PPG Lulus Tapi RPP atau Modul Ajar Masih Misteri Bahkan dalam Pembelajarannya

Jujur saja ini bukan fenomena baru, tetapi sampai hari ini masih terus berulang dan bahkan terasa semakin nyata di berbagai ruang pendidikan. Saya tidak berbicara berdasarkan asumsi, melainkan dari pengalaman langsung melihat, berdiskusi, dan terlibat dalam berbagai forum guru, baik itu pelatihan, pendampingan, maupun obrolan informal di sela-sela kegiatan sekolah. Ada satu pola yang terus muncul, hampir tanpa pengecualian: banyak guru, baik yang sudah mengikuti PPG maupun yang belum, masih kesulitan menyusun RPP atau Modul Ajar secara utuh, logis, dan benar-benar bermakna. Kesulitan ini bukan sekadar teknis menulis, melainkan lebih dalam pada cara berpikir dalam merancang pembelajaran itu sendiri.



Kesulitan dalam merancang pembelajaran ini kemudian melahirkan fenomena lain yang lebih ironis, yaitu ketika dokumen tetap dibuat dengan tampilan yang terlihat sempurna. RPP dan Modul Ajar disusun dengan rapi, lengkap dengan komponen yang seolah memenuhi standar, bahkan sering kali terlihat profesional ketika dilihat sekilas. File disimpan dengan nama yang sistematis, diunggah ke platform yang diminta, dan secara administratif tidak ada masalah. Namun, di balik kerapian tersebut, ada satu hal yang sering hilang: pemahaman terhadap isi yang ditulis. Di titik inilah muncul jarak yang cukup lebar antara “dokumen yang selesai” dan “pembelajaran yang dirancang”.

Jarak antara dokumen dan praktik ini kemudian terasa jelas ketika guru benar-benar masuk ke dalam kelas. Pada saat mengajar, banyak yang tidak lagi merujuk pada RPP atau Modul Ajar yang telah dibuat sebelumnya. Pembelajaran berjalan mengikuti kebiasaan, intuisi, atau bahkan sekadar mengisi waktu sesuai jam pelajaran yang tersedia. Aktivitas tetap berlangsung, siswa tetap hadir, materi tetap disampaikan, tetapi arah pembelajaran sering kali menjadi kabur. Tidak ada kejelasan tentang tujuan yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut, tidak ada benang merah yang menghubungkan kegiatan dengan kompetensi yang diharapkan, dan tidak ada kesadaran penuh tentang mengapa sebuah aktivitas dilakukan.

Ketika arah pembelajaran mulai kabur, dampaknya secara perlahan merembet ke bagian lain yang tidak kalah penting, yaitu asesmen. Penilaian yang seharusnya menjadi alat untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran, justru sering berubah menjadi formalitas yang harus ada. Guru tetap memberikan tugas, kuis, atau ulangan, tetapi tidak selalu berkaitan langsung dengan tujuan yang telah dirancang—karena memang tujuan itu sendiri tidak dirumuskan secara jelas sejak awal. Akibatnya, nilai yang dihasilkan tidak benar-benar mencerminkan pemahaman siswa, melainkan hanya menjadi angka yang mengisi kolom penilaian.

Ketika asesmen kehilangan fungsinya sebagai alat refleksi pembelajaran, maka guru pun kehilangan salah satu pijakan penting untuk melihat perkembangan dirinya sendiri. Di sinilah masalah berikutnya mulai muncul, terutama ketika guru dihadapkan pada tuntutan untuk melakukan refleksi, seperti dalam pengisian e-Kinerja. Banyak yang kemudian merasa bingung ketika harus menjawab pertanyaan sederhana: apa yang sudah berjalan dengan baik, dan apa yang perlu diperbaiki. Kebingungan ini bukan karena tidak ada yang bisa diperbaiki, melainkan karena sejak awal proses pembelajaran tidak dirancang dengan kesadaran yang utuh.

Kebingungan dalam refleksi ini sebenarnya menjadi cerminan dari sesuatu yang lebih mendasar, yaitu tidak adanya proses berpikir yang sistematis dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Ketika seseorang tidak memiliki peta sejak awal, maka wajar jika ia tidak tahu di mana letak kesalahan atau kekurangan setelah perjalanan selesai. Tanpa tujuan yang jelas, tanpa strategi yang dirancang, dan tanpa indikator keberhasilan yang terukur, maka refleksi hanya akan menjadi aktivitas administratif yang diisi sekadarnya, bukan proses berpikir yang jujur dan mendalam.

Di titik ini, penting untuk menyadari bahwa persoalan ini bukan sekadar tentang administrasi atau beban kerja yang tinggi, melainkan tentang kompetensi inti seorang pendidik. Merancang pembelajaran bukanlah tambahan dari profesi guru, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari peran tersebut. Ketika kemampuan ini tidak dikuasai, maka seluruh proses pembelajaran akan berdiri di atas fondasi yang rapuh. Guru mungkin tetap mengajar, siswa mungkin tetap belajar, tetapi kualitas dari proses tersebut tidak pernah benar-benar optimal.

Ketika fondasi perencanaan tidak kuat, maka perkembangan profesional guru pun akan terhambat. Sulit bagi seseorang untuk berkembang jika ia tidak memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang sedang ia lakukan dan ke mana arah yang ingin dituju. Tanpa perencanaan yang baik, setiap pembelajaran akan terasa seperti mengulang hal yang sama, tanpa ada peningkatan yang signifikan. Guru akan merasa sudah bekerja keras setiap hari, tetapi tidak melihat perubahan berarti dalam kualitas pembelajaran yang dilakukan.

Kondisi ini kemudian berdampak langsung pada kemampuan guru dalam melakukan refleksi yang jujur. Refleksi bukan sekadar menuliskan apa yang terjadi, tetapi memahami mengapa hal itu terjadi dan bagaimana memperbaikinya. Namun, tanpa perencanaan yang jelas, refleksi menjadi kehilangan arah. Guru mungkin menuliskan bahwa pembelajaran berjalan “cukup baik” atau “perlu ditingkatkan”, tetapi tidak mampu menjelaskan secara spesifik bagian mana yang perlu diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya.

Ketika refleksi tidak berjalan dengan baik, maka siklus perbaikan dalam pembelajaran pun terhenti. Tidak ada umpan balik yang benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas mengajar, dan tidak ada proses belajar yang terjadi pada diri guru itu sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini akan menyebabkan stagnasi profesional yang sulit disadari, karena aktivitas mengajar tetap berlangsung setiap hari, sehingga seolah-olah tidak ada masalah yang signifikan.

Stagnasi ini menjadi semakin mengkhawatirkan ketika kita melihat dampaknya terhadap siswa. Pembelajaran yang tidak dirancang dengan baik akan menghasilkan pengalaman belajar yang tidak optimal. Siswa mungkin tetap mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian, tetapi tidak benar-benar memahami tujuan dari apa yang mereka pelajari. Mereka belajar tanpa arah yang jelas, dan dalam banyak kasus, tidak menyadari relevansi dari materi yang diajarkan.

Ketika siswa tidak memahami tujuan pembelajaran, maka motivasi belajar pun akan menurun. Mereka hanya menjalani proses belajar sebagai kewajiban, bukan sebagai kebutuhan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar secara keseluruhan. Nilai mungkin tetap ada, tetapi pemahaman yang mendalam menjadi sulit dicapai. Inilah dampak yang paling serius, karena pada akhirnya pendidikan bukan hanya tentang angka, melainkan tentang proses membentuk pemahaman dan karakter.

Melihat rangkaian dampak ini, menjadi jelas bahwa persoalan perencanaan pembelajaran tidak bisa dianggap remeh. Namun, sering kali kita justru terjebak pada pemahaman yang keliru, seolah-olah masalah utama terletak pada sistem, kurikulum, atau aplikasi yang digunakan. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, akar permasalahannya sering kali berada pada cara kita memandang proses belajar itu sendiri. Apakah kita benar-benar melihat perencanaan sebagai bagian penting dari pembelajaran, atau hanya sebagai kewajiban administratif yang harus diselesaikan?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat fenomena penolakan yang sering muncul dalam berbagai pelatihan guru. Tidak jarang, ketika masuk pada sesi penyusunan RPP atau Modul Ajar, muncul berbagai respons yang menunjukkan resistensi. Kalimat-kalimat seperti “ini terlalu rumit”, “tidak sempat”, atau “yang penting ada saja” menjadi hal yang cukup umum terdengar. Penolakan ini sering kali tidak disadari, tetapi memiliki dampak besar terhadap proses belajar guru itu sendiri.

Penolakan terhadap proses belajar ini kemudian memperkuat pola lama yang sudah terbentuk. Guru tetap membuat dokumen karena harus, tetapi tidak benar-benar terlibat dalam proses memahami apa yang dibuat. Akibatnya, setiap pelatihan yang seharusnya menjadi kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, justru tidak memberikan dampak yang signifikan. Informasi mungkin diterima, tetapi tidak diolah menjadi pemahaman yang mendalam.

Ketika pola ini terus berulang, maka perubahan menjadi semakin sulit terjadi. Guru mungkin merasa sudah mengikuti berbagai pelatihan, sudah mendapatkan sertifikat, dan sudah memenuhi berbagai persyaratan administratif, tetapi tidak melihat perubahan nyata dalam praktik mengajar. Di sinilah muncul kesadaran yang perlu kita bangun bersama: bahwa sertifikat bukanlah jaminan kompetensi, dan mengikuti program seperti PPG bukanlah garis akhir dari proses belajar seorang guru.

Kesadaran ini kemudian membawa kita pada pemahaman yang lebih mendasar, bahwa menjadi guru adalah proses belajar yang tidak pernah selesai. Kemampuan merancang pembelajaran bukanlah sesuatu yang bisa dikuasai sekali saja, melainkan perlu terus diasah dan diperbaiki. Setiap kelas, setiap siswa, dan setiap situasi memberikan tantangan yang berbeda, sehingga membutuhkan perencanaan yang selalu diperbarui dan disesuaikan.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa perubahan tidak harus dimulai dari hal yang besar, tetapi dari kesadaran kecil yang konsisten. Mulai dari bertanya pada diri sendiri sebelum mengajar: apa tujuan dari pembelajaran hari ini, mengapa aktivitas ini dipilih, dan bagaimana saya akan mengetahui bahwa siswa benar-benar memahami. Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan berpikir yang lebih reflektif.

Kebiasaan berpikir reflektif ini kemudian akan membantu guru untuk lebih memahami proses yang ia jalani. Dengan memahami apa yang dirancang dan dilakukan, guru akan lebih mudah melihat apa yang perlu diperbaiki. Refleksi tidak lagi menjadi beban, melainkan menjadi bagian alami dari proses mengajar. Dari sini, siklus perbaikan dapat mulai berjalan, dan kualitas pembelajaran pun secara perlahan akan meningkat.

Pada akhirnya, semua ini kembali pada pilihan masing-masing individu. Apakah kita ingin terus berada dalam zona nyaman dengan menyelesaikan dokumen seadanya, atau mulai keluar dari kebiasaan tersebut dan benar-benar memahami apa yang kita lakukan. Perubahan mungkin tidak terjadi dalam waktu singkat, tetapi setiap langkah kecil yang diambil dengan kesadaran akan membawa dampak yang lebih besar di masa depan.

Karena pada akhirnya, kualitas seorang guru tidak diukur dari seberapa lengkap dokumen yang ia miliki, tetapi dari seberapa dalam ia memahami apa yang ia rancang dan lakukan di dalam kelas. Dan dari pemahaman itulah, kita bisa benar-benar melihat perbedaan antara sekadar “mengajar” dan benar-benar “mendidik”.

Posting Komentar

0 Komentar