Dalam beberapa waktu terakhir, sering muncul narasi yang mengatakan bahwa solusi dari maraknya pelecehan adalah dengan mendidik laki-laki agar tidak menjadi pelaku. Sekilas, pernyataan ini terdengar benar. Memang, pelaku pelecehan harus bertanggung jawab atas perbuatannya, dan laki-laki sebagai pihak yang dalam banyak kasus menjadi pelaku harus dididik agar memiliki akhlak yang baik. Namun, jika narasi ini berhenti hanya di situ, maka ada sesuatu yang terlewat. Islam sebagai agama yang sempurna tidak pernah melihat permasalahan dari satu sisi saja. Islam tidak membangun solusi yang timpang, melainkan solusi yang menyentuh seluruh aspek manusia.
Ketika kita kembali kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa Allah tidak hanya memerintahkan satu gender untuk menjaga diri, tetapi kedua-duanya. Dalam Surah An-Nur, Allah terlebih dahulu memerintahkan laki-laki beriman untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Setelah itu, Allah memerintahkan hal yang sama kepada perempuan beriman. Urutan ini bukan kebetulan, melainkan menunjukkan bahwa tanggung jawab itu dimulai dari diri masing-masing, bukan dari menyalahkan pihak lain.
Artinya, dalam Islam, perbaikan tidak dimulai dari menunjuk siapa yang paling bersalah, tetapi dari kesadaran bahwa setiap individu memiliki kewajiban untuk menjaga dirinya sendiri. Laki-laki tidak boleh berkata, “Saya tergoda karena perempuan tidak menjaga aurat,” lalu merasa bebas dari dosa. Sebaliknya, perempuan juga tidak bisa berkata, “Saya bebas menampilkan apa saja, karena yang salah adalah laki-laki yang tidak bisa menahan diri.” Kedua sikap ini sama-sama keliru karena keduanya berusaha melepaskan tanggung jawab pribadi.
Islam datang bukan untuk membela laki-laki atau perempuan secara buta. Islam datang untuk menegakkan keadilan. Dan keadilan itu berarti setiap orang memikul tanggung jawab sesuai dengan perannya. Laki-laki diperintahkan untuk menjaga pandangan karena mereka memiliki kecenderungan visual yang kuat. Perempuan diperintahkan untuk menjaga aurat karena keindahan mereka bisa menjadi fitnah jika tidak dijaga. Ini bukan bentuk diskriminasi, tetapi bentuk pemahaman terhadap fitrah manusia.
Seringkali, konsep ini disalahpahami. Ada yang menganggap bahwa ketika Islam memerintahkan perempuan untuk menutup aurat, itu berarti menyalahkan korban. Padahal, dalam Islam, dosa pelecehan tetap sepenuhnya berada pada pelaku. Tidak ada satu pun ayat atau hadits yang membenarkan pelecehan dengan alasan apapun. Namun, di sisi lain, Islam juga tidak menutup mata terhadap realitas bahwa lingkungan dan penampilan bisa menjadi pemicu bagi orang-orang yang lemah imannya.
Di sinilah pentingnya memahami bahwa syariat bukan hanya tentang hukum, tetapi juga tentang pencegahan. Islam tidak hanya menghukum zina, tetapi juga melarang mendekati zina. Larangan ini mencakup segala hal yang bisa mengarah ke sana, termasuk pandangan, pergaulan bebas, dan cara berpakaian. Ini menunjukkan bahwa Islam bekerja secara preventif, bukan hanya reaktif.
Jika kita renungkan lebih dalam, kita akan melihat bahwa aturan-aturan ini sebenarnya adalah bentuk kasih sayang Allah kepada manusia. Allah mengetahui kelemahan manusia, mengetahui bahwa manusia memiliki hawa nafsu, dan mengetahui bahwa tidak semua orang mampu mengendalikannya dengan sempurna. Oleh karena itu, Allah menetapkan aturan yang melindungi manusia dari dirinya sendiri dan dari orang lain.
Dalam konteks ini, menjaga aurat bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang menjaga orang lain. Begitu juga dengan menundukkan pandangan. Ketika seorang laki-laki menundukkan pandangannya, ia bukan hanya menjaga dirinya dari dosa, tetapi juga menghormati perempuan yang ia lihat. Ketika seorang perempuan menjaga auratnya, ia bukan hanya menjaga kehormatannya, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dari fitnah.
Namun, penting untuk ditekankan bahwa semua ini tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan kezaliman. Pelecehan tetaplah kezaliman yang harus dilawan. Tidak ada kondisi yang membuatnya menjadi benar. Tetapi melawan kezaliman tidak berarti kita mengabaikan kewajiban lain yang juga diperintahkan oleh Allah.
Masalah utama dalam banyak perdebatan hari ini adalah cara berpikir yang cenderung hitam-putih. Seolah-olah jika kita mengatakan bahwa perempuan harus menjaga aurat, maka kita sedang menyalahkan korban. Atau jika kita mengatakan bahwa laki-laki harus menahan diri, maka itu sudah cukup sebagai solusi. Padahal, realitas jauh lebih kompleks daripada itu.
Islam mengajarkan keseimbangan. Dalam setiap perintah, selalu ada pasangan yang melengkapinya. Dalam setiap larangan, selalu ada hikmah yang melindungi. Ketika dua hal ini dijalankan bersama, maka akan tercipta masyarakat yang lebih sehat. Tetapi jika salah satunya diabaikan, maka keseimbangan itu akan hilang.
Kita juga perlu jujur melihat kondisi zaman sekarang. Akses terhadap hal-hal yang merangsang sangat mudah. Media sosial, hiburan, dan budaya populer seringkali menormalisasi hal-hal yang sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dalam situasi seperti ini, tuntutan untuk menjaga diri menjadi semakin penting, bukan semakin ringan.
Mendidik laki-laki agar tidak melecehkan tentu penting. Mereka harus diajarkan tentang batasan, tentang menghormati perempuan, dan tentang konsekuensi dari perbuatan mereka. Tetapi pendidikan ini tidak boleh berdiri sendiri. Perempuan juga perlu dididik tentang pentingnya menjaga diri, bukan karena mereka bersalah, tetapi karena mereka juga memiliki tanggung jawab di hadapan Allah.
Jika kedua hal ini berjalan bersama, maka kita tidak hanya mengurangi potensi kejahatan, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih beradab. Sebuah masyarakat di mana laki-laki tidak memandang perempuan sebagai objek, dan perempuan tidak merasa perlu menampilkan dirinya untuk mendapatkan perhatian.
Pada akhirnya, pertanyaan “mengapa Allah membuat aturan seperti ini” bisa dijawab dengan satu kata: hikmah. Allah tidak menetapkan sesuatu tanpa tujuan. Setiap perintah dan larangan memiliki alasan yang mungkin tidak selalu kita pahami sepenuhnya, tetapi pasti membawa kebaikan.
Tugas kita sebagai manusia bukanlah mempertanyakan keadilan Allah dengan standar kita yang terbatas, tetapi berusaha memahami dan menjalankan perintah-Nya sebaik mungkin. Ketika kita melakukannya, kita akan melihat bahwa aturan-aturan ini bukanlah beban, tetapi perlindungan.
Dan mungkin, yang paling penting untuk disadari adalah bahwa perubahan tidak dimulai dari orang lain, tetapi dari diri sendiri. Daripada sibuk menuntut satu pihak untuk berubah, lebih baik kita bertanya: sudahkah kita menjalankan apa yang diperintahkan kepada kita?
Jika setiap laki-laki benar-benar menundukkan pandangannya, dan setiap perempuan benar-benar menjaga auratnya, maka banyak masalah yang hari ini kita perdebatkan akan berkurang dengan sendirinya. Bukan karena satu pihak menang atas yang lain, tetapi karena keduanya sama-sama memilih untuk taat kepada Allah.
Inilah keindahan Islam. Ia tidak memihak, tetapi menuntun. Ia tidak menyederhanakan masalah, tetapi menyelesaikannya dengan keseimbangan. Dan di dalam keseimbangan itulah, manusia menemukan ketenangan dan kemuliaan.


0 Komentar