Di Kelas Saya Mengajar Kejujuran, di Luar Mereka Belajar Nepotisme

Saya seorang guru. Saya mengajar di ruang kelas yang setiap harinya dipenuhi suara kursi digeser, buku dibuka, dan pertanyaan yang kadang sederhana namun bisa menghantam kesadaran saya lebih keras daripada kritik orang dewasa. Sejak pertama kali memilih profesi ini, saya percaya bahwa pendidikan adalah cara paling masuk akal untuk membangun bangsa. Saya percaya bahwa sekolah adalah tempat paling tepat untuk menanamkan nilai yang baik, membentuk karakter, dan mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan. Saya percaya bahwa ketika seorang anak belajar bersungguh-sungguh, ia berhak bermimpi. Ia berhak berharap. Ia berhak percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Di awal karier saya, keyakinan itu terasa utuh. Saya melihat mata murid murid berbinar ketika memahami materi. Saya melihat mereka berani berbicara tentang cita cita. Saya melihat mereka percaya bahwa hidup adalah jalan panjang yang harus ditempuh dengan kesabaran. Saya mengajarkan tentang kejujuran dan mereka mengangguk. Saya mengajarkan tentang kerja keras dan mereka mencatat. Saya mengajarkan tentang disiplin dan mereka berusaha. Di dalam ruang kelas, dunia seperti tertata. Ada aturan yang jelas. Ada konsekuensi yang adil. Ada nilai yang bisa diukur. Ada prestasi yang bisa diperjuangkan. Ada penghargaan yang layak diraih.

Namun semakin lama, saya mulai merasakan retakan yang halus namun terus membesar. Bukan retakan pada dinding kelas, melainkan retakan pada kepercayaan murid murid saya terhadap makna pendidikan itu sendiri. Mereka masih datang ke sekolah, masih mengerjakan tugas, masih mengikuti ujian, tetapi ada sesuatu yang berubah. Perubahan itu bukan pada kebiasaan, melainkan pada cara mereka memandang hidup. Ada semacam sinisme yang tumbuh, pelan pelan namun pasti. Ada kecurigaan yang mengendap. Ada kesimpulan pahit yang mereka susun bukan dari teori, melainkan dari realitas yang mereka lihat setiap hari.

Saya mulai menyadari bahwa murid murid saya tidak lagi hanya belajar dari saya. Mereka belajar dari apa yang terjadi di luar sekolah. Mereka belajar dari berita. Mereka belajar dari media sosial. Mereka belajar dari percakapan orang tua di rumah. Mereka belajar dari keluhan tetangga tentang harga kebutuhan pokok. Mereka belajar dari cerita orang dewasa tentang pekerjaan yang sulit didapat. Mereka belajar dari fenomena jabatan yang terasa seperti milik kelompok tertentu. Mereka belajar dari kenyataan bahwa di negeri yang katanya kaya, terlalu banyak orang yang hidup dalam kekurangan. Mereka belajar dari satu hal yang paling berbahaya bagi masa depan bangsa, yakni ketika mereka melihat ketidakadilan lalu menganggapnya sebagai hal biasa.

Sebagai guru, saya diminta untuk menjelaskan banyak hal. Saya diminta menjelaskan sejarah perjuangan bangsa, diminta menjelaskan nilai moral, diminta menjelaskan pentingnya belajar, diminta menjelaskan mengapa kita harus menaati aturan. Saya bisa menjelaskan semua itu dengan rapi, dengan contoh, dengan cerita, dengan analogi yang mudah dipahami. Tetapi ada satu hal yang semakin sulit saya jelaskan, yakni bagaimana sistem yang seharusnya adil bisa berubah menjadi panggung yang hanya memberi ruang bagi orang orang yang berada di lingkaran tertentu.

Saya pernah mengajarkan tentang meritokrasi. Saya menjelaskan bahwa meritokrasi adalah sistem yang menempatkan orang sesuai kemampuan dan prestasi. Saya mengatakan bahwa dalam sistem yang sehat, kesempatan terbuka bagi siapa saja yang mau berusaha. Saya mengatakan bahwa jabatan bukan hadiah, bukan warisan, bukan jatah kelompok, melainkan amanah yang harus diberikan kepada orang yang paling layak. Murid murid saya mendengarkan. Mereka mencatat. Mereka memahami konsepnya. Tetapi konsep yang dipahami di kepala tidak selalu bisa diterima oleh hati, apalagi jika hati mereka terus disodori bukti yang berlawanan.

Salah satu murid saya pernah bertanya dengan nada yang tidak menyerang, tetapi juga tidak polos. Pertanyaannya sederhana, namun di baliknya ada kekecewaan yang dalam. Ia bertanya mengapa jabatan dalam pemerintahan sering diisi oleh orang yang itu itu saja. Ia bertanya mengapa tokoh yang muncul di panggung politik selalu berasal dari kelompok yang sama. Ia bertanya mengapa kesempatan seolah tidak benar benar terbuka. Ia bertanya apakah prestasi benar benar penting, ataukah hanya slogan yang diulang ulang.

Saya terdiam. Saya bukan tidak punya jawaban. Saya punya banyak jawaban, tetapi sebagian besar jawaban itu terlalu rumit untuk anak seusianya. Sebagian jawaban lain terlalu pahit untuk diucapkan di ruang kelas. Sebagian jawaban lain justru berisiko membuat saya terlihat seperti orang yang sedang mengajarkan kebencian. Padahal saya tidak ingin menanamkan kebencian. Saya ingin menanamkan keberanian untuk berpikir. Saya ingin menanamkan kesadaran untuk membedakan yang benar dan yang salah. Saya ingin menanamkan kemampuan untuk melihat pola dan memahami akibat.

Di titik itulah saya merasakan beban moral seorang guru. Saya bukan hanya mengajar matematika, bahasa, atau sejarah. Saya juga mengajar tentang hidup. Saya mengajar tentang nilai. Saya mengajar tentang cara menjadi warga negara yang baik. Tetapi bagaimana saya bisa mengajarkan nilai nilai itu dengan meyakinkan jika sistem di luar sana sering mempertontonkan kebalikannya. Bagaimana saya bisa meminta murid murid saya percaya pada proses, jika mereka melihat proses bisa dikalahkan oleh kedekatan. Bagaimana saya bisa mengajarkan bahwa kerja keras adalah kunci, jika mereka melihat pintu pintu besar lebih sering dibuka oleh koneksi. Bagaimana saya bisa berkata bahwa kejujuran itu penting, jika mereka melihat kebohongan bisa dipoles menjadi kebenaran dan pelakunya tetap dihormati.

Negara ini sering disebut kaya. Kita punya sumber daya alam yang melimpah. Kita punya tanah yang luas, laut yang besar, kekayaan yang seharusnya cukup untuk membuat rakyat hidup layak. Tetapi kenyataan tidak selalu seindah potensi. Kekayaan itu seperti air yang mengalir deras namun tidak pernah benar benar sampai ke ladang yang kering. Ada bagian yang tergenang, ada bagian yang kebanjiran, sementara ada bagian lain yang tetap haus. Ketika kekayaan hanya berputar di lingkaran tertentu, maka yang terjadi bukan sekadar ketimpangan ekonomi. Yang terjadi adalah ketimpangan harapan.

Ketika anak anak melihat bahwa negara kaya tetapi rakyatnya banyak yang miskin, mereka mulai bertanya. Ketika mereka melihat pejabat hidup mewah sementara masyarakat kecil dihimpit kebutuhan, mereka mulai menilai. Ketika mereka melihat sebagian orang bisa memperoleh fasilitas dan perlindungan, sementara sebagian lain harus berjuang sendirian, mereka mulai membandingkan. Dan ketika mereka menyimpulkan bahwa hidup tidak adil, mereka tidak selalu marah. Kadang mereka justru menjadi apatis. Mereka berhenti peduli. Mereka berhenti percaya. Mereka memilih untuk fokus menyelamatkan diri sendiri.

Inilah awal kehancuran yang sesungguhnya. Kehancuran sebuah negara tidak selalu dimulai dari krisis besar atau perang. Kehancuran bisa dimulai dari hal yang tampak kecil, yakni hilangnya kepercayaan. Ketika rakyat tidak lagi percaya bahwa sistem bekerja untuk semua, maka mereka tidak lagi merasa punya kewajiban moral untuk menjaga sistem itu. Ketika generasi muda tidak lagi percaya bahwa prestasi dihargai, maka mereka tidak lagi merasa perlu berprestasi dengan cara yang benar. Ketika anak anak melihat bahwa yang naik bukan yang kompeten, maka mereka belajar bahwa kompetensi tidak penting. Mereka belajar bahwa yang penting adalah menjadi bagian dari lingkaran yang tepat.

Meritokrasi bukan hanya konsep politik atau ekonomi. Meritokrasi adalah fondasi psikologis yang membuat rakyat percaya bahwa hidup punya keadilan minimal. Meritokrasi membuat orang miskin tetap mau belajar karena percaya bahwa pendidikan bisa mengubah nasib. Meritokrasi membuat orang biasa tetap mau bekerja keras karena percaya bahwa usaha bisa membawa kemajuan. Meritokrasi membuat masyarakat mau mematuhi aturan karena percaya bahwa aturan berlaku untuk semua. Ketika meritokrasi digantikan oleh nepotisme dan oligarki, yang runtuh bukan hanya sistem rekrutmen jabatan. Yang runtuh adalah logika moral sebuah bangsa.

Saya melihat dampaknya di ruang kelas. Saya melihat murid murid yang pintar tetapi mulai malas bertanya karena merasa percuma. Saya melihat murid murid yang rajin tetapi mulai kehilangan semangat karena merasa dunia tidak menghargai kejujuran. Saya melihat murid murid yang dulu berapi api membicarakan masa depan, kini lebih sering tertawa sinis ketika mendengar kata integritas. Mereka tidak membenci nilai nilai itu karena nilai itu salah. Mereka membenci karena nilai itu terasa seperti lelucon dalam realitas yang mereka saksikan.

Di suatu hari, saya mengajar tentang etika. Saya menjelaskan bahwa manusia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Saya menjelaskan bahwa kesalahan harus diakui dan diperbaiki. Saya menjelaskan bahwa jabatan adalah amanah. Di tengah penjelasan, seorang murid menyela dengan wajah serius. Ia berkata bahwa ia melihat orang yang jelas jelas salah tetap aman. Ia melihat orang yang gagal tetap diberi posisi. Ia melihat orang yang melanggar tetap dilindungi. Ia berkata bahwa sepertinya negara tidak benar benar peduli pada kebenaran, melainkan peduli pada siapa yang punya kuasa.

Saya ingin menyangkal, tetapi saya tidak bisa. Saya ingin berkata bahwa tidak semuanya seperti itu, tetapi saya juga tidak ingin berbohong. Saya ingin memberi harapan, tetapi saya juga tidak ingin menipu. Pada saat seperti itu, saya merasa profesi guru seperti berada di antara dua jurang. Di satu sisi, saya harus menjaga semangat murid murid saya agar tidak hancur. Di sisi lain, saya tidak boleh menutup mata mereka terhadap realitas. Saya harus mengajarkan mereka untuk berpikir kritis, tetapi saya juga harus mengajarkan mereka untuk tidak menjadi destruktif. Saya harus mengajarkan mereka untuk melawan ketidakadilan, tetapi saya juga harus mengajarkan mereka untuk tidak kehilangan kemanusiaan.

Ketika jabatan hanya berputar di kelompok tertentu, dampaknya jauh lebih luas daripada sekadar kecemburuan sosial. Dampaknya adalah stagnasi. Sistem yang tidak memberi ruang bagi kompetensi akan melahirkan kebijakan yang buruk. Kebijakan yang buruk akan menghasilkan pelayanan publik yang buruk. Pelayanan publik yang buruk akan menurunkan kualitas hidup rakyat. Ketika rakyat menderita, negara akan berkata bahwa rakyat harus bersabar. Ketika rakyat protes, negara akan berkata bahwa rakyat harus tertib. Tetapi yang jarang diakui adalah bahwa akar persoalan sering kali bukan pada rakyat, melainkan pada sistem yang menolak meritokrasi.

Di pemerintahan, keputusan yang salah bisa berakibat besar. Satu kebijakan yang dibuat tanpa kompetensi bisa memengaruhi jutaan orang. Satu proyek yang dijalankan tanpa integritas bisa menghabiskan anggaran besar. Satu jabatan yang diberikan karena kedekatan, bukan kemampuan, bisa menghambat kemajuan bertahun tahun. Dan semua itu terjadi bukan karena negara kekurangan orang pintar. Negara ini penuh orang pintar. Negara ini penuh orang kompeten. Tetapi ketika pintu kekuasaan dijaga oleh kelompok yang sama, orang pintar yang tidak punya akses akan tersingkir. Mereka akan frustrasi. Mereka akan pergi. Mereka akan memilih bekerja di tempat lain. Mereka akan memilih diam. Mereka akan memilih menyerah.

Lalu negara kehilangan talenta terbaiknya. Negara kehilangan energi terbaiknya. Negara kehilangan pikiran paling jernihnya. Dan yang tersisa adalah mereka yang pandai menjaga kedekatan, pandai memainkan loyalitas, pandai menyenangkan atasan, tetapi tidak selalu pandai menyelesaikan masalah rakyat. Inilah ironi besar. Negara yang kaya bisa menjadi negara yang rapuh jika kekayaannya tidak dikelola oleh orang yang kompeten dan jujur.

Saya sering mendengar kalimat bahwa pendidikan adalah kunci. Saya setuju. Tetapi pendidikan tidak bisa bekerja sendirian. Pendidikan bukan sulap yang bisa memperbaiki negara jika negara justru merusak nilai yang diajarkan pendidikan. Ketika sekolah mengajarkan integritas tetapi negara mempertontonkan kompromi moral, maka murid murid akan belajar bahwa integritas hanya berlaku di ruang ujian, bukan di dunia nyata. Ketika sekolah mengajarkan disiplin tetapi negara mempertontonkan ketidakteraturan, murid murid akan belajar bahwa disiplin hanya untuk orang kecil. Ketika sekolah mengajarkan keadilan tetapi negara mempertontonkan ketimpangan hukum, murid murid akan belajar bahwa keadilan adalah kata yang indah namun tidak punya gigi.

Saya ingin murid murid saya menjadi generasi yang kuat. Saya ingin mereka menjadi generasi yang berani. Tetapi keberanian yang saya maksud bukan keberanian untuk marah tanpa arah. Keberanian yang saya maksud adalah keberanian untuk menuntut sistem yang benar. Keberanian untuk menolak normalisasi nepotisme. Keberanian untuk menolak budaya orang dalam. Keberanian untuk menolak jabatan sebagai warisan. Keberanian untuk berkata bahwa negara tidak boleh dikelola seperti perusahaan keluarga.

Masalahnya, negara yang tidak meritokratis selalu punya mekanisme untuk membungkam kritik. Kritik dianggap gangguan. Kritik dianggap ancaman. Kritik dianggap pembangkangan. Padahal kritik adalah tanda bahwa masyarakat masih peduli. Ketika masyarakat berhenti mengkritik, itu bukan berarti negara sudah baik. Itu bisa berarti masyarakat sudah putus asa. Dan putus asa adalah musuh terbesar bangsa. Putus asa membuat orang tidak lagi mau membangun. Putus asa membuat orang hanya ingin mengambil keuntungan secepat mungkin. Putus asa membuat orang memilih jalan pintas. Putus asa membuat orang tidak lagi percaya pada aturan. Ketika putus asa menjadi budaya, negara akan runtuh dari dalam.

Ada satu hal yang sering tidak disadari oleh mereka yang menikmati sistem yang tidak adil. Mereka kira ketidakadilan bisa dikelola selamanya. Mereka kira rakyat bisa terus disuruh sabar. Mereka kira generasi muda bisa terus diberi slogan. Mereka kira media bisa terus dipakai untuk menutupi kenyataan. Tetapi sejarah membuktikan bahwa ketidakadilan selalu punya batas. Ketika ketidakadilan mencapai titik tertentu, akan lahir ledakan. Ledakan itu bisa berupa kerusuhan, bisa berupa gelombang migrasi besar besaran, bisa berupa runtuhnya kepercayaan pada institusi, bisa berupa pembusukan moral yang meluas. Dan semua itu berbahaya.

Saya sebagai guru melihat tanda tanda awal kehancuran itu bukan di jalanan, tetapi di pikiran murid murid saya. Saya melihat bagaimana mereka mulai memaklumi nepotisme. Saya melihat bagaimana mereka mulai menertawakan idealisme. Saya melihat bagaimana mereka mulai berkata bahwa yang penting bukan menjadi orang baik, tetapi menjadi orang yang menang. Ketika menang menjadi tujuan utama, cara apa pun akan dianggap sah. Ketika cara apa pun dianggap sah, maka korupsi bukan lagi dosa, melainkan strategi. Ketika korupsi dianggap strategi, maka negara akan kehilangan masa depannya.

Inilah mengapa saya mengatakan bahwa ketika kekayaan negara hanya berputar di lingkaran itu itu saja dan jabatan hanya berputar di kelompok itu saja, kehancuran negara sudah mulai. Kehancuran itu dimulai dari ketidakadilan struktural. Kehancuran itu dimulai dari pembunuhan meritokrasi. Kehancuran itu dimulai dari normalisasi kebusukan. Dan kehancuran itu akan selesai ketika rakyat, terutama generasi muda, berhenti percaya pada kebaikan.

Saya tidak ingin murid murid saya kehilangan harapan. Saya tidak ingin mereka menjadi generasi yang sinis. Saya tidak ingin mereka menjadi generasi yang hanya ingin selamat sendiri. Saya ingin mereka menjadi generasi yang membangun, bukan menghancurkan. Tetapi untuk itu, mereka perlu melihat contoh. Mereka perlu melihat bahwa kejujuran bukan kelemahan. Mereka perlu melihat bahwa kerja keras bukan kebodohan. Mereka perlu melihat bahwa prestasi bukan pajangan. Mereka perlu melihat bahwa jabatan benar benar diberikan kepada yang layak.

Jika pemerintah ingin rakyatnya percaya pada pendidikan, maka pemerintah harus percaya pada meritokrasi. Jika pemerintah ingin rakyatnya menghormati aturan, maka pemerintah harus menegakkan aturan tanpa pandang bulu. Jika pemerintah ingin generasi muda mencintai negara, maka pemerintah harus berhenti memperlakukan negara seperti milik kelompok tertentu. Karena negara bukan milik lingkaran. Negara bukan milik keluarga. Negara bukan milik jaringan. Negara adalah milik rakyat.

Saya sering membayangkan masa depan. Saya membayangkan murid murid saya kelak menjadi pemimpin, menjadi pengusaha, menjadi birokrat, menjadi ilmuwan, menjadi apa pun yang mereka pilih. Saya membayangkan mereka membawa nilai nilai yang saya ajarkan. Tetapi saya juga takut. Saya takut bahwa suatu hari mereka akan berkata bahwa nilai nilai itu tidak relevan. Saya takut bahwa suatu hari mereka akan berkata bahwa saya hanya mengajarkan teori yang tidak hidup. Saya takut bahwa suatu hari mereka akan mengingat sekolah sebagai tempat mereka belajar menjadi jujur, lalu keluar dan melihat bahwa dunia justru memberi hadiah pada kebohongan.

Saya tidak ingin itu terjadi. Karena jika itu terjadi, maka yang gagal bukan hanya saya sebagai guru. Yang gagal adalah negara sebagai teladan.

Negara adalah guru terbesar. Negara mengajar rakyatnya melalui kebijakan, melalui contoh, melalui tindakan. Jika negara mengajar nepotisme, rakyat akan belajar nepotisme. Jika negara mengajar ketidakadilan, rakyat akan belajar ketidakadilan. Jika negara mengajar bahwa jabatan adalah transaksi, rakyat akan belajar bahwa segalanya bisa dibeli. Jika negara mengajar bahwa kompetensi bisa dikalahkan oleh kedekatan, rakyat akan belajar bahwa belajar tidak penting. Dan ketika rakyat berhenti percaya pada belajar, maka masa depan bangsa akan gelap.

Maka saya menulis esai ini bukan untuk mengeluh. Saya menulis ini sebagai peringatan. Saya menulis ini sebagai cermin. Saya menulis ini sebagai suara seorang guru yang berada di garis depan pembentukan generasi, yang melihat langsung bagaimana sistem politik dan pemerintahan bisa memengaruhi psikologi anak anak di ruang kelas.

Jika kita ingin menyelamatkan negara, kita harus menyelamatkan meritokrasi. Kita harus menyelamatkan keadilan. Kita harus menyelamatkan rasa malu. Kita harus menyelamatkan integritas. Kita harus menghentikan budaya jabatan yang berputar di lingkaran sempit. Kita harus menghentikan kekayaan yang hanya menumpuk di puncak. Kita harus membuka ruang bagi kompetensi. Kita harus memberi kesempatan pada yang layak, bukan pada yang dekat.

Sebab jika tidak, maka kehancuran negara bukan lagi ancaman. Kehancuran negara adalah proses yang sedang berjalan.

Dan saya, sebagai guru, akan terus berdiri di depan kelas, menulis kata kejujuran di papan tulis, dan berharap bahwa suatu hari kata itu tidak lagi terdengar seperti lelucon. Saya berharap suatu hari murid murid saya bisa melihat negara yang menghidupkan nilai yang saya ajarkan. Saya berharap suatu hari saya bisa menjelaskan meritokrasi tanpa merasa seperti sedang menipu. Saya berharap suatu hari negara ini benar benar memberi ruang pada yang terbaik, bukan hanya pada yang terdekat.

Karena jika negara ingin bertahan, negara harus kembali pada prinsip paling dasar. Kekuasaan bukan milik kelompok. Kekayaan bukan milik lingkaran. Jabatan bukan warisan. Negara bukan milik segelintir orang.

Negara adalah milik rakyat. Dan rakyat berhak atas keadilan.

Posting Komentar

0 Komentar