Bangga Kampus Boleh Tapi Prestasi yang Membesarkan Nama

Ada satu kebiasaan yang belakangan ini terasa makin sering muncul di sekitar kita: kebanggaan yang terlalu mudah diucapkan, tetapi terlalu jarang dibuktikan. Kebanggaan terhadap kampus, terhadap almamater, terhadap “nama besar” yang menempel di jaket, di kartu mahasiswa, di bio media sosial. Kalimat-kalimatnya terdengar gagah, seolah-olah status itu sudah cukup untuk mengangkat martabat seseorang. Padahal, kalau kita jujur menelusuri dari mana sebuah kampus bisa disebut baik, hebat, atau terpandang, jawabannya tidak pernah sesederhana peringkat, akreditasi, atau seberapa sering namanya disebut di berita. Kampus dibesarkan oleh orang-orang yang bekerja di dalamnya dan, terutama, oleh mahasiswa yang memberi makna pada nama itu lewat karya, prestasi, dan kontribusi nyata.


Yang membuat masalah ini terasa mengganggu bukan karena orang bangga pada kampusnya. Bangga itu wajar. Bangga itu manusiawi. Kita semua butuh pegangan identitas, butuh rasa memiliki, butuh sesuatu yang bisa disebut “rumah” di fase hidup tertentu. Masalahnya adalah ketika kebanggaan itu berubah menjadi topeng. Topeng untuk menutupi rasa tidak aman. Topeng untuk menghindari pekerjaan berat bernama proses. Topeng untuk mencari pengakuan tanpa perlu melewati perjuangan yang membuat pengakuan itu layak didapat. Dalam situasi seperti itu, kebanggaan kampus tidak lagi menjadi energi pendorong untuk berprestasi, melainkan sekadar dekorasi sosial, semacam aksesori yang dipakai agar terlihat “keren” di mata orang lain.

Kadang lucu, kadang juga menyedihkan, ketika kita melihat seseorang begitu lantang mengaku bangga pada kampusnya, tetapi pada saat yang sama tidak pernah benar-benar membawa nama kampus itu ke ruang-ruang pembuktian. Tidak pernah ikut kompetisi, tidak pernah tampil di ajang ilmiah, tidak pernah menantang diri untuk bikin karya yang bisa diuji, bahkan tidak pernah mencoba jadi representasi kampus dalam acara apa pun. Namun di tongkrongan, di komentar media sosial, atau saat debat, ia yang paling depan membela “kampus gue” dengan nada seperti pengacara. Seolah-olah label itu sudah cukup untuk menempatkan dirinya di posisi lebih tinggi. Padahal kebanggaan tanpa kontribusi itu seperti memuja kapal tanpa mau ikut mendayung. Kapalnya mungkin bagus, catnya mengkilap, namanya besar, tapi kalau semua penumpangnya cuma duduk pamer jaket pelaut dan menertawakan kapal lain tanpa mau bekerja, kapal itu tidak akan bergerak ke mana-mana.

Ada juga fenomena yang lebih ironis. Sebagian mahasiswa yang sudah berada di kampus, yang seharusnya sedang membangun fase baru sebagai dewasa muda, masih menaruh puncak kebanggaan pada masa SMA. Lagi-lagi, bukan salah mencintai masa SMA atau menghargai sekolah lama. Itu bagian dari sejarah hidup. Tetapi ada perbedaan antara menghargai dan terjebak. Menghargai berarti kita mengingatnya sebagai fondasi yang membentuk karakter. Terjebak berarti kita menjadikan masa itu sebagai satu-satunya sumber identitas, karena fase sekarang belum memberi sesuatu untuk dibanggakan. Seseorang bisa saja memakai cerita SMA sebagai pelipur, karena di kampus ia belum menemukan panggung pembuktian. Di sinilah kita perlu bercermin: mengapa fase yang seharusnya lebih luas peluangnya malah tidak menghasilkan hal yang bisa kita ceritakan dengan kepala tegak? Mengapa kita lebih nyaman membicarakan piala lama, tetapi enggan mengejar piala baru? Mengapa kita lebih fasih menyebut nama sekolah dulu, tetapi gagap ketika ditanya, “Selama kuliah kamu sudah ngapain?”

Aku memahami bahwa tidak semua orang punya kesempatan yang sama. Ada yang harus kerja sambil kuliah, ada yang menanggung beban keluarga, ada yang sedang berjuang dengan kondisi mental, ada yang berada di jurusan yang fasilitasnya minim, ada yang lingkungan kampusnya tidak mendukung. Hidup tidak pernah seragam. Tapi justru karena hidup tidak seragam, kebanggaan yang sehat seharusnya tidak berhenti pada simbol. Kebanggaan yang sehat justru bergerak: dari identitas menuju tanggung jawab, dari status menuju kualitas, dari “aku kuliah di sini” menuju “aku melakukan sesuatu dari sini.” Kalau kondisi seseorang memang berat, mungkin prestasi tidak harus berbentuk juara. Prestasi bisa berbentuk konsistensi. Bisa berbentuk kemampuan bertahan dan berkembang, walau pelan. Tetapi tetap ada arah, tetap ada usaha untuk membuat fase kampus ini berarti, bukan sekadar menjadi tempat menunggu waktu lulus.

Di titik ini, aku sering berpikir bahwa banyak orang keliru memahami konsep “kampus bagus.” Mereka mengira kampus bagus adalah sebab, bukan akibat. Seolah-olah begitu seseorang masuk kampus yang peringkatnya tinggi, ia otomatis menjadi “orang hebat.” Padahal kampus bagus sering kali adalah ekosistem yang terbentuk dari seleksi ketat, budaya akademik, riset dosen, dukungan fasilitas, jaringan alumni, dan tradisi kompetisi yang panjang. Kampus itu menjadi bagus karena ada sistem, ada standar, ada manusia-manusia yang tiap tahun menciptakan output berkualitas. Artinya, ketika seseorang masuk, kampus memang bisa memberi keuntungan: akses, peluang, lingkungan. Namun keuntungan itu baru berubah jadi nilai kalau orangnya mau bergerak. Kalau tidak, ia hanya menjadi penumpang yang kebetulan duduk di kursi mahal.

Aku pernah ada di fase ketika melihat kampus dalam daftar peringkat sebagai sesuatu yang tampak menentukan. Rasanya ada aura tertentu ketika orang menyebut kampus yang “top.” Ada kebanggaan kolektif, ada gengsi, ada semacam kepercayaan diri yang menular. Aku sendiri pernah keluar dari UNS pada saat posisinya berada di jajaran top ten Indonesia. Banyak orang memandang itu sebagai sesuatu yang “sayang” untuk dilepas. Seolah-olah keputusan itu otomatis salah, karena logika yang dipakai hanya logika nama besar. Tapi hidup, terutama hidup belajar, tidak selalu cocok dengan logika nama besar. Ada kebutuhan pribadi yang kadang tidak terlihat oleh orang lain. Ada pertimbangan pembelajaran yang tidak bisa disederhanakan menjadi “kampus mana yang lebih tinggi peringkatnya.” Ada hal-hal yang baru dipahami ketika kita benar-benar menjalani, bukan sekadar melihat dari luar.

Aku memilih UNJ bukan karena aku tidak menghargai reputasi UNS, tetapi karena aku belajar menempatkan pembelajaran sebagai inti, bukan label. Aku tahu kebutuhanku. Aku tahu gaya belajar yang paling membuatku berkembang. Aku melihat realitas yang aku hadapi, bukan imaji yang orang lain bangun tentang “kampus top.” Keputusan itu bukan sekadar pindah tempat, melainkan memindahkan cara pandang: dari mengejar nama menuju mengejar proses. Dari mengejar validasi sosial menuju mengejar kualitas diri. Dan itu bukan keputusan yang selalu mudah dijelaskan ke orang. Karena banyak orang tidak menilai hidup berdasarkan kecocokan, melainkan berdasarkan simbol. Mereka lebih paham kata “top ten” daripada kata “kebutuhan belajar.” Mereka lebih cepat mengerti “keren” daripada “tepat.” Padahal yang sering menyelamatkan seseorang di jangka panjang bukanlah pilihan yang terlihat keren, melainkan pilihan yang tepat.

Aku menceritakan ini bukan untuk membandingkan kampus, apalagi untuk menjelekkan yang satu dan meninggikan yang lain. Intinya justru sebaliknya: kualitas hidup akademik seseorang tidak bisa diukur hanya dari nama kampus. Ada orang di kampus biasa yang luar biasa, ada orang di kampus luar biasa yang biasa saja. Ada yang menang kompetisi internasional dari kampus yang tidak banyak orang tahu. Ada juga yang lulus dari kampus ternama tetapi tidak punya arah, karena selama kuliah ia hanya mengandalkan label. Ini bukan cerita baru, tetapi tetap saja banyak yang terjebak. Seolah-olah begitu memakai almamater tertentu, masa depan otomatis terbuka. Padahal masa depan itu lebih sering terbuka karena kemampuan yang diasah, bukan karena logo yang dipakai.

Kalau kita tarik lebih jauh, kebanggaan kampus yang tidak disertai kontribusi sering berakar pada rasa takut menghadapi ukuran nyata. Di kampus, ukuran nyata itu banyak. Ada nilai, ada proyek, ada penelitian, ada kompetisi, ada organisasi, ada magang, ada portofolio, ada publikasi, ada presentasi, ada karya yang bisa dinilai orang. Ukuran nyata itu menuntut kesiapan. Dan kesiapan itu menuntut kerja. Bagi sebagian orang, lebih mudah menghindar daripada menghadapi risiko gagal. Lebih aman bersembunyi di balik “kampus gue bagus” daripada mencoba sesuatu dan ternyata kalah. Label memberi rasa menang semu tanpa bertaruh apa pun. Inilah yang membuat kebanggaan menjadi candu. Ia memberikan rasa tinggi tanpa proses naik.

Namun hidup tidak menghormati rasa tinggi semu. Cepat atau lambat, realitas akan meminta bukti. Ketika melamar kerja, yang ditanya bukan hanya “kuliah di mana,” tetapi “kamu bisa apa.” Ketika masuk proyek, yang dibutuhkan bukan jaket almamater, tetapi kemampuan menyelesaikan masalah. Ketika terjun ke masyarakat, yang berarti bukan peringkat kampus, tetapi sikap, empati, dan keterampilan. Bahkan di dunia akademik sendiri, reputasi kampus tidak otomatis membuat seseorang disegani; yang membuat disegani adalah kualitas gagasan dan ketajaman kerja ilmiah. Jadi pertanyaannya sederhana: kalau suatu hari label itu kita lepas, apa yang tersisa dari diri kita? Apakah kita tetap punya sesuatu untuk ditawarkan, atau kita kosong karena selama ini hanya mengandalkan nama?

Kadang aku ingin mengatakan ini dengan cara paling jujur: kebanggaan pada kampus, kalau tidak disertai usaha untuk membesarkan diri, itu terasa seperti meminjam kehormatan orang lain. Karena kampus bisa disebut bagus bukan karena kita semata, melainkan karena generasi sebelumnya bekerja keras, dosen meneliti, mahasiswa berprestasi, alumni membangun reputasi, dan ekosistem yang terus memperbaiki standar. Kalau kita hanya memakai hasil kerja mereka sebagai aksesori, lalu merasa diri lebih tinggi, kita sebenarnya sedang menumpang. Dan menumpang itu tidak salah kalau disertai rasa terima kasih dan keinginan untuk memberi balik. Yang jadi masalah adalah ketika menumpang berubah menjadi sok punya, seolah-olah reputasi itu milik pribadi.

Tentu, ada juga mahasiswa yang belum punya prestasi bukan karena malas, tetapi karena belum menemukan pintu masuk. Ada yang bingung harus mulai dari mana. Ada yang merasa semua orang lain sudah jauh di depan. Ada yang takut dikomentari, takut tidak cukup pintar. Ada yang tidak punya teman seperjalanan, sehingga mudah menyerah. Untuk mereka, refleksi seperti ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membangunkan. Karena kadang seseorang butuh kalimat yang mengguncang agar bergerak. Bukan untuk membuatnya merasa hina, tetapi untuk membuatnya sadar bahwa hidupnya terlalu berharga untuk dihabiskan dalam kebanggaan kosong.

Kalau kita mau jujur pada diri sendiri, prestasi dan kontribusi itu sering dimulai dari hal yang tidak glamor. Dari kebiasaan membaca yang konsisten, bukan dari unggahan “anak kampus top.” Dari menulis berantakan berulang-ulang sampai rapi, bukan dari debat gengsi. Dari latihan presentasi sampai suara tidak gemetar, bukan dari mengumpulkan followers. Dari ikut lomba meski belum yakin menang, bukan dari menertawakan kampus lain. Dari menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh, bukan dari mencari cara paling cepat asal selesai. Dari membangun relasi yang sehat dengan dosen, teman, komunitas, bukan dari merasa paling benar karena almamater. Hal-hal begini memang tidak selalu terlihat keren. Tetapi justru itulah yang membangun kualitas. Dan kualitas inilah yang suatu hari membuat orang bisa membawa nama kampus dengan benar, bukan sekadar membawa jaket.

Ada momen-momen kecil yang sering memperlihatkan perbedaan antara kebanggaan simbol dan kebanggaan yang bertanggung jawab. Kebanggaan simbol biasanya paling ramai ketika ada rivalitas. Ketika ada perbandingan kampus A dan kampus B, orang-orang tiba-tiba menjadi “patriot.” Mereka mengutip peringkat, mengutip statistik, mengutip cerita alumni sukses. Tetapi ketika ada kesempatan nyata untuk mengangkat nama kampus, misalnya ada seleksi delegasi, ada lomba karya tulis, ada kompetisi bisnis, ada program pertukaran, orang-orang yang sama menghilang. Alasannya macam-macam: sibuk, malas, takut, tidak tertarik. Semua alasan itu mungkin valid di tingkat tertentu, tetapi kalau polanya konsisten, berarti ada yang keliru. Ada jarak antara apa yang diucapkan dan apa yang dikerjakan. Dan jarak itu lama-lama membentuk karakter: karakter yang pandai bicara, tetapi miskin hasil.

Sedangkan kebanggaan yang bertanggung jawab biasanya lebih sunyi. Orangnya tidak selalu ribut soal kampus. Bahkan kadang ia tidak suka ikut perang komentar. Ia lebih fokus mengembangkan diri. Ia memikirkan apa yang bisa ia lakukan, bukan apa yang bisa ia klaim. Ia bisa saja bangga pada kampus, tetapi kebanggaannya hadir dalam bentuk kerja. Ketika ada kompetisi, ia mencoba. Ketika ada proyek, ia serius. Ketika ada kesempatan belajar, ia ambil. Dan ketika ia gagal, ia tidak lari ke label; ia kembali ke latihan. Orang seperti ini tidak butuh banyak pembenaran. Karena hasil bicara untuk dirinya.

Di tengah refleksi ini, aku juga tidak ingin mengabaikan satu kenyataan: sistem pendidikan kita memang sering mendorong orang untuk mengejar simbol. Sejak kecil, kita diajarkan bahwa yang penting adalah nilai, ranking, sekolah favorit, universitas favorit. Kita sering dibuat percaya bahwa status institusi adalah tiket utama. Jadi wajar kalau banyak mahasiswa masih membawa pola pikir itu sampai kuliah. Mereka merasa sudah “menang” karena masuk tempat tertentu, padahal itu baru gerbang. Masuk kampus bagus itu seperti mendapat peta dan kompas, bukan seperti sampai tujuan. Kalau seseorang berhenti bergerak setelah mendapat peta, ia tidak akan pernah melihat pemandangan apa pun.

Aku berharap lebih banyak mahasiswa mau menyadari bahwa kampus, seberapa pun bagusnya, hanyalah wadah. Wadah bisa mempermudah, tetapi tidak bisa menggantikan isi. Nama kampus bisa membuka pintu, tetapi tidak bisa membuatmu bertahan di dalam ruangan kalau kamu tidak punya kemampuan. Dan kalau kita benar-benar cinta pada kampus, cara paling tulus untuk mencintainya bukan dengan memuja namanya, melainkan dengan membuat diri kita layak mewakilinya. Membawa nama kampus dalam prestasi tidak selalu berarti harus juara nasional atau internasional. Bisa juga berarti membuat karya yang bermanfaat, menulis artikel yang membantu orang lain, membangun komunitas yang sehat, mengajar adik tingkat dengan sungguh-sungguh, mengabdi di masyarakat dengan serius. Intinya, ada kontribusi. Ada bukti bahwa kehadiran kita di kampus itu menambah nilai, bukan sekadar mengambil.

Dan untuk mereka yang masih lebih bangga pada SMA, aku ingin bilang dengan jujur: mungkin kamu memang pernah bersinar di sana. Itu bagus. Itu patut dihargai. Tetapi hidup tidak berhenti di satu bab. Kalau kamu terus memegang bab lama sebagai satu-satunya sumber percaya diri, kamu sedang menunda kesempatan untuk tumbuh di bab yang sekarang. Masa SMA itu seperti fondasi. Fondasi yang kuat memang penting, tapi orang tidak tinggal di fondasi. Orang tinggal di bangunan yang dibangun di atasnya. Kuliah adalah kesempatan membangun lantai baru, memperluas ruang, memperindah arsitektur diri. Kalau kamu tidak membangun, kamu akan terus kembali menceritakan fondasi, karena tidak ada bangunan yang bisa dipamerkan.

Pengalaman pindah dari UNS ketika peringkatnya berada di top ten Indonesia dan memilih UNJ mengajarkanku bahwa keputusan belajar yang matang sering kali tidak populer. Orang lebih mudah mengapresiasi pilihan yang terlihat “naik,” bukan pilihan yang terasa “belok.” Padahal dalam hidup, belok bisa jadi cara paling tepat untuk sampai. Aku belajar bahwa yang paling menentukan bukan tempatnya, tetapi bagaimana kita memanfaatkan tempat itu. Kampus mana pun, ketika kita serius bertumbuh, akan menjadi medan pembentukan. Dan kampus mana pun, ketika kita malas, akan menjadi tempat menunggu. Jadi yang perlu ditanyakan kepada diri sendiri bukan “kampusku ranking berapa,” melainkan “aku sudah jadi apa selama di sini.”

Pada akhirnya, refleksi ini bukan ajakan untuk merendahkan siapa pun. Ini ajakan untuk jujur. Untuk berhenti bersembunyi di balik logo. Untuk berhenti meminjam kehormatan tanpa memberi balik. Untuk memindahkan kebanggaan dari mulut ke tindakan. Karena kebanggaan yang paling sehat adalah kebanggaan yang membuat kita bekerja lebih keras, bukan kebanggaan yang membuat kita merasa cukup tanpa kerja. Dan kalau suatu hari kita benar-benar membawa nama kampus dalam prestasi, kontribusi, atau karya, kebanggaan itu akan terasa berbeda. Tidak rapuh. Tidak bergantung pada validasi orang. Tidak mudah runtuh ketika ada yang mengejek. Karena kebanggaan itu lahir dari proses yang kita jalani sendiri. Kita tahu persis apa yang kita bayar untuk sampai di sana: waktu, tenaga, keringat, kegagalan, latihan, dan keberanian mencoba lagi.

Aku percaya, mahasiswa yang hebat tidak diukur dari seberapa sering ia menyebut kampusnya, tetapi dari seberapa nyata ia bertumbuh di dalamnya. Dan kampus yang benar-benar bagus bukanlah kampus yang hanya punya peringkat, melainkan kampus yang melahirkan manusia-manusia yang mampu berdiri tanpa perlu berpegangan pada peringkat itu. Kalau kita ingin bangga, mari bangga dengan cara yang benar: bangga karena kita bergerak, karena kita belajar, karena kita berproses, dan karena kita berani membuat nama kampus itu punya alasan untuk terus dihormati. Jika hari ini kita belum punya piala, tidak apa-apa. Tetapi jangan jadikan itu alasan untuk terus bersembunyi di balik piala milik orang lain. Mulailah dari hal yang bisa kita lakukan sekarang, sekecil apa pun. Sebab satu-satunya kebanggaan yang tidak memalukan adalah kebanggaan yang punya bukti, dan bukti itu selalu lahir dari keberanian untuk mulai.

Posting Komentar

0 Komentar