Orkestra Lambat dan Mahal dalam Ekosistem Jurnal Ilmiah Indonesia

Di sebuah negeri yang konon menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, terdapat sebuah ekosistem jurnal ilmiah yang berjalan dengan keanggunan kura-kura tua yang sedang merenungi makna hidup. Para peneliti, dengan penuh harap dan sedikit rasa putus asa, mengirimkan naskah mereka ke jurnal-jurnal bergengsi yang namanya terdengar seperti mantra sakral. Mereka percaya bahwa di balik pintu editorial itu terdapat gerbang menuju pengakuan akademik, kenaikan jabatan, dan mungkin sedikit rasa harga diri yang selama ini tertunda.



Namun, yang mereka temukan justru sebuah perjalanan spiritual yang lebih mirip ziarah panjang daripada proses ilmiah. Naskah yang dikirimkan hari ini akan memasuki fase meditasi yang dalam. Ia tidak ditolak, tidak diterima, hanya berada dalam kondisi eksistensial yang ambigu. Statusnya tertulis "under review", sebuah frasa yang dalam praktiknya berarti sedang berlibur tanpa batas waktu. Para reviewer, yang konon sangat sibuk dan sangat terhormat, menerima naskah tersebut dengan sikap yang bijaksana. Mereka tidak terburu-buru, karena ilmu pengetahuan memang tidak boleh dipercepat. Bahkan waktu itu sendiri tampak melambat ketika berada di tangan mereka.

Penulis kemudian mulai mengalami fase pertama dari perjalanan ini, yaitu harapan. Mereka membuka email setiap hari, bahkan setiap jam, berharap ada kabar baik. Mereka membayangkan reviewer membaca dengan penuh perhatian, mencatat keunggulan metodologi, mengagumi kerangka teori, dan tersenyum melihat kontribusi penelitian yang luar biasa. Namun, hari demi hari berlalu, dan yang datang hanyalah kesunyian. Email kosong, notifikasi nihil, dan status yang tetap sama seperti patung di museum yang tidak pernah berubah posisi.

Setelah beberapa bulan, harapan itu berubah menjadi refleksi. Mungkin naskah mereka terlalu maju untuk zamannya. Mungkin reviewer sedang melakukan penelitian tambahan untuk memahami kedalaman tulisan tersebut. Mungkin juga jurnal tersebut sedang mengalami pencerahan kolektif yang membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya. Penulis mencoba bersikap sabar, karena mereka tahu bahwa kesabaran adalah salah satu syarat utama dalam dunia akademik.

Di sisi lain, pihak jurnal dengan penuh kebanggaan memamerkan proses seleksi yang ketat dan standar kualitas yang tinggi. Mereka berbicara tentang integritas ilmiah, transparansi, dan profesionalisme. Semua itu terdengar sangat meyakinkan, seperti pidato motivasi yang disampaikan dengan penuh keyakinan. Namun, di balik layar, proses editorial berjalan dengan ritme yang sulit dijelaskan oleh logika konvensional. Ada naskah yang diproses dalam hitungan minggu, tetapi ada juga yang mengendap selama berbulan-bulan tanpa kejelasan.

Ketika akhirnya reviewer memberikan komentar, penulis sering kali dihadapkan pada sebuah karya sastra baru yang tidak kalah menarik dari naskah asli. Komentar tersebut bisa sangat singkat, seperti "perlu diperbaiki", atau sangat panjang tetapi tidak relevan, seperti membahas hal-hal yang tidak pernah ditulis dalam naskah. Dalam beberapa kasus, reviewer tampak seperti membaca naskah yang berbeda, atau mungkin membaca dengan mata batin yang hanya mereka sendiri yang memahami.

Penulis kemudian diminta untuk merevisi naskah berdasarkan komentar tersebut. Mereka melakukannya dengan penuh dedikasi, menambahkan referensi, memperbaiki struktur, dan mencoba memahami maksud tersembunyi di balik setiap komentar. Setelah revisi selesai, naskah dikirim kembali, dan siklus pun dimulai lagi. Status berubah menjadi "under review" sekali lagi, dan waktu kembali melambat seperti sebelumnya.

Sementara itu, di sudut lain ekosistem ini, terdapat aspek yang tidak kalah menarik, yaitu biaya publikasi. Jurnal-jurnal tersebut dengan elegan menetapkan biaya yang cukup signifikan, yang sering kali disertai dengan alasan yang terdengar sangat masuk akal. Mereka berbicara tentang biaya operasional, pengelolaan sistem, dan kompensasi bagi reviewer. Semua itu terdengar logis, meskipun dalam praktiknya reviewer sering kali bekerja secara sukarela tanpa mendapatkan imbalan yang sepadan.

Penulis yang sudah menunggu berbulan-bulan kemudian dihadapkan pada kenyataan bahwa untuk melihat karya mereka diterbitkan, mereka harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Ini adalah momen refleksi kedua, di mana mereka mulai mempertanyakan hubungan antara ilmu pengetahuan dan ekonomi. Apakah nilai sebuah penelitian ditentukan oleh kualitasnya, atau oleh kemampuan penulis untuk membayar biaya publikasi.

Dalam banyak kasus, penulis memilih untuk tetap melanjutkan proses tersebut. Mereka menganggapnya sebagai investasi, bukan hanya dalam karier akademik, tetapi juga dalam reputasi. Mereka membayar biaya tersebut dengan harapan bahwa publikasi ini akan membuka pintu-pintu baru. Mungkin kesempatan penelitian, mungkin kolaborasi, atau mungkin sekadar pengakuan dari rekan sejawat.

Namun, ada juga penulis yang mulai mempertanyakan sistem ini. Mereka melihat adanya ketidakseimbangan antara proses yang lambat dan biaya yang tinggi. Mereka bertanya-tanya mengapa sebuah sistem yang seharusnya mendukung penyebaran ilmu pengetahuan justru terasa seperti hambatan. Pertanyaan ini sering kali tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, karena sistem tersebut sudah berjalan terlalu lama untuk dipertanyakan secara serius.

Di tengah semua itu, jurnal-jurnal tetap mempertahankan citra mereka sebagai penjaga kualitas ilmiah. Mereka mengadakan seminar, workshop, dan berbagai kegiatan yang menekankan pentingnya publikasi. Mereka mendorong peneliti untuk terus menulis dan mengirimkan naskah, seolah-olah proses yang lambat dan biaya yang tinggi adalah bagian dari perjalanan yang harus diterima dengan lapang dada.

Para peneliti muda, yang baru memasuki dunia akademik, sering kali terkejut dengan realitas ini. Mereka datang dengan semangat dan idealisme, percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah tentang pencarian kebenaran dan berbagi pengetahuan. Namun, mereka segera belajar bahwa ada aspek lain yang tidak kalah penting, yaitu navigasi dalam sistem yang kompleks dan kadang-kadang tidak masuk akal.

Mereka belajar untuk bersabar, untuk memahami bahasa komentar reviewer yang penuh teka-teki, dan untuk menerima bahwa waktu dalam dunia jurnal tidak berjalan seperti waktu dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga belajar untuk mengalokasikan dana, karena publikasi bukan hanya soal tulisan, tetapi juga soal biaya.

Di sisi lain, ada juga peneliti yang sudah berpengalaman, yang melihat semua ini dengan perspektif yang berbeda. Mereka tidak lagi terkejut, karena mereka sudah terbiasa. Mereka tahu jurnal mana yang cenderung lambat, mana yang lebih cepat, mana yang mahal, dan mana yang sangat mahal. Mereka mengembangkan strategi, memilih jurnal dengan hati-hati, dan mencoba meminimalkan risiko.

Namun, bahkan dengan pengalaman tersebut, mereka tetap tidak bisa sepenuhnya menghindari ketidakpastian. Sistem ini memiliki dinamika sendiri, yang kadang-kadang sulit diprediksi. Ada naskah yang diterima dengan cepat, tetapi ada juga yang ditolak setelah menunggu lama. Ada jurnal yang tampak profesional, tetapi prosesnya membingungkan. Semua itu menjadi bagian dari pengalaman akademik yang tidak tertulis dalam buku panduan.

Dalam konteks yang lebih luas, fenomena ini mencerminkan sebuah ironi. Di satu sisi, ilmu pengetahuan seharusnya berkembang dengan cepat, mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Namun, di sisi lain, sistem publikasi yang ada justru berjalan dengan kecepatan yang jauh lebih lambat. Ini menciptakan kesenjangan antara produksi pengetahuan dan penyebarannya.

Ironi lainnya adalah soal akses. Banyak jurnal yang mengenakan biaya tinggi, baik untuk penulis maupun pembaca. Ini menciptakan situasi di mana ilmu pengetahuan menjadi eksklusif, hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki sumber daya. Padahal, idealnya ilmu pengetahuan harus dapat diakses oleh semua orang, tanpa batasan ekonomi.

Namun, seperti banyak hal lainnya, sistem ini tetap bertahan. Ia mungkin tidak sempurna, tetapi sudah menjadi bagian dari struktur akademik yang sulit diubah. Para peneliti terus menulis, jurnal terus menerima naskah, reviewer terus memberikan komentar, dan biaya publikasi terus dibayarkan. Siklus ini berjalan tanpa henti, seperti mesin yang terus beroperasi meskipun banyak yang mempertanyakan efisiensinya.

Dalam suasana seperti ini, satire menjadi salah satu cara untuk melihat realitas dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan humor yang halus, kita bisa melihat absurditas dalam sistem yang sering kali dianggap normal. Kita bisa tertawa, bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi karena kadang-kadang tertawa adalah satu-satunya cara untuk tetap waras.

Mungkin suatu hari nanti, sistem ini akan berubah. Mungkin proses akan menjadi lebih cepat, biaya akan lebih terjangkau, dan komunikasi antara penulis dan reviewer akan lebih jelas. Mungkin juga teknologi akan memainkan peran yang lebih besar, membantu mempercepat proses tanpa mengorbankan kualitas. Semua itu adalah kemungkinan yang selalu terbuka.

Namun, untuk saat ini, para peneliti masih harus menjalani perjalanan ini dengan segala keunikannya. Mereka menulis, menunggu, merevisi, dan membayar, sambil berharap bahwa di balik semua itu, ada nilai yang lebih besar yang dapat mereka capai. Dan mungkin, di sela-sela proses tersebut, mereka juga belajar sesuatu yang tidak tertulis dalam jurnal mana pun, yaitu tentang kesabaran, ketekunan, dan kemampuan untuk tetap bertahan dalam sistem yang penuh dengan paradoks.

Pada akhirnya, jurnal ilmiah di negeri ini bukan hanya tentang publikasi, tetapi juga tentang pengalaman. Pengalaman yang kadang-kadang melelahkan, kadang-kadang membingungkan, tetapi selalu memberikan cerita. Cerita tentang bagaimana ilmu pengetahuan berkembang, bukan hanya melalui ide dan penelitian, tetapi juga melalui interaksi manusia dengan sistem yang mereka ciptakan sendiri.

Dan di situlah letak satirenya. Sebuah sistem yang dibangun untuk mempercepat penyebaran ilmu pengetahuan justru menjadi perjalanan panjang yang penuh dengan penundaan. Sebuah mekanisme yang seharusnya mendukung peneliti justru menjadi tantangan tersendiri. Namun, di tengah semua itu, para peneliti tetap bertahan, terus menulis, dan terus berharap bahwa suatu hari nanti, proses ini akan menjadi lebih baik, atau setidaknya, lebih masuk akal.

Posting Komentar

0 Komentar