Ketika guru sudah berempati, sudah mendesain pembelajaran dengan baik, sudah mencoba berbagai pendekatan, tetapi siswa tetap tidak menghargai proses belajar, maka kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar motivasi belajar biasa. Ini sudah masuk ke wilayah budaya belajar dan makna belajar itu sendiri di mata siswa.
Mari kita gunakan satu metafora agar lebih mudah dipahami.
Bayangkan sebuah panggung pertunjukan. Guru sudah menjadi aktor yang baik, naskah sudah disiapkan dengan matang, pencahayaan sudah diatur, bahkan cerita sudah dibuat relevan dengan kehidupan penonton. Namun penontonnya tidak melihat ke panggung. Mereka sibuk dengan ponsel, berbicara sendiri, atau bahkan tidak peduli bahwa pertunjukan sedang berlangsung.
Dalam situasi ini, masalahnya bukan lagi pada kualitas pertunjukan. Masalahnya adalah penonton tidak merasa bahwa pertunjukan itu layak untuk diperhatikan.
Di sinilah letak inti persoalannya.
Ketika siswa tidak menghargai guru yang menjelaskan atau teman yang sedang presentasi, itu bukan hanya soal kurangnya motivasi belajar. Itu adalah tanda bahwa nilai menghargai proses belajar belum tertanam dalam diri mereka. Dengan kata lain, mereka tidak melihat belajar sebagai sesuatu yang penting, bermakna, atau layak diberi perhatian.
Ada beberapa lapisan penyebab yang bisa menjelaskan kondisi ini.
Lapisan pertama adalah pergeseran makna otoritas. Dulu, guru secara sosial memiliki posisi yang kuat sebagai figur yang dihormati. Namun sekarang, otoritas itu tidak lagi otomatis diberikan. Siswa tidak lagi menghormati hanya karena seseorang adalah guru. Mereka menghormati jika mereka merasa ada alasan untuk itu. Ini bukan berarti siswa “nakal”, tetapi menunjukkan bahwa legitimasi harus dibangun, bukan diwariskan.
Lapisan kedua adalah inflasi stimulasi. Siswa hari ini hidup dalam dunia yang penuh dengan rangsangan instan. Video pendek, media sosial, game, semuanya memberikan kepuasan cepat tanpa usaha besar. Akibatnya, kemampuan untuk bertahan dalam situasi yang membutuhkan perhatian jangka panjang menjadi menurun. Ketika guru menjelaskan atau teman presentasi, otak mereka membandingkan pengalaman itu dengan stimulasi lain yang jauh lebih cepat dan menarik. Maka perhatian mereka mudah teralihkan.
Lapisan ketiga adalah putusnya hubungan antara belajar dan makna hidup. Banyak siswa tidak melihat hubungan langsung antara apa yang dipelajari di kelas dengan kehidupan mereka. Bukan karena guru tidak kontekstual, tetapi karena dalam pikiran mereka, masa depan terasa abstrak dan jauh. Akibatnya, belajar tidak memiliki urgensi. Tanpa urgensi, tidak ada alasan untuk serius. Tanpa keseriusan, tidak ada penghargaan.
Lapisan keempat adalah budaya sosial di dalam kelas itu sendiri. Jika dalam satu kelas sudah terbentuk norma bahwa tidak memperhatikan itu “biasa”, maka perilaku tersebut akan menular. Siswa yang sebenarnya ingin memperhatikan pun bisa ikut terbawa arus. Dalam psikologi sosial, ini disebut sebagai norma kelompok. Ketika norma kelompok tidak mendukung belajar, maka individu yang ingin belajar justru bisa merasa “aneh”.
Lapisan kelima adalah pengalaman emosional siswa terhadap sekolah. Ada siswa yang secara emosional sudah “menutup diri” dari sekolah karena pengalaman masa lalu. Bisa karena pernah merasa gagal, tidak dihargai, atau tidak dipahami. Ketika itu terjadi, mereka datang ke kelas bukan sebagai pembelajar, tetapi sebagai “orang yang hadir secara fisik saja”. Dalam kondisi ini, empati dari guru memang penting, tetapi sering kali membutuhkan waktu panjang untuk benar-benar menembus dinding tersebut.
Sekarang kita masuk pada bagian yang mungkin terasa tidak nyaman, tetapi penting untuk dipahami.
Menghargai bukan hanya hasil dari diperlakukan dengan baik. Menghargai adalah hasil dari kombinasi antara nilai yang ditanamkan, kebiasaan yang dibentuk, dan batasan yang ditegakkan.
Sering kali dalam praktik pendidikan modern, penekanan besar diberikan pada empati dan pendekatan humanis, tetapi aspek struktur dan batasan menjadi melemah. Akibatnya, siswa merasa nyaman, tetapi tidak merasa perlu untuk disiplin. Mereka merasa dekat dengan guru, tetapi tidak merasa harus menghormati proses belajar.
Padahal, dalam kehidupan nyata, rasa hormat tidak hanya tumbuh dari kedekatan, tetapi juga dari adanya struktur yang jelas.
Kita bisa kembali ke metafora panggung tadi. Jika penonton terus berbicara saat pertunjukan berlangsung dan tidak ada konsekuensi apa pun, maka lambat laun mereka akan menganggap bahwa perilaku itu boleh. Bahkan normal. Pada titik tertentu, bahkan aktor terbaik pun tidak akan mampu menarik perhatian mereka.
Artinya, dalam situasi seperti ini, solusi tidak cukup hanya dengan “menjadi lebih baik” sebagai guru dalam hal metode atau empati. Diperlukan keseimbangan antara empati dan ketegasan.
Empati tanpa struktur menghasilkan kedekatan tanpa arah. Struktur tanpa empati menghasilkan ketertiban tanpa makna. Yang dibutuhkan adalah keduanya berjalan bersama.
Guru tetap perlu memahami siswa, tetapi juga perlu menetapkan batas yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh terjadi di kelas. Misalnya, ketika teman presentasi, itu bukan hanya aktivitas belajar, tetapi juga latihan menghargai orang lain. Jika siswa mengabaikan, maka itu bukan sekadar “kurang fokus”, tetapi pelanggaran terhadap nilai sosial.
Di sini penting untuk membangun kesadaran bahwa kelas adalah komunitas, bukan sekadar tempat menerima materi. Dalam komunitas, setiap anggota memiliki tanggung jawab terhadap yang lain. Jika satu siswa presentasi, maka yang lain berkewajiban mendengarkan, bukan karena guru memerintah, tetapi karena itu adalah bentuk penghormatan antar manusia.
Namun tentu saja, membangun kesadaran seperti ini tidak bisa instan. Ini adalah proses budaya, bukan sekadar instruksi.
Ada satu metafora lagi yang mungkin membantu.
Bayangkan sebuah taman. Guru sudah menanam berbagai tanaman dengan baik. Namun taman itu tidak memiliki pagar. Akibatnya, siapa pun bisa masuk, menginjak tanaman, merusak, atau mengabaikannya. Dalam kondisi ini, solusi bukan hanya menanam lebih banyak tanaman atau menyiram lebih sering. Taman itu membutuhkan pagar.
Pagar di sini bukan berarti hukuman yang keras, tetapi batas yang jelas. Batas tentang perilaku yang bisa diterima dan yang tidak. Tanpa batas, nilai tidak akan terbentuk.
Jadi, ketika siswa tetap tidak menghargai meskipun guru sudah berusaha, kita perlu melihat bahwa persoalan ini berada pada pertemuan tiga hal. Pertama, motivasi dan nilai yang dibawa dari rumah. Kedua, budaya sosial yang terbentuk di antara siswa. Ketiga, struktur dan batas yang ditegakkan di kelas dan sekolah.
Jika salah satu dari tiga ini tidak berjalan, maka proses belajar akan terganggu.
Pertanyaan berikutnya yang lebih penting adalah bukan “mengapa mereka seperti itu”, tetapi “di titik mana kita bisa mulai mengubahnya”.
Perubahan biasanya tidak dimulai dari seluruh kelas sekaligus. Sering kali dimulai dari individu atau kelompok kecil yang kemudian menjadi contoh. Ketika ada beberapa siswa yang mulai menunjukkan sikap menghargai, dan itu diperkuat oleh guru, perlahan norma kelas bisa bergeser.
Namun ini membutuhkan konsistensi. Bukan satu atau dua kali, tetapi terus menerus.
Dan yang paling penting untuk diingat, kondisi seperti ini bukan berarti guru gagal. Ini adalah tanda bahwa medan pendidikan hari ini memang berubah. Guru tidak lagi hanya mengajar ilmu, tetapi juga membangun kembali makna belajar yang mulai memudar di kalangan siswa.
Itu pekerjaan yang jauh lebih berat daripada sekadar menyampaikan materi. Dan justru karena itulah, pendekatannya tidak bisa lagi hanya bertumpu pada metode mengajar, tetapi harus menyentuh budaya, nilai, dan struktur secara bersamaan.


0 Komentar