Di sebuah negeri yang gemar menamai dirinya “Negeri Cahaya”, berdirilah sebuah undang-undang baru yang konon lahir dari rahim kecintaan pada stabilitas. Undang-undang itu sederhana bunyinya, namun luas bayangannya: “Demi menjaga ketertiban dan kesatuan, segala bentuk kritik terhadap MBG dilarang.” Tidak ada yang benar-benar tahu apa kepanjangan MBG. Sebagian mengatakan ia adalah singkatan dari Maha Baik dan Gagah, sebagian lagi menyebutnya Mekanisme Bersama Gemilang. Namun rakyat kecil punya tafsir sendiri: “Mungkin Bukan Guna.”
Undang-undang itu disambut tepuk tangan di ruang-ruang berpendingin udara, tetapi di warung kopi dan serambi masjid, ia disambut dengan senyum yang dipaksakan. Sebab di Negeri Cahaya, cahaya itu rupanya hanya boleh datang dari satu arah. Sementara matahari, yang setiap hari Allah terbitkan tanpa meminta izin kementerian, tetap bersinar ke segala penjuru tanpa diskriminasi.
Dalam sejarah Islam, kritik bukanlah barang haram. Ia bukan bid’ah. Ia bahkan bukan gangguan. Kritik adalah bagian dari napas amar ma’ruf nahi munkar. Ketika Umar bin Khattab berdiri di hadapan rakyatnya dan berkata, “Jika aku menyimpang, apa yang akan kalian lakukan?” seorang lelaki menjawab, “Kami akan meluruskanmu dengan pedang.” Umar tidak memenjarakan lelaki itu. Ia tidak menuduhnya sebagai penyebar keresahan. Ia tidak membuat peraturan tentang larangan mengkritik khalifah. Umar justru berkata, “Alhamdulillah, masih ada di antara umat ini yang akan meluruskan Umar.”
Bayangkan jika Umar hidup di Negeri Cahaya. Mungkin ia akan dipanggil oleh Dewan Ketertiban Ucapan dan diberi penyuluhan tentang pentingnya menjaga citra kepemimpinan. Mungkin lelaki yang berani itu akan diundang ke program “Dialog Damai Tanpa Perbedaan Pendapat”, sebuah acara televisi di mana semua narasumber setuju sebelum berbicara.
Negeri Cahaya mengajarkan bahwa kritik adalah bentuk kebencian. Bahwa bertanya berarti meragukan. Bahwa mempertanyakan MBG sama saja dengan meruntuhkan fondasi bangsa. Di sekolah-sekolah, anak-anak belajar bahwa stabilitas adalah nilai tertinggi, bahkan lebih tinggi dari kejujuran. Buku pelajaran akhlak mencantumkan bab baru: “Adab Diam dalam Segala Keadaan.”
Namun Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk berpikir, bertanya, dan merenung. Afala tatafakkarun? Afala ta’qilun? Tidakkah kalian berpikir? Tidakkah kalian menggunakan akal? Di Negeri Cahaya, pertanyaan-pertanyaan ini mungkin akan direvisi menjadi: “Tidakkah kalian percaya saja?”
Satire terbesar di negeri ini bukanlah pada rakyat yang diam, tetapi pada para pembesar yang begitu rapuh hingga takut pada suara rakyatnya sendiri. Seakan-akan MBG adalah kaca kristal yang akan pecah hanya karena disentuh oleh kata-kata. Padahal jika sesuatu benar-benar kuat, ia tidak takut diuji. Emas tidak gentar dibakar. Hanya cat murahan yang takut hujan.
Ada seorang ustaz di Negeri Cahaya yang suatu hari menyampaikan khutbah tentang pentingnya nasihat dalam Islam. Ia mengutip hadits, “Ad-din an-nasihah” — agama adalah nasihat. Ia menjelaskan bahwa nasihat kepada pemimpin adalah bagian dari iman, selama dilakukan dengan adab. Namun setelah khutbah itu, ia dipanggil oleh pihak berwenang. “Ustaz,” kata mereka lembut, “kami setuju agama adalah nasihat. Tapi untuk urusan MBG, sebaiknya nasihat disimpan dalam hati. Allah Maha Mengetahui isi hati.”
Ustaz itu pulang dengan bingung. Ia membuka mushaf dan membaca kisah Nabi Musa yang diperintahkan Allah untuk mendatangi Fir’aun dan berkata dengan lemah lembut. Fir’aun bukan sekadar pejabat. Ia mengaku tuhan. Namun Allah tetap memerintahkan Musa untuk berbicara. Bukan untuk diam. Bukan untuk membuat petisi internal. Bukan untuk menunggu suasana kondusif.
Di Negeri Cahaya, mungkin Musa akan diminta mengajukan proposal audiensi terlebih dahulu.
MBG, apa pun maknanya, telah menjelma menjadi sesuatu yang sakral. Ia tidak boleh disentuh, tidak boleh dipertanyakan, tidak boleh diparodikan. Padahal dalam Islam, yang sakral hanyalah Allah dan wahyu-Nya. Bahkan para sahabat pun saling berdiskusi dan berbeda pendapat. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berdebat dalam ilmu, tanpa saling membungkam.
Tetapi di Negeri Cahaya, perbedaan dianggap ancaman. Seorang mahasiswa yang menulis esai kritis tentang implementasi MBG dituduh kurang bersyukur. Seorang ibu rumah tangga yang mengeluh harga kebutuhan naik karena kebijakan MBG dianggap menyebarkan pesimisme. Seorang petani yang bertanya mengapa pupuk sulit didapat dianggap tidak memahami visi besar.
Dalam tradisi Islam, pemimpin adalah amanah. Ia bukan berhala yang harus disembah dengan pujian tanpa henti. Rasulullah ï·º sendiri menerima koreksi. Dalam perang Badar, seorang sahabat bertanya tentang posisi pasukan, apakah itu wahyu atau strategi. Ketika Rasul menjawab itu strategi, sahabat tersebut mengusulkan posisi yang lebih baik, dan Rasul menerima.
Bayangkan jika sahabat itu hidup di Negeri Cahaya. Mungkin ia akan dituduh meragukan otoritas. Mungkin akan ada poster bertuliskan: “Dukung Strategi Tanpa Tanya!”
Islam mengajarkan keseimbangan. Ada adab dalam berbicara, tetapi ada pula kewajiban untuk berbicara. Diam tidak selalu emas. Kadang diam adalah karat yang menggerogoti keadilan. Nabi bersabda, “Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa zalim.” Hadits ini tidak pernah dibatalkan oleh regulasi apa pun.
Negeri Cahaya mungkin akan menafsirkan hadits itu sebagai metafora yang tidak perlu dipraktikkan. Mereka akan membuat seminar tentang “Jihad Produktif Tanpa Kritik”. Mereka akan mencetak buku saku berjudul “Cara Mencintai MBG dengan Sepenuh Hati.”
Namun sejarah menunjukkan, tidak ada kekuasaan yang runtuh karena kritik. Kekuasaan runtuh karena ketidakadilan yang dibiarkan tanpa koreksi. Kritik adalah alarm kebakaran. Mematikan alarm tidak akan memadamkan api.
Satire ini bukan ajakan untuk memberontak. Ia hanya cermin. Dan sering kali, yang paling marah pada cermin adalah wajah yang tidak siap melihat dirinya sendiri. Negeri Cahaya mungkin mengira bahwa dengan melarang kritik, mereka menjaga kehormatan. Padahal kehormatan sejati lahir dari keberanian untuk dikoreksi.
Seorang ulama pernah berkata, “Jika engkau ingin tahu kualitas iman suatu masyarakat, lihatlah bagaimana mereka memperlakukan orang yang menasihati.” Jika penasihat dibungkam, maka yang tersisa hanyalah paduan suara pujian. Dan pujian yang dipaksakan adalah bentuk lain dari ejekan.


0 Komentar