, kini terasa ringan tapi kosong.

Kepala sekolah tetap tersenyum setiap kali melihat laporan. Baginya, angka-angka yang seragam adalah tanda keberhasilan. Tidak ada masalah berarti. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Semua berjalan sesuai rencana.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah masuk ke dalam laporan itu. Perasaan.

Perasaan guru yang masih berusaha jujur pada dirinya sendiri. Perasaan bersalah ketika ia mulai ikut-ikutan menurunkan standar. Perasaan tidak nyaman ketika melihat murid-muridnya tidak mendapatkan yang terbaik, sementara ia tahu ia bisa memberikan lebih.

Guru itu sering duduk sendirian setelah jam sekolah. Ia menatap ruang kelas yang sudah kosong. Ia ingat alasan awalnya menjadi guru. Bukan karena angka. Bukan karena penilaian. Tapi karena ia ingin bermanfaat. Ia ingin menjadi bagian dari perubahan kecil dalam hidup murid-muridnya.

Ia tersenyum kecil. “Ternyata bukan sistem yang membuatku bekerja,” gumamnya. “Tapi rasa itu.”

Rasa yang tidak bisa diukur. Rasa yang tidak bisa ditulis dalam kolom penilaian. Rasa yang membuat seseorang tetap melakukan yang benar meskipun tidak ada yang melihat. Rasa yang membuat seseorang tetap bertanggung jawab meskipun tidak ada penghargaan.

Di tempat lain, kepala sekolah sedang menyusun laporan berikutnya. Ia menulis dengan rapi, memastikan semua data terlihat baik. Ia tidak menyadari bahwa di balik angka-angka yang seragam itu, ada cerita yang tidak ia lihat.

Cerita tentang guru yang memilih tetap bekerja dengan sepenuh hati meskipun sistem tidak membedakan. Cerita tentang guru yang perlahan kehilangan semangat karena merasa usahanya sia-sia. Cerita tentang murid yang mungkin tidak pernah tahu bahwa ada guru yang sebenarnya ingin memberikan lebih, tapi terjebak dalam sistem yang membuat semuanya terasa sama.

Satire dari semua ini bukan tentang siapa yang salah. Bukan tentang kepala sekolah yang ingin adil, atau guru yang mulai lelah. Satire ini tentang sebuah ironi. Ketika keadilan disederhanakan menjadi kesamaan, dan kesamaan justru menghapus makna dari usaha itu sendiri.

Di dunia yang ideal, penilaian seharusnya menjadi cermin. Bukan untuk mempermalukan, tapi untuk menunjukkan. Menunjukkan siapa yang perlu dibantu, siapa yang perlu diapresiasi, dan siapa yang perlu diarahkan. Tapi ketika cermin itu dibuat buram, semua orang terlihat sama. Dan ketika semua terlihat sama, tidak ada yang benar-benar terlihat.

Namun di tengah semua itu, masih ada harapan. Harapan yang tidak bergantung pada sistem. Harapan yang lahir dari dalam diri. Dari kesadaran bahwa pekerjaan bukan hanya tentang nilai. Bukan hanya tentang penilaian. Tapi tentang amanah.

Guru yang masih merasakan itu akan tetap berjalan. Ia mungkin tidak mendapat nilai lebih tinggi. Ia mungkin tidak mendapat pujian lebih banyak. Tapi ia tahu bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari semua itu.

Ia tahu bahwa setiap usaha yang ia lakukan, sekecil apa pun, tidak pernah sia-sia. Ia tahu bahwa tanggung jawabnya tidak berhenti pada angka. Ia tahu bahwa ada yang melihat, bahkan ketika sistem tidak mencatat.

Dan mungkin di situlah letak keindahan yang sebenarnya. Ketika seseorang tetap memilih untuk benar, bukan karena dinilai, tapi karena ia tahu itu adalah jalan yang seharusnya.

Sekolah itu akan terus berjalan. Sistem mungkin tidak berubah dalam waktu dekat. Nilai mungkin tetap sama rata. Tapi di balik semua itu, akan selalu ada individu yang memilih untuk tidak ikut hanyut.

Mereka yang masih merasa bersalah ketika melakukan yang seadanya. Mereka yang masih merasa terpanggil untuk memberikan yang terbaik. Mereka yang tidak menjadikan nilai sebagai tujuan, tapi sebagai konsekuensi.

Dan pada akhirnya, satire ini bukan hanya tentang kepala sekolah yang membuat nilai sama rata. Tapi tentang kita semua. Tentang bagaimana kita merespons sistem yang tidak sempurna. Tentang apakah kita akan ikut menurunkan standar, atau tetap menjaga nilai yang kita yakini.

Karena mungkin benar, nilai penilaian bukan syarat masuk surga. Tapi bagaimana kita menjalani amanah, itu yang akan dipertanyakan.

Dan di antara angka-angka yang sama rata itu, selalu ada satu hal yang tidak pernah bisa disamakan. Niat.

Posting Komentar

0 Komentar