Learning Loss yang Selalu Salah Sinyal tetapi Tak Pernah Salah Pemerintah

Ada satu kalimat yang sering diulang-ulang seperti doa yang dipaksakan learning loss. Kata ini begitu populer, begitu sering disebut oleh pejabat, pakar dadakan, dan laporan-laporan resmi yang tampak rapi di atas kertas namun kosong di dalam praktik. Seolah-olah dua tahun pembelajaran daring adalah biang kerok tunggal dari segala kemunduran pendidikan. Seolah-olah sebelum pandemi, pendidikan kita sudah berada di puncak kejayaan, sudah adil, sudah merata, sudah membebaskan.



Betapa indahnya hidup jika masalah bisa sesederhana itu.

Pemerintah dengan penuh percaya diri menunjuk layar laptop sebagai musuh utama. Internet yang putus-putus, Zoom yang nge-lag, tugas yang menumpuk di WhatsApp semua itu dijadikan kambing hitam yang begitu nyaman. Karena dengan begitu, tidak perlu bercermin. Tidak perlu bertanya: sebenarnya sejak kapan pendidikan kita benar-benar berpihak pada murid?

Learning loss katanya.

Padahal, mari kita jujur sebentar sesuatu yang tampaknya sangat mahal di negeri ini.

Apakah seorang siswa kehilangan kemampuan belajar hanya karena layar? Atau karena sejak awal ia tidak pernah benar-benar diajarkan mengapa ia harus belajar?

Kita punya generasi yang hafal rumus, tetapi tidak tahu maknanya. Bisa menjawab soal, tetapi tidak bisa bertanya. Mampu mengejar nilai, tetapi kehilangan rasa ingin tahu. Namun tiba-tiba, ketika pandemi datang, kita menyalahkan daring sebagai penyebab utama.

Seperti seseorang yang selama bertahun-tahun membiarkan rumahnya retak, lalu ketika hujan turun dan atapnya bocor, ia menyalahkan hujan.

Pemerintah berbicara tentang kurikulum, tentang transformasi digital, tentang program pemulihan pembelajaran. Kata-katanya besar, penuh istilah canggih, seolah-olah pendidikan adalah proyek teknologi, bukan proses manusia. Padahal di balik semua itu, ada satu hal sederhana yang sering luput: niat.

Niat siswa untuk belajar.

Ini bukan hal yang bisa diunduh dari aplikasi. Tidak bisa dipaksakan lewat regulasi. Tidak bisa diukur dengan angka statistik. Namun justru di sinilah inti dari semuanya. Seorang siswa yang punya niat akan mencari cara, bahkan dalam keterbatasan. Ia akan membaca dengan cahaya seadanya, akan bertanya meski tidak diminta, akan mencoba meski tidak diawasi.

Tetapi niat tidak tumbuh di ruang kosong. Ia butuh lingkungan. Ia butuh contoh. Ia butuh harapan.

Dan di sinilah peran orang tua.

Namun, apakah kita benar-benar melihat kondisi orang tua di negeri ini? Atau kita hanya melihat mereka sebagai angka dalam laporan kesejahteraan?

Banyak orang tua yang bekerja dari pagi hingga malam, bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka harus bertahan hidup. Banyak yang tidak punya waktu, bukan karena mereka tidak mau, tetapi karena sistem memaksa mereka demikian. Namun pemerintah sering kali dengan mudah berkata: “Peran orang tua sangat penting.”

Tentu saja penting.

Tetapi apakah negara sudah memberi ruang bagi orang tua untuk benar-benar menjalankan peran itu?

Atau justru negara sibuk menambah beban tanpa memberi dukungan?

Lalu kita bicara tentang sarana dan prasarana.

Ah, ini bagian yang paling menarik.

Karena di sinilah satire berubah menjadi kenyataan yang pahit.

Kita punya sekolah yang catnya mengelupas, atapnya bocor, kursinya patah. Kita punya daerah yang sinyalnya lebih langka daripada kejujuran dalam politik. Kita punya siswa yang harus berjalan kilometer demi mendapatkan jaringan internet. Tetapi di sisi lain, kita juga punya laporan yang menyatakan bahwa transformasi digital pendidikan berjalan dengan baik.

Betapa menakjubkan kemampuan kita dalam menciptakan ilusi.

Seolah-olah dengan satu presentasi PowerPoint, masalah selesai. Seolah-olah dengan satu program, realitas berubah. Seolah-olah dengan satu konferensi pers, penderitaan menjadi tidak relevan.

Learning loss katanya.

Padahal yang hilang bukan sekadar pembelajaran.

Yang hilang adalah kepercayaan.

Kepercayaan siswa bahwa belajar itu bermakna. Kepercayaan orang tua bahwa pendidikan bisa mengubah nasib. Kepercayaan guru bahwa usaha mereka dihargai. Dan yang lebih menyedihkan, kepercayaan masyarakat bahwa pemerintah benar-benar peduli.

Karena bagaimana mungkin kita percaya, jika setiap masalah selalu disederhanakan menjadi satu istilah?

Bagaimana mungkin kita percaya, jika solusi selalu berupa program jangka pendek yang terlihat bagus di media tetapi tidak terasa di lapangan?

Bagaimana mungkin kita percaya, jika suara dari bawah lebih sering diabaikan daripada didengar?

Satire ini mungkin terdengar keras. Tetapi mungkin memang harus keras. Karena kelembutan sering kali tidak cukup untuk menembus tembok birokrasi yang tebal.

Pemerintah suka berbicara tentang masa depan generasi muda. Tentang bonus demografi. Tentang Indonesia Emas. Kata-kata itu indah, penuh harapan. Namun harapan tanpa tindakan hanyalah janji kosong.

Dan generasi muda tidak butuh janji.

Mereka butuh kejujuran.

Mereka butuh sistem yang tidak hanya menuntut, tetapi juga mendukung. Mereka butuh pendidikan yang tidak hanya mengejar angka, tetapi juga membangun karakter. Mereka butuh negara yang tidak hanya hadir dalam pidato, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Karena pada akhirnya, learning loss bukanlah tentang daring atau luring.

Ia adalah cermin.

Cermin yang menunjukkan bahwa masalah kita jauh lebih dalam. Bahwa pendidikan kita belum benar-benar berakar. Bahwa kita masih sibuk memperbaiki permukaan tanpa menyentuh inti.

Dan mungkin, yang paling sulit untuk diakui adalah bahwa perubahan tidak bisa dimulai dari laporan, tetapi dari keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya.

Bahwa siswa bukan sekadar objek kebijakan.

Bahwa orang tua bukan sekadar pelengkap sistem.

Bahwa guru bukan sekadar pelaksana kurikulum.

Dan bahwa pemerintah bukan sekadar pengatur, tetapi penanggung jawab.

Jika semua ini tidak dipahami, maka kita akan terus mengulang siklus yang sama. Menyalahkan hal-hal yang terlihat, sambil mengabaikan yang paling mendasar. Mengganti istilah, mengganti program, mengganti slogan tanpa pernah benar-benar berubah.

Dan suatu hari nanti, ketika istilah learning loss sudah tidak lagi populer, kita akan menemukan istilah baru. Mungkin lebih canggih, mungkin lebih kompleks. Tetapi esensinya tetap sama, yaitu mencari cara untuk menjelaskan kegagalan tanpa harus mengakuinya.

Padahal, pengakuan adalah langkah pertama menuju perbaikan.

Namun mungkin itu terlalu sulit.

Karena mengakui berarti harus bertanggung jawab.

Dan tanggung jawab adalah sesuatu yang sering kali dihindari, terutama ketika ia datang dengan konsekuensi.

Maka, kita terus berjalan dalam lingkaran.

Menyalahkan teknologi.

Menyalahkan pandemi.

Menyalahkan siswa.

Menyalahkan orang tua.

Semua disalahkan, kecuali sistem itu sendiri.

Padahal, jika kita benar-benar ingin memperbaiki pendidikan, kita harus mulai dari pertanyaan yang paling sederhana:

Apakah kita benar-benar peduli?

Bukan peduli dalam kata.

Tetapi peduli dalam tindakan.

Peduli yang terlihat dalam kebijakan yang berpihak.

Peduli yang terasa dalam fasilitas yang layak.

Peduli yang hidup dalam dukungan nyata.


Karena tanpa itu semua, pendidikan hanyalah formalitas. Sekadar rutinitas yang dijalani tanpa makna. Dan siswa hanyalah angka dalam statistik yang terus berubah, tanpa pernah benar-benar diperhatikan.

Satire ini bukan untuk menjatuhkan.

Tetapi untuk mengingatkan.

Bahwa di balik setiap istilah, ada manusia.

Di balik setiap kebijakan, ada kehidupan.

Dan di balik setiap kegagalan, ada kesempatan untuk berubah, jika kita berani.

Namun jika tidak, maka kita hanya akan terus berbicara.

Dan berbicara.

Dan berbicara.

Sementara generasi yang kita sebut sebagai masa depan itu perlahan kehilangan arah.

Bukan karena daring.

Tetapi karena kita sendiri.

Dan mungkin, pada akhirnya, yang benar-benar hilang bukanlah pembelajaran, tetapi kejujuran dalam melihat kenyataan.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."

(QS. Ar-Ra’d: 11)

Posting Komentar

0 Komentar