Kitab yang Tak Terbeli dan Doa yang Terlambat

 Berita tentang seorang anak sekolah dasar yang meninggal karena tidak mampu membeli buku tulis dan alat tulis beredar seperti angin yang dingin dan menusuk. Ia datang tanpa mengetuk dan langsung duduk di dada nurani bangsa. Kita membaca lalu menghela napas lalu menggulir layar dan kembali pada rutinitas. Di negeri yang rajin berdoa dan fasih mengucap syukur ini kematian seorang anak karena selembar buku terasa seperti kisah yang terlalu absurd untuk nyata namun terlalu nyata untuk ditolak. Satire pun lahir bukan untuk menertawakan korban melainkan untuk menelanjangi kepalsuan yang telah lama kita rawat bersama dengan khusyuk.



Pendidikan selalu disebut sebagai jalan keselamatan. Ia dipuja seperti anak emas dalam pidato. Ia diarak seperti arca suci dalam upacara. Namun di luar podium pendidikan sering dibiarkan berjalan tanpa alas kaki di jalan berbatu. Kita mengajarkan anak tentang cita cita setinggi langit sambil lupa menyediakan tangga untuk memanjat. Kita berkata sekolah adalah ibadah tetapi memungut biaya seperti pedagang yang takut rugi. Di sinilah satire mulai bekerja pelan pelan seperti doa yang dibaca terbalik bukan karena iman kurang melainkan karena arah kompas moral kita sudah lama bengkok.

Agama mengajarkan bahwa ilmu adalah cahaya. Kitab kitab suci dipenuhi perintah membaca menulis dan merenung. Namun cahaya itu di negeri ini sering dijual per lumen. Anak miskin diminta bersabar seakan sabar adalah mata uang yang sah untuk membayar buku. Kita mengutip ayat tentang keutamaan menuntut ilmu sambil menutup mata ketika pintu sekolah terkunci bagi yang tak mampu. Kita menasihati agar ikhlas padahal yang lebih tepat adalah adil. Ikhlas sering dijadikan plester untuk menutup luka yang sengaja dibiarkan menganga.

Dalam khotbah hari besar kita mendengar cerita tentang pemimpin adil yang memadamkan lampu negara saat urusan keluarga. Kita terharu dan berjanji meneladani. Namun di praktik sehari hari lampu negara menyala terang untuk kepentingan segelintir orang sementara ruang kelas redup dan papan tulis retak. Satire menemukan ladangnya di sini ketika teladan dijadikan hiasan dinding bukan kompas kebijakan. Kita bangga pada simbol kesalehan namun alergi pada konsekuensi moralnya.

Anak yang tak bisa membeli buku bukan hanya korban kemiskinan keluarga. Ia adalah korban dari sistem yang menormalkan ketimpangan. Kita menyebutnya nasib seolah nasib turun dari langit tanpa perantara manusia. Padahal nasib sering disusun rapi di meja rapat lengkap dengan anggaran dan prioritas. Ketika anggaran pendidikan tersedot ke proyek yang lebih fotogenik sementara kebutuhan dasar murid diabaikan kita menyaksikan teologi anggaran yang ganjil. Tuhan disebut dalam pembukaan rapat namun absen dalam penutup keputusan.

Satire intelektual mengajak kita bertanya dengan senyum pahit mengapa sekolah gratis masih membutuhkan biaya. Mengapa seragam lebih penting dari buku. Mengapa rapor lebih sakral dari perut kenyang. Kita mengukur kecerdasan dengan angka namun lupa mengukur empati dengan tindakan. Kita sibuk menilai akreditasi gedung sementara anak menulis di udara karena kertas tak tersedia. Di sini agama sering dipanggil sebagai penghibur bukan penuntut keadilan. Padahal dalam tradisi iman keadilan adalah ibadah yang paling konkret.

Ada ironi ketika negara rajin mengadakan lomba literasi sementara akses pada alat literasi masih menjadi barang mewah. Kita merayakan hari buku dengan poster warna warni sementara buku di tangan anak hanya mimpi. Kita memuja statistik peningkatan partisipasi sekolah tanpa bertanya kualitas pengalaman belajar. Statistik seperti tasbih yang dihitung berulang ulang menenangkan jari namun tidak selalu menenangkan hati. Angka bisa jujur namun juga bisa sopan menyembunyikan tragedi.

Agama mengajarkan bahwa kemiskinan dekat dengan kekufuran. Namun kita sering memaknai kalimat itu sebagai ancaman moral bagi si miskin bukan sebagai peringatan struktural bagi si berkuasa. Kita meminta orang miskin untuk lebih religius agar kuat menghadapi cobaan. Jarang kita meminta kebijakan agar lebih religius dengan menegakkan keadilan distribusi. Satire menampar lembut dengan pertanyaan sederhana siapa yang lebih dekat pada nilai iman mereka yang sabar menderita atau mereka yang bisa mencegah penderitaan namun memilih menunda.

Kematian seorang anak karena ketiadaan buku adalah cermin retak yang memantulkan wajah kita semua. Orang tua yang terhimpit. Guru yang serba kekurangan. Birokrat yang terjebak prosedur. Elite yang terbuai simbol. Kita semua hadir dalam tragedi itu dengan porsi berbeda. Satire tidak menunjuk satu wajah untuk disalahkan. Ia menunjuk kebiasaan kolektif yang membiarkan tragedi menjadi berita harian tanpa tindak lanjut bermakna.

Di ruang kelas guru mengajarkan nilai kejujuran. Di luar kelas anak melihat dunia di mana kejujuran kalah oleh koneksi. Di buku agama anak membaca tentang kasih sayang. Di realitas ia belajar bahwa kasih sayang sering bersyarat. Pendidikan karakter menjadi jargon sementara karakter kebijakan tak pernah diuji. Satire bertanya apakah kita mendidik anak untuk dunia yang adil atau hanya untuk bertahan di dunia yang timpang.

Agama sering dipakai sebagai penutup perdebatan. Ketika kritik muncul kita diminta bersyukur. Ketika tuntutan keadilan menguat kita diingatkan untuk tidak iri. Syukur dan sabar adalah kebajikan luhur namun bukan alasan untuk membekukan perubahan. Dalam tradisi iman syukur berjalan bersama ikhtiar dan sabar berdampingan dengan perlawanan terhadap kezaliman. Satire menolak pemiskinan makna yang menjadikan agama sebagai selimut nyaman bagi status quo.

Kita suka kisah anak miskin yang sukses sebagai bukti bahwa sistem bekerja. Kita mengangkat satu dua nama sebagai mukjizat meritokrasi. Kita lupa bahwa mukjizat adalah pengecualian bukan desain. Mengandalkan mukjizat untuk kebijakan publik adalah teologi yang malas. Agama mengajarkan sebab akibat kerja keras dan keadilan. Satire mengingatkan bahwa keajaiban tidak boleh dijadikan alibi untuk mengabaikan kewajiban struktural.

Dalam rapat pembangunan sering terdengar kata prioritas. Namun prioritas sering lebih dekat pada yang bersuara keras daripada yang paling membutuhkan. Anak miskin jarang punya mikrofon. Suaranya tenggelam oleh presentasi. Satire menertawakan keseriusan yang lupa pada substansi. Kita membuat rencana strategis tebal namun lupa satu hal tipis bernama kertas tulis. Kita menyusun kurikulum canggih namun lupa memastikan pensil ada di tangan murid.

Agama memuliakan anak. Kitab suci menyebut mereka amanah. Namun amanah sering dipahami sebagai urusan keluarga bukan urusan negara. Padahal ketika negara mengambil peran mengatur pendidikan ia juga mengambil amanah. Satire bertanya dengan nada lembut mengapa amanah berhenti di pagar rumah. Mengapa doa untuk anak lebih sering diucap daripada kebijakan untuk anak. Mengapa air mata di mimbar lebih mudah daripada alokasi yang tepat sasaran.

Kematian itu seharusnya mengguncang. Namun kita hidup di zaman guncangan cepat reda. Berita bersaing dengan hiburan. Duka beradu dengan iklan. Satire menolak lupa cepat. Ia mengikat ingatan pada kalimat panjang agar kita tersandung berkali kali oleh makna. Ia mengajak pembaca menahan layar dan menahan diri dari scroll agar satu tragedi cukup lama tinggal di hati.

Ada kebiasaan menyebut pendidikan sebagai investasi masa depan. Bahasa ekonomi merasuk ke ruang nilai. Investasi menuntut imbal hasil. Anak miskin dianggap berisiko tinggi. Maka dukungan pun selektif. Satire mengkritik logika ini dengan bahasa iman yang menyebut setiap anak berharga tanpa prasyarat. Nilai manusia tidak boleh bergantung pada proyeksi laba. Pendidikan bukan saham yang boleh dibiarkan jatuh bagi yang tak menjanjikan.

Agama juga mengajarkan zakat dan sedekah. Namun kita sering memprivatisasi kepedulian. Ketika sistem gagal kita mendorong donasi. Donasi mulia namun tidak boleh menggantikan keadilan. Satire mengingatkan bahwa sedekah adalah jembatan darurat bukan pengganti jalan raya. Negara tidak boleh bersembunyi di balik kebaikan warga untuk menutupi kelalaian struktural.

Guru berada di garis depan tragedi ini. Mereka diminta menjadi pendidik sekaligus pekerja sosial. Mereka mengumpulkan uang receh untuk murid. Mereka menutup kekurangan dengan empati. Namun empati tidak boleh dieksploitasi. Satire membela guru dari romantisasi pengorbanan yang tak berujung. Mengagungkan ketulusan tanpa memperbaiki sistem adalah cara halus memindahkan tanggung jawab.

Dalam tradisi intelektual agama ilmu dan keadilan saling menguatkan. Ulama klasik menulis tentang baitul mal dan hak publik. Satire mengajak kembali pada warisan itu bukan untuk nostalgia melainkan untuk koreksi. Jika ilmu dipisahkan dari keadilan ia menjadi alat legitimasi. Jika agama dipisahkan dari kebijakan ia menjadi ornamen. Tragedi anak tanpa buku adalah bukti perpisahan yang menyakitkan.

Kita sering berkata generasi emas. Emas berkilau namun juga berat. Tanpa fondasi ia tenggelam. Buku dan alat tulis adalah fondasi paling sederhana. Satire bertanya bagaimana mungkin kita mengejar kilau sambil mengabaikan fondasi. Kita membangun gedung tinggi tanpa memastikan pondasi literasi rata. Ketika runtuh kita menyalahkan gempa padahal retakan sudah lama terlihat.

Bahasa kebijakan kadang terlalu bersih. Ia menyapu darah dan air mata menjadi istilah teknis. Anggaran terserap. Program berjalan. Target tercapai. Satire merusak kebersihan palsu itu dengan menghadirkan wajah seorang anak. Bukan untuk memeras emosi melainkan untuk mengembalikan makna. Agama pun mengajarkan bahwa nama dan wajah penting. Manusia bukan variabel anonim.

Ada yang berkata orang tua bertanggung jawab penuh. Benar namun tidak lengkap. Tanggung jawab publik tidak menghapus tanggung jawab pribadi dan sebaliknya. Satire menolak dikotomi yang memecah kewajiban. Negara hadir bukan sebagai pengganti keluarga melainkan penopang ketika keluarga jatuh. Agama menyebut ini tolong menolong dalam kebaikan. Kebijakan yang abai adalah bentuk penelantaran kolektif.

Kematian itu seharusnya memaksa kita meninjau ulang definisi keberhasilan pendidikan. Bukan sekadar ujian dan peringkat melainkan keberlanjutan hidup. Satire menertawakan sekolah yang lulusannya pandai menghafal namun tak mampu mengubah ketidakadilan yang menewaskan teman sebangkunya. Ilmu tanpa keberpihakan adalah kemewahan dingin.



Di mimbar kita sering berdoa agar bangsa dijauhkan dari bencana. Namun ada bencana yang kita produksi pelan pelan. Bencana kebijakan. Bencana kelalaian. Satire menyebutnya dosa struktural. Istilah ini tidak populer karena ia menuntut pertobatan kolektif. Lebih mudah menyalahkan individu. Agama sejatinya berani menyebut dosa bersama agar taubat juga bersama.

Anak itu kini menjadi simbol. Namun simbol tanpa perubahan adalah patung. Satire menolak pematunggan tragedi. Ia menuntut gerak. Ia menuntut keberanian memotong prosedur yang menghambat bantuan. Ia menuntut transparansi anggaran. Ia menuntut pengakuan bahwa pendidikan dasar harus benar benar dasar dalam arti paling konkret.

Pada akhirnya kajian ini bukan untuk memaki. Ia adalah cermin satire yang dibasahi doa. Doa agar agama kembali menjadi sumber keberanian etis. Doa agar intelektualisme tidak kehilangan empati. Doa agar negara mengingat amanahnya. Dan doa agar tidak ada lagi anak yang mempertaruhkan hidup demi selembar buku. Jika doa itu dijawab dengan tindakan maka satire ini boleh berhenti. Jika tidak ia akan terus menulis panjang dan melelahkan karena tragedi tidak boleh dibiarkan singkat di ingatan.

Posting Komentar

0 Komentar