Problematika Penggunaan Desil Pendapatan dalam Penentuan Iuran BPJS Kesehatan dan Implikasinya terhadap Keadilan Sosial

Mengukur kesejahteraan masyarakat selalu menjadi pekerjaan yang rumit karena kesejahteraan bukan hanya soal berapa banyak uang yang diterima seseorang setiap bulan. Ia menyangkut rasa aman, kestabilan hidup, kemampuan menghadapi guncangan, akses terhadap layanan dasar, dan kualitas masa depan yang bisa dibayangkan. Dalam  pembayaran iuran kesehatan, banyak pihak menggunakan pendekatan desil pendapatan untuk menentukan siapa yang dianggap mampu membayar dan siapa yang layak menerima subsidi. Pendekatan ini tampak rasional karena menyederhanakan populasi menjadi sepuluh kelompok berdasarkan urutan pendapatan dari yang terendah hingga tertinggi. Namun di balik kesederhanaannya, penggunaan desil sering kali menyembunyikan kerumitan realitas dan berpotensi menghasilkan kebijakan yang tidak adil.



Untuk memahami persoalan ini, bayangkan sebuah tangga panjang dengan sepuluh anak tangga. Setiap anak tangga mewakili sepuluh persen penduduk berdasarkan pendapatan. Orang di anak tangga pertama adalah yang paling rendah pendapatannya, sedangkan orang di anak tangga kesepuluh adalah yang paling tinggi. Kebijakan iuran kesehatan kemudian memutuskan bahwa mereka yang berada di tiga anak tangga terbawah mendapat subsidi penuh, dua anak tangga berikutnya mendapat subsidi sebagian, dan sisanya membayar penuh. Dari kejauhan, tangga ini terlihat rapi dan teratur. Namun ketika kita mendekat, kita menyadari bahwa anak tangga tersebut tidak rata, jaraknya tidak sama, dan orang yang berdiri di tepi satu anak tangga bisa jadi tidak jauh berbeda kondisinya dengan orang di anak tangga di atas atau di bawahnya.

Desil adalah pembagian distribusi pendapatan menjadi sepuluh bagian yang sama besar berdasarkan jumlah orang, bukan berdasarkan jarak pendapatan. Artinya setiap desil selalu berisi sepuluh persen populasi, tetapi rentang pendapatan dalam setiap desil bisa sangat berbeda. Dalam masyarakat dengan ketimpangan tinggi, jarak pendapatan antara desil sembilan dan desil sepuluh bisa jauh lebih besar dibandingkan jarak antara desil satu dan desil dua. Sebaliknya, dalam masyarakat yang relatif homogen, perbedaan antar desil bisa tipis. Menggunakan desil sebagai dasar kebijakan iuran berarti mengasumsikan bahwa batas antar kelompok adalah batas yang bermakna secara sosial dan ekonomi, padahal secara statistik batas itu hanyalah garis imajiner.

Kesalahan pertama dalam menggunakan desil untuk melihat kesejahteraan adalah menyamakan pendapatan dengan kesejahteraan. Pendapatan adalah aliran uang dalam periode tertentu, sedangkan kesejahteraan mencerminkan kondisi hidup secara menyeluruh. Dua keluarga dengan pendapatan yang sama bisa memiliki tingkat kesejahteraan yang berbeda drastis. Keluarga pertama mungkin tinggal di rumah milik sendiri, tidak memiliki utang, dan memiliki jaringan keluarga yang kuat sebagai penopang sosial. Keluarga kedua mungkin menyewa rumah dengan biaya tinggi, memiliki cicilan utang konsumtif, serta menghadapi risiko kesehatan kronis yang mahal. Dalam statistik desil, keduanya berada pada anak tangga yang sama, tetapi dalam realitas, daya tahan finansial dan rasa aman mereka sangat berbeda.

Metaforanya seperti dua orang yang membawa tas dengan berat yang sama. Timbangan menunjukkan angka yang identik, tetapi isi tas bisa sangat berbeda. Satu tas mungkin berisi pakaian ringan yang mudah dibawa, sementara tas lainnya berisi batu yang membuat pemiliknya cepat lelah. Pendapatan adalah angka beratnya, tetapi kesejahteraan adalah bagaimana berat itu dirasakan dalam kehidupan sehari hari.

Kesalahan kedua adalah mengabaikan dinamika waktu. Desil biasanya dihitung berdasarkan survei pendapatan dalam periode tertentu. Namun pendapatan rumah tangga tidak selalu stabil. Banyak pekerja di sektor informal mengalami fluktuasi pendapatan yang tajam. Dalam satu bulan mereka bisa masuk desil enam, bulan berikutnya turun ke desil tiga karena kehilangan pekerjaan sementara. Jika kebijakan iuran kesehatan menetapkan kewajiban berdasarkan posisi desil yang dihitung setahun sekali, maka ia gagal menangkap volatilitas tersebut. Orang yang secara statistik dianggap mampu mungkin sebenarnya sedang mengalami masa sulit.

Bayangkan sebuah foto yang diambil saat seseorang tersenyum. Foto itu tidak menunjukkan bahwa beberapa menit kemudian ia menangis. Menggunakan desil sebagai dasar tunggal kebijakan sama seperti membuat keputusan tentang kehidupan seseorang hanya dari satu foto, bukan dari film panjang yang menggambarkan naik turunnya kehidupan.

Kesalahan ketiga adalah mengabaikan perbedaan biaya hidup antar wilayah. Desil pendapatan sering dihitung secara nasional. Namun daya beli pendapatan sangat tergantung pada lokasi. Pendapatan tiga juta rupiah di kota besar mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, sementara di daerah pedesaan angka yang sama bisa relatif lebih longgar. Jika dua keluarga dengan pendapatan sama ditempatkan pada desil yang sama dan diwajibkan membayar iuran yang sama, kebijakan tersebut mengabaikan konteks lokal. Dalam hal ini desil berfungsi seperti penggaris lurus yang digunakan untuk mengukur permukaan yang sebenarnya bergelombang.

Secara data, banyak studi menunjukkan bahwa garis kemiskinan dan ambang kerentanan sangat sensitif terhadap harga lokal dan struktur pengeluaran. Dalam survei sosial ekonomi, komponen pengeluaran terbesar bagi rumah tangga miskin sering kali adalah pangan dan perumahan. Ketika harga komoditas naik di wilayah tertentu, kesejahteraan riil rumah tangga menurun meskipun pendapatan nominal tidak berubah. Namun sistem berbasis desil tidak secara otomatis menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

Kesalahan keempat berkaitan dengan ukuran rumah tangga. Desil pendapatan sering menggunakan pendapatan rumah tangga tanpa memperhitungkan jumlah anggota keluarga secara memadai. Keluarga dengan pendapatan lima juta rupiah dan dua anggota memiliki kondisi yang berbeda dengan keluarga dengan pendapatan sama tetapi enam anggota. Jika keduanya masuk desil yang sama dan dikenai iuran yang sama per orang atau per keluarga, beban relatif yang ditanggung akan berbeda. Pendekatan yang lebih akurat biasanya menggunakan pendapatan per kapita atau skala ekivalensi, namun dalam praktik kebijakan, penyederhanaan sering terjadi.

Metaforanya seperti membagi satu kue dengan ukuran sama kepada dua meja. Di meja pertama duduk dua orang, di meja kedua duduk enam orang. Kue yang sama akan terasa cukup di meja pertama, tetapi menjadi sangat tipis di meja kedua. Desil yang tidak mempertimbangkan struktur keluarga membuat kebijakan terlihat adil di atas kertas, tetapi timpang dalam kenyataan.

Kesalahan kelima adalah efek ambang atau cliff effect. Ketika kebijakan menetapkan batas tegas antara desil yang mendapat subsidi dan yang tidak, maka orang yang berada sedikit di atas batas akan kehilangan manfaat secara drastis. Misalnya rumah tangga di batas atas desil tiga mendapat subsidi penuh, sedangkan rumah tangga di batas bawah desil empat tidak mendapat subsidi. Padahal perbedaan pendapatan keduanya mungkin sangat kecil. Dalam perspektif kesejahteraan, loncatan kewajiban iuran bisa lebih besar daripada selisih pendapatan yang dimiliki.

Fenomena ini menciptakan rasa ketidakadilan dan bisa memicu perilaku strategis seperti menyembunyikan pendapatan agar tetap berada di desil yang lebih rendah. Secara ekonomi, hal ini dikenal sebagai distorsi insentif. Kebijakan yang terlalu kaku pada batas desil dapat mendorong ketidakjujuran atau menghambat mobilitas pendapatan karena orang takut kehilangan subsidi.

Kesalahan keenam adalah menganggap bahwa distribusi pendapatan dalam desil bersifat homogen. Dalam satu desil, terdapat variasi besar antar rumah tangga. Beberapa mungkin berada tepat di bawah batas atas desil, sementara lainnya jauh di bawah batas bawah desil tersebut. Namun kebijakan sering memperlakukan mereka sebagai kelompok yang seragam. Dalam istilah statistik, varians dalam kelompok diabaikan. Padahal dalam banyak distribusi pendapatan, terutama di desil bawah, heterogenitas bisa sangat tinggi karena terdapat kombinasi pekerja informal, lansia tanpa pensiun, dan rumah tangga dengan tanggungan disabilitas.

Jika kita kembali ke metafora tangga, orang orang yang berdiri pada satu anak tangga tidak semuanya berdiri di posisi yang sama. Ada yang dekat ke tepi atas, ada yang hampir terjatuh ke bawah. Menyebut mereka dengan label yang sama tidak serta merta mencerminkan kondisi masing masing.

Kesalahan ketujuh berkaitan dengan aset dan kekayaan. Desil biasanya didasarkan pada pendapatan, bukan kekayaan bersih. Rumah tangga dengan pendapatan rendah tetapi memiliki aset besar seperti tanah atau properti mungkin secara jangka panjang lebih sejahtera dibandingkan rumah tangga dengan pendapatan sedikit lebih tinggi tetapi tanpa aset sama sekali dan memiliki utang. Dalam konteks iuran kesehatan, kemampuan membayar tidak hanya bergantung pada pendapatan bulanan, tetapi juga pada cadangan yang bisa digunakan saat krisis.

Secara empiris, survei kekayaan rumah tangga sering menunjukkan bahwa distribusi kekayaan lebih timpang daripada distribusi pendapatan. Banyak rumah tangga berada pada posisi rentan karena tidak memiliki tabungan yang cukup untuk menutupi pengeluaran darurat selama beberapa bulan. Jika kebijakan iuran hanya melihat desil pendapatan tanpa memperhitungkan kerentanan aset, maka risiko gagal bayar meningkat dan keberlanjutan sistem terganggu.

Kesalahan kedelapan adalah kurangnya integrasi dengan indikator non moneter. Kesejahteraan juga mencakup akses terhadap pendidikan, sanitasi, air bersih, dan layanan kesehatan itu sendiri. Indeks kemiskinan multidimensi mencoba menangkap dimensi dimensi ini. Seseorang bisa berada di desil pendapatan menengah tetapi tinggal di daerah terpencil tanpa fasilitas kesehatan memadai. Dalam situasi demikian, kewajiban membayar iuran mungkin terasa tidak proporsional dengan manfaat yang diterima.

Metaforanya seperti membayar tiket bioskop dengan harga penuh tetapi layar di studio tempat kita duduk buram dan suara tidak jelas. Secara nominal kita dianggap mampu membeli tiket, tetapi kualitas layanan yang diterima tidak setara dengan harga yang dibayar.

Kesalahan kesembilan adalah penggunaan data yang tertinggal. Survei pendapatan biasanya dilakukan secara periodik dan hasilnya digunakan untuk beberapa tahun. Dalam periode tersebut, kondisi ekonomi bisa berubah drastis akibat inflasi, krisis ekonomi, atau pandemi. Jika desil tidak diperbarui secara cepat, maka klasifikasi kesejahteraan menjadi usang. Dalam masa krisis, banyak rumah tangga yang turun kelas secara ekonomi dalam waktu singkat, tetapi sistem berbasis desil mungkin masih menganggap mereka berada di posisi lama.

Kesalahan kesepuluh adalah reduksi kompleksitas menjadi angka tunggal. Kesejahteraan adalah fenomena multidimensi, sedangkan desil adalah kategori ordinal. Mengubah realitas sosial menjadi satu angka peringkat memang memudahkan administrasi, tetapi juga berisiko menyederhanakan secara berlebihan. Dalam ilmu sosial, terdapat perdebatan panjang tentang trade off antara kesederhanaan kebijakan dan akurasi representasi. Sistem yang terlalu kompleks sulit diimplementasikan, tetapi sistem yang terlalu sederhana berisiko tidak adil.

Dalam konteks pembayaran iuran kesehatan, tujuan utama adalah menciptakan sistem yang berkelanjutan dan adil. Artinya mereka yang mampu berkontribusi lebih besar membantu mereka yang kurang mampu, dan semua memperoleh akses terhadap layanan kesehatan yang layak. Jika desil digunakan tanpa koreksi, maka ia bisa menjadi alat klasifikasi yang kaku, bukan instrumen keadilan.

Pendekatan alternatif dapat mencakup kombinasi antara pendapatan, pengeluaran, kepemilikan aset, dan indikator kerentanan. Data administrasi perpajakan, data bantuan sosial, serta pemutakhiran berbasis komunitas dapat memperkaya informasi. Selain itu, penggunaan skema iuran progresif yang lebih halus tanpa lompatan tajam antar kelompok dapat mengurangi efek ambang. Alih alih membagi menjadi sepuluh kelompok dengan batas tegas, sistem dapat menggunakan formula persentase tertentu dari pendapatan dengan batas minimum dan maksimum yang wajar.

Namun bahkan pendekatan berbasis persentase pendapatan memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam ekonomi dengan sektor informal besar. Banyak pendapatan tidak tercatat secara resmi, sehingga verifikasi menjadi sulit. Di sinilah pentingnya kombinasi data kuantitatif dan penilaian kualitatif di tingkat lokal. Aparat desa atau komunitas sering memiliki pengetahuan kontekstual tentang kondisi warganya yang tidak tertangkap dalam survei.

Metafora yang bisa membantu adalah melihat kesejahteraan sebagai kesehatan tanah di sebuah kebun. Kita tidak bisa hanya mengukur satu unsur hara untuk menentukan apakah tanaman akan tumbuh subur. Kita perlu melihat kelembapan, tekstur tanah, sinar matahari, dan keberadaan hama. Desil pendapatan adalah satu unsur hara, penting tetapi tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan kondisi.

Secara intelektual, kritik terhadap penggunaan desil sejalan dengan teori kesejahteraan yang dikembangkan oleh Amartya Sen tentang kapabilitas. Menurut pendekatan ini, kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh sumber daya yang dimiliki, tetapi oleh kemampuan nyata seseorang untuk menjalani kehidupan yang ia nilai berharga. Iuran kesehatan berkaitan langsung dengan kemampuan untuk mengakses layanan medis ketika dibutuhkan. Jika penetapan iuran menghambat kelompok rentan untuk mempertahankan kapabilitas dasar mereka, maka tujuan kesejahteraan sosial tidak tercapai.

Selain itu, analisis distribusi menunjukkan bahwa kebijakan publik sebaiknya mempertimbangkan kurva konsentrasi dan indeks progresivitas. Jika iuran sebagai proporsi pendapatan lebih besar bagi kelompok bawah dibandingkan kelompok atas, maka sistem bersifat regresif. Penggunaan desil tanpa perhitungan proporsi dapat menyembunyikan sifat regresif tersebut. Misalnya iuran flat sebesar jumlah tertentu mungkin tampak kecil secara nominal, tetapi bagi desil bawah ia bisa setara dengan persentase besar dari pendapatan bulanan.

Dalam praktiknya, banyak negara yang menerapkan skema pembiayaan kesehatan sosial menghadapi dilema serupa. Beberapa mengadopsi pendekatan berbasis pajak umum sehingga kontribusi dikaitkan dengan sistem perpajakan yang progresif. Yang lain menggunakan kombinasi iuran pekerja formal dan subsidi pemerintah untuk sektor informal. Intinya adalah pengakuan bahwa kemampuan membayar tidak bisa direduksi menjadi klasifikasi statis semata.

Kesimpulannya, penggunaan desil untuk melihat kesejahteraan masyarakat dalam pembayaran iuran kesehatan adalah alat yang berguna tetapi terbatas. Ia seperti peta yang membantu kita melihat gambaran besar, namun tidak menunjukkan detail jalan berlubang atau jembatan rapuh yang harus dilalui. Jika kebijakan hanya berpegang pada peta tanpa melihat kondisi nyata di lapangan, maka risiko kesalahan meningkat. Pendekatan yang lebih adil memerlukan kombinasi data, pemahaman kontekstual, serta kesadaran bahwa kesejahteraan adalah konsep yang hidup dan berubah, bukan sekadar posisi pada anak tangga statistik.

Posting Komentar

0 Komentar