Bukan Soal Naskah, Tapi Siapa yang Menulisnya (Sebuah Satire untuk Pengelola Jurnal)

Di sebuah ruang guru yang kipas anginnya berdecit seperti menahan napas panjang, seorang guru duduk sendirian. Di depannya bukan hanya tumpukan kertas ujian, bukan pula RPP yang tak kunjung selesai diperbarui sesuai regulasi terbaru yang lahir lebih cepat dari musim hujan, melainkan sebuah naskah artikel ilmiah. Ia menulis. Ia menulis bukan karena tuntutan jabatan fungsional semata, bukan karena tekanan publikasi, bukan karena kewajiban akreditasi, melainkan karena sesuatu yang lebih purba dan lebih sunyi: keinginan untuk berpikir.



Namun, di seberang sana dimana di dunia yang lebih berpendingin udara, lebih sistematis, lebih terstandar, dan tentu saja lebih “ilmiah” ada sebuah ekosistem yang dikenal sebagai “pengelola jurnal” dan “reviewer”. Mereka duduk di balik layar, dengan template, dengan standar, dengan pedoman etika publikasi, dan dengan satu keyakinan yang tak tertulis namun terasa kuat: bahwa tulisan yang baik jarang lahir dari kesendirian seorang guru.

Mari kita mulai dari asumsi yang tampaknya sederhana: bahwa artikel ilmiah yang baik adalah hasil kolaborasi. Kolaborasi dianggap sebagai bukti diskusi, sebagai tanda validitas, sebagai jaminan bahwa ide telah diuji dari berbagai sudut pandang. Dalam logika ini, satu penulis berarti satu perspektif, dan satu perspektif dianggap rawan kesalahan. Maka, ketika sebuah naskah datang hanya dengan satu nama penulis, terlebih lagi seorang guru. Ada semacam kegelisahan yang muncul dengan sebuah pertanyaan “Apakah ini cukup serius?”

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar diucapkan. Ia hadir dalam bentuk komentar halus “Tulisan ini menarik, tetapi perlu penguatan dari sisi metodologi.” atau “Disarankan untuk menambahkan referensi yang lebih mutakhir.” atau bahkan yang lebih jujur “Kontribusi artikel ini masih terbatas.”

Namun, yang sebenarnya ingin dikatakan adalah “Mengapa Anda sendirian?”

Seolah-olah kesendirian adalah cacat metodologis.

Padahal, jika kita mau jujur, banyak ide besar dalam sejarah lahir dari kesendirian. Newton tidak sedang rapat tim ketika apel itu jatuh. Descartes tidak menyusun “Cogito ergo sum” dalam grup WhatsApp akademik. Bahkan banyak teori pendidikan yang kini diajarkan di ruang kuliah lahir dari refleksi individu yang panjang, bukan dari proyek kolaboratif dengan pembagian tugas yang rapi.

Tetapi tentu saja, itu dulu. Sekarang kita hidup di zaman di mana keabsahan sering kali diukur dari jumlah nama di bawah judul.

Guru, dalam hal ini merupakan makhluk yang unik. Ia berada di garis depan praktik pendidikan, tetapi sering kali di pinggir dalam diskursus ilmiah. Ia mengajar setiap hari, berhadapan dengan realitas yang tidak selalu bisa direduksi menjadi variabel, tetapi ketika ia mencoba menuliskan pengalamannya, ia diminta untuk berbicara dalam bahasa yang tidak selalu ia gunakan sehari-hari.

Bahasa jurnal.

Bahasa yang penuh dengan “framework”, “paradigma”, “implikasi teoretis”, dan tentu saja, “gap penelitian”.

Guru itu mungkin ingin menulis tentang bagaimana seorang siswa yang selalu tertidur di kelas ternyata bekerja malam hari untuk membantu orang tuanya. Ia ingin menulis tentang bagaimana metode tertentu gagal bukan karena metodenya buruk, tetapi karena konteksnya berbeda. Ia ingin menulis tentang kegagalan, tentang improvisasi, tentang intuisi pedagogis.

Namun, ketika ia mencoba menuangkan itu ke dalam format artikel ilmiah, ia diberi tahu bahwa ceritanya terlalu naratif, terlalu reflektif, terlalu “tidak akademik”.

Ironisnya, ketika hal yang sama ditulis oleh seorang akademisi dengan menambahkan beberapa istilah teoritis dan kutipan dari jurnal bereputasi, ia menjadi “kontribusi penting dalam literatur”.

Perbedaannya bukan pada pengalaman, tetapi pada legitimasi.

Dan legitimasi, tampaknya, lebih mudah diberikan kepada mereka yang tidak sendirian.

Bayangkan seorang reviewer yang membuka sebuah naskah. Ia melihat hanya satu nama penulis, dengan afiliasi sebuah sekolah dasar atau sekolah menengah. Ia menarik napas, mungkin tanpa sadar. Dalam benaknya, sudah ada ekspektasi tertentu bahwa naskah ini akan “kurang kuat”, “kurang teoritis”, atau “kurang signifikan”.

Ia mulai membaca, tetapi bukan dengan pikiran kosong. Ia membaca dengan prasangka yang halus, yang tidak pernah diakui, tetapi memengaruhi setiap penilaian. Setiap kekurangan diperbesar, setiap kelebihan dianggap kebetulan.

Jika ada kesalahan kecil, itu menjadi bukti bahwa penulis “belum siap”. Jika ada ide menarik, itu dianggap “perlu dikembangkan lebih lanjut”.

Dan pada akhirnya, keputusan itu muncul “Ditolak dengan perbaikan besar.”

Sebuah frasa yang secara elegan mengatakan “Kami tidak percaya pada Anda, setidaknya belum.”

Sekarang, mari kita balikkan situasinya.

Bayangkan sebuah naskah dengan lima penulis, dari tiga institusi berbeda, dengan satu di antaranya memiliki gelar profesor. Judulnya panjang, dengan istilah-istilah yang terdengar meyakinkan. Metodologinya kompleks, dengan diagram alur yang rapi.

Reviewer membuka naskah itu, dan sebelum membaca satu paragraf pun, sudah ada rasa hormat yang muncul. “Ini pasti serius,” pikirnya.

Ia membaca dengan sikap yang berbeda. Kekurangan kecil dianggap wajar, karena “ini penelitian besar”. Kelebihan kecil diperbesar, karena “ini kolaborasi lintas institusi”.

Jika ada bagian yang kurang jelas, ia tidak langsung menyimpulkan bahwa penulis tidak kompeten, melainkan bahwa “perlu klarifikasi”.

Dan jika akhirnya naskah itu diterima dengan revisi minor, itu bukan hanya karena kualitasnya, tetapi juga karena kredibilitas yang sudah melekat sejak awal.

Satire ini bukan tentang menyalahkan individu, melainkan tentang mengungkap pola.

Pola bahwa sebagai pengelola jurnal dan reviewer, sering kali tidak hanya menilai naskah, tetapi juga penulisnya. Kita menilai institusinya, jumlah kolaboratornya, bahkan mungkin reputasinya.

Dan dalam proses itu, kita secara tidak sadar menciptakan hierarki yang tidak selalu berkaitan dengan kualitas tulisan.

Guru yang menulis sendirian berada di posisi yang kurang menguntungkan dalam hierarki ini.

Bukan karena tulisannya pasti buruk, tetapi karena ia tidak membawa “tanda-tanda” yang biasa kita asosiasikan dengan kualitas.

Ada ironi yang menarik di sini.

Guru sering didorong untuk menjadi reflektif, untuk terus belajar, untuk melakukan penelitian tindakan kelas, untuk meningkatkan praktiknya. Mereka diminta untuk menulis, untuk berbagi, untuk berkontribusi.

Namun, ketika mereka benar-benar melakukannya, ketika mereka menulis dengan sungguh-sungguh, dengan tekad, tanpa paksaan. Mereka justru dihadapkan pada sistem yang tidak sepenuhnya siap menerima mereka.

Seolah-olah ada pesan tersembunyi “Menulislah, tetapi jangan sendirian. Meneliti, tetapi pastikan ada yang lebih ‘diakui’ bersama Anda.”

Padahal, tidak semua guru memiliki akses ke jaringan akademik. Tidak semua guru memiliki waktu untuk membangun kolaborasi lintas institusi. Banyak dari mereka menulis di sela-sela kesibukan, di antara jam mengajar dan administrasi, di rumah setelah semua pekerjaan selesai.

Kesendirian mereka bukan pilihan strategis, melainkan kondisi nyata.

Dan justru di situlah letak keberanian mereka.

Satire ini ingin mengajak kita untuk mempertanyakan satu hal sederhana, apakah kita benar-benar menilai naskah berdasarkan isinya, atau kita juga secara halus menilai siapa yang menulisnya dan bagaimana ia menulisnya?

Jika sebuah ide kuat datang dari seorang guru yang menulis sendirian, apakah ia kurang layak dibandingkan ide yang sama yang ditulis oleh tim peneliti dengan struktur yang lebih “meyakinkan”?

Jika sebuah refleksi mendalam tidak dibungkus dengan istilah teoretis yang rumit, apakah ia otomatis menjadi kurang ilmiah?

Dan yang lebih penting, apakah pengelola jurnal sebagai penjaga gerbang pengetahuan, secara tidak sadar menutup pintu bagi suara-suara yang tidak sesuai dengan ekspektasinya?

Tentu saja, ada standar yang harus dijaga. Jurnal ilmiah bukanlah blog pribadi. Metodologi, validitas, dan kontribusi tetap penting. Satire ini tidak mengatakan bahwa semua tulisan guru harus diterima tanpa kritik.

Namun, kritik yang adil seharusnya berangkat dari isi, bukan dari asumsi.

Seorang guru yang menulis sendirian mungkin tidak menggunakan istilah yang paling mutakhir, mungkin tidak memiliki referensi yang paling lengkap, tetapi itu tidak berarti idenya tidak berharga.

Sebaliknya, justru mungkin ada perspektif yang segar, yang lahir dari praktik nyata, yang tidak selalu muncul dalam penelitian yang lebih “terstruktur”.

Bayangkan jika kita mengubah sedikit cara kita membaca.

Alih-alih bertanya, “Mengapa ia sendirian?”, kita bertanya, “Apa yang ingin ia sampaikan?”

Alih-alih fokus pada kekurangan sebagai bukti ketidaklayakan, kita melihatnya sebagai ruang untuk pengembangan.

Alih-alih menilai berdasarkan bentuk, kita mencoba memahami substansi.

Mungkin, hanya mungkin, kita akan menemukan bahwa di balik naskah yang sederhana, ada pemikiran yang jujur. Dan kejujuran, dalam dunia akademik yang kadang terlalu penuh dengan formalitas, adalah sesuatu yang langka.

Pada akhirnya, satire ini bukanlah seruan untuk menghapus standar, melainkan untuk memperluas empati.

Pengelola jurnal dan reviewer memiliki peran penting dalam menjaga kualitas ilmu pengetahuan. Tetapi kualitas tidak selalu datang dalam kemasan yang kita harapkan.

Kadang-kadang, ia datang dari ruang guru yang panas, dari seseorang yang menulis sendirian, tanpa tim, tanpa proyek besar, tanpa dukungan institusi yang kuat.

Ia datang dari tekad.

Dan tekad, meskipun tidak selalu terukur dalam metodologi, adalah bahan bakar dari banyak hal besar.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti melihat kesendirian sebagai kelemahan.

Mungkin sudah saatnya kita mulai melihatnya sebagai konteks.

Dan mungkin, jika kita cukup berani, kita bisa mengakui bahwa tidak semua yang “tidak biasa” itu kurang layak kadang-kadang, justru di sanalah letak nilai yang belum kita pahami.

Sebab, di dunia yang semakin ramai dengan kolaborasi, rapat, dan proyek bersama, ada sesuatu yang hampir terlupakan bahwa berpikir, pada dasarnya, adalah aktivitas yang sunyi.

Dan dalam kesunyian itulah, seorang guru menulis.

Bukan untuk diakui.

Tetapi karena ia tidak bisa tidak menulis.

Dan mungkin, tugas kita bukan untuk mempertanyakan kesendiriannya, melainkan untuk mendengarkan apa yang ia coba katakan.

Posting Komentar

0 Komentar