Tidak ada jabatan yang bernama “Penghalus Perangai”, kita sering seperti kehilangan pegangan ketika berhadapan dengan orang yang meledak-ledak, licin, sinis, atau keras kepala. Di kantor ada HR untuk urusan administrasi manusia, ada atasan untuk target dan kinerja, ada bagian kepatuhan untuk aturan, ada bagian keamanan untuk risiko. Di sekolah ada guru BK, ada wali kelas, ada tata tertib. Di masyarakat ada tokoh, ada tetua, ada pemuka, ada aparat. Namun ketika masalahnya adalah perangai, yang kasar bukan ucapannya saja melainkan cara memandang orang lain, yang tajam bukan nada suaranya saja melainkan isi hatinya, semua struktur itu terasa seperti hanya bisa menyentuh permukaan. Kita bisa menegur, memberi sanksi, memindahkan, menilai, bahkan memecat. Tetapi menghaluskan perangai bukan perkara memindahkan orang dari satu kursi ke kursi lain. Ia seperti mengubah arah angin di dalam dada, dan tak ada surat keputusan yang sanggup memerintah angin agar berembus lebih lembut.
Ketiadaan jabatan itu bukan kebetulan. Ia lahir dari kenyataan sederhana: perangai adalah wilayah terdalam manusia. Perangai terbentuk dari pengalaman kecil yang menumpuk, dari cara seseorang disambut ketika ia menangis, dari bagaimana ia belajar meminta maaf, dari apakah ia pernah diberi ruang untuk gagal tanpa dipermalukan, dari luka yang tak sempat diobati, dari teladan yang ia lihat setiap hari. Perangai juga terbentuk dari pilihan sadar: memilih menahan diri, memilih mendengar, memilih menghargai, memilih tidak memenangi setiap percakapan. Semua itu sulit ditangani oleh pihak ketiga, apalagi dengan mandat formal. Sehebat apa pun sebuah jabatan, ia bekerja dengan instrumen yang terlihat: prosedur, aturan, evaluasi, kompensasi. Sementara perangai banyak bersembunyi di tempat yang tak bisa diaudit: niat, rasa aman, harga diri, rasa takut, rasa iri, dan kebutuhan untuk diakui.
Kita sering berharap ada orang yang bisa “membenahi” orang lain. Harapan ini wajar karena hidup bersama menuntut kenyamanan, dan kita lelah ketika harus selalu siap menghadapi ledakan emosi atau kata-kata yang menusuk. Kita ingin solusi cepat, seperti memanggil teknisi ketika listrik padam. Namun perangai bukan kabel yang putus. Jika seseorang berbicara kasar, kita bisa memintanya mengganti kata, tetapi yang membuat kata itu kasar mungkin bukan kosakata, melainkan keyakinan di baliknya: bahwa ia harus dominan agar aman, bahwa ia harus menyerang duluan agar tidak diserang, bahwa ia tidak akan dihargai jika tidak menguasai ruangan. Keyakinan seperti itu sering terbentuk lama, dan berubahnya pun memerlukan perjalanan. Perjalanan itu bisa dibantu, tetapi tidak bisa digantikan.
Ada alasan lain yang membuat jabatan “penghalus perangai” sulit dibayangkan: perangai menyangkut kebebasan. Menghaluskan berarti mengubah, dan mengubah manusia tanpa persetujuannya adalah bentuk kekerasan yang halus. Kita boleh mengatur perilaku di ruang publik, tetapi perangai berkaitan dengan ruang batin. Ketika sebuah lembaga mencoba masuk terlalu jauh, ia akan berhadapan dengan pertanyaan etis: sampai batas mana institusi boleh mengatur cara seseorang merasa dan berpikir? Kita bisa menuntut karyawan bersikap profesional, tetapi profesionalitas adalah kesepakatan perilaku, bukan operasi batin. Kita bisa menuntut siswa menghormati guru, tetapi hormat yang sejati bukan sekadar berdiri dan memberi salam; hormat tumbuh dari pengertian, dari pengalaman melihat keadilan, dari kebiasaan memanusiakan. Jika ada jabatan yang diberi kuasa untuk “menghaluskan” orang, ia bisa berubah menjadi kontrol yang menakutkan, memaksa orang memakai topeng kesopanan tanpa pernah menyembuhkan akar kekasaran.
Karena itu, yang paling realistis adalah menerima bahwa penghalus perangai utama setiap orang adalah dirinya sendiri, dibantu oleh lingkungan yang sehat. Lingkungan yang sehat bukan lingkungan yang bebas konflik, melainkan lingkungan yang punya cara menghadapi konflik tanpa merusak martabat. Di tempat seperti itu, orang belajar bahwa marah boleh, tetapi menghina tidak; kecewa wajar, tetapi merendahkan tidak; berbeda pendapat normal, tetapi merampas suara orang lain tidak. Lingkungan yang sehat memberi batas sekaligus memberi kesempatan. Ia tegas pada perilaku yang merugikan, namun tidak mengunci manusia dalam label “pemarah”, “toxic”, atau “tidak bisa berubah”. Ia percaya perubahan mungkin, tetapi tidak naif: perubahan memerlukan kerja dan waktu.
Masalahnya, banyak lingkungan kita justru mengajarkan sebaliknya. Di sebagian keluarga, anak belajar bahwa yang kuat menang, yang keras didengar, yang menangis diledek, yang meminta maaf dianggap kalah. Di sebagian komunitas, orang belajar bahwa menjadi lembut itu sama dengan lemah, dan kelemahan adalah sesuatu yang memalukan. Di sebagian organisasi, orang belajar bahwa hasil menghalalkan cara, bahwa yang penting angka, bahwa cara bicara bisa dimaafkan asal target tercapai. Jika itu yang menjadi kurikulum sehari-hari, perangai kasar bukan anomali, melainkan konsekuensi. Lalu ketika konsekuensi itu mengganggu, kita panik dan mencari jabatan yang bisa menetralkan dampaknya, padahal sumbernya masih kita rawat diam-diam melalui budaya.
Di sinilah kita perlu membedakan antara sopan santun sebagai dekorasi dan perangai halus sebagai karakter. Sopan santun bisa dipelajari cepat: cara menyapa, cara menulis pesan, cara mengucapkan terima kasih. Ia penting karena memudahkan hidup bersama. Namun sopan santun bisa menjadi topeng jika tidak disertai perangai halus. Ada orang yang ucapannya rapi, tetapi kebijakannya menusuk; kalimatnya manis, tetapi ia gemar memanipulasi; senyumnya lebar, tetapi ia menyiapkan jebakan. Perangai halus bukan sekadar kata yang tidak kasar, melainkan hati yang tidak tergesa-gesa menilai, pikiran yang tidak gatal meremehkan, dan tangan yang tidak ringan menyakiti. Ia terlihat saat orang berkuasa, karena saat berkuasa kita mudah lupa diri. Ia terlihat saat orang benar, karena saat benar kita mudah merendahkan. Ia terlihat saat orang kecewa, karena saat kecewa kita mudah melampiaskan.
Kalau begitu, apa sebenarnya yang dimaksud “menghaluskan” perangai? Ia bukan mengubah orang menjadi selalu lembut seperti kapas, tidak pernah marah, tidak pernah tegas. Menghaluskan bukan menghilangkan ketegasan, melainkan menghilangkan kebrutalan. Orang berperangai halus bisa tegas, bahkan keras dalam batas, tetapi ia tidak mempermalukan. Ia bisa menolak, tetapi ia tidak menghancurkan harga diri. Ia bisa mengkritik, tetapi ia tidak menginjak. Ia tahu perbedaan antara “aku tidak setuju” dan “kamu bodoh”. Ia paham bahwa manusia lebih luas daripada kesalahannya. Ia mampu menahan diri untuk tidak menumpahkan emosi di kepala orang lain hanya karena ia sedang lelah.
Menghaluskan perangai juga bukan proyek sekali jadi. Ia seperti mengasah. Hari ini kita berhasil menahan lidah, besok kita terpeleset. Minggu ini kita sabar, minggu depan kita meledak. Perangai halus adalah latihan yang berlangsung seumur hidup, karena hidup terus menghadirkan pemicu baru: tekanan ekonomi, perubahan peran, kehilangan, kegagalan, persaingan, rasa tidak aman. Tanpa latihan, kita cenderung kembali pada mode paling dasar: bertahan hidup dengan menyerang atau menghindar. Karena itu, orang yang terlihat “sudah dewasa” pun tetap perlu mengulang pelajaran: mendengar, mengakui, meminta maaf, memperbaiki. Tidak ada garis finish yang membuat kita kebal dari kekasaran.
Jika tidak ada jabatan resmi yang menghaluskan perangai, apakah artinya kita pasrah? Tidak. Ketiadaan jabatan justru mengundang tanggung jawab kolektif yang lebih cerdas. Kita bisa membangun sistem yang mendorong perangai halus tanpa harus mengontrol batin orang. Caranya adalah dengan memperjelas standar perilaku, memberi umpan balik yang manusiawi, dan menciptakan konsekuensi yang adil. Standar perilaku berarti kita tidak hanya menilai “apa” yang dicapai, tetapi “bagaimana” cara mencapainya. Dalam organisasi yang matang, orang tidak hanya dipromosikan karena hasil, tetapi juga karena cara ia memperlakukan orang. Umpan balik yang manusiawi berarti kita berani menamai perilaku yang merusak tanpa menamai orangnya sebagai “rusak”. Konsekuensi yang adil berarti pelanggaran tidak dibiarkan karena pelakunya berprestasi, dan tidak dibesar-besarkan karena pelakunya tidak populer.
Pada level pribadi, menghaluskan perangai sering dimulai dari hal yang tidak spektakuler: menyadari kapan kita mulai meninggi, kapan kita mulai memotong pembicaraan, kapan kita mulai ingin menang bukan ingin paham. Kesadaran itu seperti lampu kecil. Tanpa lampu, kita berjalan dalam gelap dan menabrak orang, lalu menganggap tabrakan itu wajar karena “aku memang begini”. Dengan lampu, kita bisa berkata, “Aku sedang tersulut, aku butuh jeda.” Jeda adalah alat sederhana yang sering diremehkan. Padahal banyak kekasaran terjadi bukan karena niat jahat, melainkan karena tidak ada jeda antara emosi dan tindakan. Orang yang berperangai halus bukan orang yang tidak punya emosi, melainkan orang yang punya jeda.
Dari kesadaran itu, langkah berikutnya adalah mengganti kebiasaan. Jika terbiasa menyindir, kita belajar berkata langsung. Jika terbiasa meledak, kita belajar menunda respons. Jika terbiasa memerintah, kita belajar meminta. Ini terdengar mudah, tetapi sulit karena kebiasaan lama sering memberi “hadiah” instan: merasa berkuasa, merasa lega, merasa menang. Menghaluskan perangai berarti bersedia kehilangan hadiah instan demi kualitas relasi jangka panjang. Di sinilah banyak orang mundur. Mereka ingin dihormati, tetapi tidak mau membayar harga berupa kerendahan hati. Mereka ingin didengar, tetapi tidak mau belajar mendengar. Mereka ingin orang lain berubah, tetapi tidak mau diganggu oleh kemungkinan bahwa dirinya juga bagian dari masalah.
Ada juga bagian yang lebih dalam: memeriksa luka. Banyak kekasaran berakar pada luka yang tak diakui. Orang yang mudah meremehkan sering sebenarnya takut dianggap tidak cukup. Orang yang suka mengontrol sering sebenarnya cemas ditinggalkan. Orang yang cepat marah sering sebenarnya menyimpan sedih yang tidak punya tempat. Menghaluskan perangai berarti berani melihat ke dalam tanpa mencari kambing hitam. Ini bukan alasan untuk membenarkan perilaku buruk, tetapi pengetahuan untuk memperbaikinya. Tanpa pengetahuan tentang akar, kita seperti memangkas daun liar tanpa menyentuh akarnya; sebentar rapi, lalu tumbuh lagi.
Namun tidak semua orang punya akses atau keberanian untuk perjalanan batin seperti itu. Karena itu, peran lingkungan tetap penting. Teman yang berani menegur dengan cara yang tidak menghakimi, pasangan yang bisa berkata, “Aku sayang kamu, tapi cara kamu bicara melukaimu dan melukaiku,” rekan kerja yang membuat batas jelas, keluarga yang tidak menormalisasi kekerasan verbal, semua itu adalah semacam “fungsi penghalus perangai” yang tersebar, bukan jabatan tunggal. Ia tidak datang dengan seragam atau kartu nama, tetapi hadir dalam relasi yang jujur. Justru karena tersebar, ia lebih manusiawi: setiap orang memberi sedikit, menerima sedikit, belajar sedikit.
Di ruang publik, kita sering mengeluh tentang menurunnya adab. Tetapi adab tidak turun begitu saja; ia turun ketika penghinaan menjadi hiburan, ketika kecepatan lebih dihargai daripada ketelitian, ketika viral lebih penting daripada benar, ketika empati dianggap sentimentil. Menghaluskan perangai pada skala sosial berarti mengubah apa yang kita rayakan. Jika kita terus-menerus memberi panggung pada yang paling keras, yang paling menghina, yang paling “menampar” lawan debat, kita sedang mengajari generasi berikutnya bahwa kekasaran adalah mata uang. Sebaliknya, jika kita memberi apresiasi pada yang mampu berbeda tanpa memusuhi, yang mampu mengkritik tanpa merendahkan, yang mampu tegas tanpa menyakiti, kita sedang membangun ekologi baru bagi perangai halus.
Ada orang yang berkata, “Aku ini orangnya to the point.” Kadang itu benar, kadang itu dalih. To the point yang sehat adalah kejelasan, bukan ketus. Kejelasan bisa dibangun dengan bahasa yang ringkas, tetapi tetap menghargai. Kita bisa mengatakan “Ini belum sesuai standar” tanpa menambahkan “Kamu memang selalu begini.” Kita bisa mengatakan “Aku butuh waktu” tanpa menghilang dan menghukum orang dengan diam. Kita bisa mengatakan “Aku tidak setuju” tanpa menertawakan. Menghaluskan perangai sering berarti mengubah cara kita menempelkan makna pada kata. Kita berhenti menjadikan kata sebagai senjata, dan mulai menjadikannya jembatan.
Perangai halus juga berkaitan dengan cara kita memandang diri. Orang yang keras pada diri sendiri sering keras pada orang lain. Ia tidak memberi ruang untuk salah, maka ia juga tidak memberi ruang bagi orang lain. Ia hidup dengan cambuk di punggungnya, lalu tanpa sadar meminjamkan cambuk itu kepada siapa pun di sekitarnya. Menghaluskan perangai kadang dimulai dari belajar memperlakukan diri dengan lebih manusiawi: mengakui lelah, mengakui takut, mengakui bahwa kita tidak harus sempurna agar layak dicintai. Dari situ, kita lebih mudah memperlakukan orang lain dengan kelembutan yang sama.
Dalam banyak kasus, yang kita butuhkan bukan jabatan “penghalus perangai”, melainkan keberanian untuk membangun budaya. Budaya adalah apa yang terjadi ketika tidak ada yang mengawasi. Budaya adalah kebiasaan yang dianggap normal. Jika budaya kita normalisasi gosip, normalisasi sarkas, normalisasi mempermalukan, maka perangai halus akan terasa seperti barang langka. Tetapi jika budaya kita normalisasi meminta maaf, normalisasi mengucapkan terima kasih, normalisasi memberi kredit, normalisasi memberi ruang bicara, normalisasi menegur dengan hormat, maka perangai halus bukan lagi tugas heroik, melainkan kebiasaan yang didukung.
Pada akhirnya, ketiadaan jabatan itu adalah pengingat bahwa perangai adalah tanggung jawab yang tidak bisa disubkontrakkan. Kita bisa menyewa pelatih komunikasi, bisa ikut pelatihan kepemimpinan, bisa membaca buku, bisa berkonsultasi, tetapi tetap ada bagian yang harus dikerjakan sendiri: memilih menahan, memilih jujur, memilih menghargai. Tidak ada orang yang bisa melakukannya untuk kita. Bahkan orang yang paling kita cintai pun tidak bisa “menyelamatkan” kita dari perangai kita sendiri jika kita tidak mau bekerja sama.
Namun pengingat itu juga bisa menjadi kabar baik. Jika tidak ada jabatan yang menghaluskan perangai, artinya tidak ada pula otoritas tunggal yang berhak menentukan versi “halus” yang mematikan keunikan. Halus bukan berarti seragam. Halus bukan berarti semua orang harus berbicara dengan nada yang sama, tertawa dengan cara yang sama, sepakat dalam semua hal. Halus berarti kita merawat kemanusiaan satu sama lain di tengah perbedaan. Ada orang yang ekspresif, ada yang pendiam; ada yang lugas, ada yang diplomatis. Perangai halus bisa hidup di semuanya, selama ada niat untuk tidak melukai.
Jika kita ingin melihat lebih banyak perangai halus di sekitar kita, kita bisa memulainya dari satu hal yang sederhana tetapi berat: menjadi contoh kecil yang konsisten. Menahan komentar pedas yang sebenarnya tidak perlu. Mengganti asumsi dengan pertanyaan. Mengakui kesalahan tanpa mengarang alasan. Memberi kritik pada perilaku, bukan menyerang identitas. Memuji tanpa membuat orang lain kecil. Memberi batas tanpa mempermalukan. Menghormati waktu dan perhatian orang lain. Hal-hal seperti itu tidak akan viral, tetapi ia membangun sesuatu yang lebih tahan lama daripada viral: rasa aman. Dan rasa aman adalah tanah paling subur bagi perangai halus.
Mungkin inilah sebabnya jabatan “Menghaluskan Perangai” tidak pernah ada: karena ia seharusnya menjadi pekerjaan sunyi setiap manusia, pekerjaan yang tidak tercatat di struktur organisasi, tetapi tercatat dalam kualitas hubungan. Pekerjaan yang tidak digaji, tetapi hasilnya terasa di rumah yang lebih tenang, di kantor yang lebih sehat, di pertemanan yang lebih jujur, di masyarakat yang lebih waras. Pekerjaan yang tidak memiliki ruang kerja khusus, karena ruang kerjanya adalah setiap percakapan, setiap keputusan, setiap konflik kecil yang kita pilih untuk selesaikan tanpa merusak martabat.
Dan ketika kita menyadari itu, kita berhenti menunggu seseorang datang membawa titel. Kita mulai bertanya pada diri sendiri, dengan jujur dan tanpa drama: bagian mana dari perangai kita yang masih kasar? Dalam situasi apa kita paling mudah melukai? Siapa yang paling sering menjadi korban ketajaman kita? Apa yang sebenarnya kita lindungi ketika kita menyerang? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak nyaman, tetapi di sanalah penghalusan dimulai. Bukan dari pengumuman, bukan dari jabatan, melainkan dari keberanian untuk berubah.
Karena perangai yang halus bukan hadiah yang diberikan oleh sistem, melainkan hasil dari latihan panjang yang disirami kesadaran, dibatasi oleh etika, dan dikuatkan oleh budaya yang menghargai manusia. Tidak ada jabatan yang “menghaluskan” perangai, sebab perangai tidak bisa dipoles dari luar seperti meja kayu. Ia harus diasah dari dalam, oleh tangan pemiliknya, sementara orang lain hanya bisa menjadi cermin, pagar, dan teman seperjalanan. Dalam dunia yang semakin bising, memilih menghaluskan perangai adalah tindakan yang hening, tetapi justru karena hening, ia kuat.


0 Komentar