Ketika Pembela Kekuasaan Terbentur oleh Logikanya Sendiri

Orang yang menjilat kekuasaan sering kali terlihat sangat percaya diri ketika membela orang kuat, jabatan, atasan, pejabat, pimpinan, atau siapa pun yang sedang berada di posisi berkuasa. Ia bisa berbicara lantang, seolah-olah sedang membela kebenaran. Ia bisa memakai bahasa moral, bahasa loyalitas, bahasa sopan santun, bahkan kadang memakai dalil agama untuk membungkus pembelaannya. Namun, anehnya, semakin lama ia membela, semakin mudah terlihat bahwa pembelaannya tidak berdiri di atas kebenaran, melainkan di atas kepentingan. Di sinilah ia mulai terbentur oleh logikanya sendiri. Apa yang dulu ia anggap salah ketika dilakukan orang lain, tiba-tiba ia anggap wajar ketika dilakukan oleh pihak yang ia bela. Apa yang dulu ia sebut kezaliman ketika menimpa dirinya, tiba-tiba ia sebut kebijakan ketika dilakukan oleh orang yang ia dekati. Apa yang dulu ia anggap dosa ketika dilakukan lawan, tiba-tiba ia cari-cari alasan ketika dilakukan kawan. Akalnya bukan lagi alat untuk mencari kebenaran, tetapi menjadi pekerja yang dipaksa membenarkan kepentingan.


Dalam pandangan Islam, masalah seperti ini bukan sekadar masalah sosial atau politik, tetapi masalah hati. Sebab akar penjilatan bukan hanya pada lidah yang pandai memuji, melainkan pada hati yang takut kehilangan dunia. Penjilat kekuasaan biasanya tidak benar-benar mencintai orang yang ia bela. Ia mencintai manfaat yang bisa ia dapatkan dari orang itu. Ia bukan sedang menjaga kehormatan pemimpin, tetapi sedang menjaga posisi dirinya sendiri. Ia bukan sedang membela keadilan, tetapi sedang menunggu balasan, perlindungan, jabatan, proyek, akses, pujian, atau sekadar rasa aman karena berada di dekat orang kuat. Maka ketika ia berbicara, kalimatnya tampak seperti pembelaan, tetapi jiwanya sebenarnya sedang berdagang. Ia menjual kejujuran untuk membeli kedekatan. Ia menukar martabat dengan kenyamanan. Ia menggadaikan akal sehat demi terlihat berguna di hadapan kekuasaan.

Islam sangat menekankan kejujuran, keadilan, dan keberanian moral. Allah memerintahkan orang beriman agar menjadi penegak keadilan, bahkan terhadap diri sendiri, orang tua, dan kerabat. Dalam Al-Qur’an, Surah An-Nisa ayat 135, Allah memerintahkan agar manusia tegak menjadi saksi karena Allah, meskipun kesaksian itu merugikan diri sendiri atau orang-orang dekat. Ini adalah prinsip besar dalam Islam: kebenaran tidak boleh berubah hanya karena hubungan, jabatan, kedekatan, atau kepentingan. Kebenaran tetap benar meskipun dikatakan oleh orang yang tidak kita sukai. Kesalahan tetap salah meskipun dilakukan oleh orang yang kita cintai. Maka orang yang menjilat kekuasaan sebenarnya sedang menabrak prinsip dasar keadilan Islam. Ia tidak lagi menimbang dengan timbangan Allah, tetapi dengan timbangan manfaat pribadi.

Mengapa pembela kekuasaan sering terbentur oleh logikanya sendiri? Karena sejak awal ia tidak menggunakan logika untuk mencari kebenaran. Ia menggunakan logika untuk menyusun alasan. Ada perbedaan besar antara berpikir untuk menemukan yang benar dan berpikir untuk membenarkan yang diinginkan. Orang yang mencari kebenaran akan bertanya, “Apakah ini adil? Apakah ini benar? Apakah ini sesuai syariat? Apakah ini merugikan orang lain?” Sementara orang yang menjilat akan bertanya, “Bagaimana caranya agar orang yang saya bela tetap terlihat benar? Bagaimana caranya agar kesalahannya tampak wajar? Bagaimana caranya agar kritik orang lain terlihat jahat?” Dari pertanyaan awal saja sudah berbeda. Maka hasilnya juga berbeda. Yang satu melahirkan kebijaksanaan, yang satu melahirkan pembelaan yang dipaksakan.

Ketika seseorang membela sesuatu yang salah, ia akan membutuhkan kebohongan berikutnya untuk menutup kebohongan sebelumnya. Ia akan membutuhkan alasan baru untuk menambal alasan lama. Awalnya ia berkata, “Tidak mungkin pemimpin itu salah.” Ketika terbukti salah, ia berkata, “Ya, mungkin ada kesalahan, tetapi niatnya baik.” Ketika dampaknya buruk, ia berkata, “Semua pemimpin juga begitu.” Ketika rakyat atau bawahan menderita, ia berkata, “Mereka saja yang tidak paham.” Ketika ada bukti yang lebih kuat, ia berkata, “Jangan memperkeruh suasana.” Akhirnya pembelaannya bukan lagi runtut, tetapi berputar-putar. Ia tidak lagi mempertahankan kebenaran, tetapi mempertahankan wajahnya sendiri agar tidak terlihat keliru. Di sinilah logikanya terbentur. Ia tidak bisa konsisten karena yang ia bela bukan prinsip, melainkan orang.

Dalam Islam, konsistensi antara ucapan dan tindakan adalah bagian penting dari iman. Allah mencela orang yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan. Dalam Surah Ash-Shaff ayat 2–3, Allah menegur keras orang-orang yang berkata tetapi tidak melakukan. Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya menilai indahnya ucapan, tetapi juga kesesuaian antara ucapan, sikap, dan perbuatan. Penjilat kekuasaan biasanya kehilangan kesesuaian ini. Ia bisa menasihati orang lain agar jujur, tetapi ia sendiri menyembunyikan kesalahan pihak yang ia bela. Ia bisa berkata semua orang harus taat aturan, tetapi ketika penguasa melanggar aturan, ia mencari alasan. Ia bisa berkata kritik harus sopan, tetapi ketika ia menyerang pihak yang berbeda, lisannya menjadi kasar. Ia bisa bicara tentang adab, tetapi adab itu hanya ia tuntut dari orang lemah, bukan dari orang kuat.

Inilah salah satu tanda bahwa logika penjilat kekuasaan sebenarnya tidak dibangun di atas kebenaran, melainkan di atas keberpihakan buta. Ia akan memakai standar ganda. Jika orang biasa melakukan kesalahan kecil, ia marah besar. Jika orang berkuasa melakukan kesalahan besar, ia meminta semua orang memaklumi. Jika rakyat mengeluh, ia sebut tidak bersyukur. Jika pejabat bermewah-mewahan, ia sebut rezeki. Jika bawahan terlambat, ia sebut tidak disiplin. Jika atasan zalim, ia sebut tegas. Jika orang miskin menuntut hak, ia sebut iri. Jika orang kaya mengambil lebih banyak hak, ia sebut cerdas memanfaatkan peluang. Standar ganda seperti ini membuat akal menjadi cacat. Ia tidak lagi menilai perbuatan berdasarkan benar dan salah, tetapi berdasarkan siapa pelakunya.

Padahal Islam mengajarkan bahwa keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kebencian maupun kecintaan. Dalam Surah Al-Ma’idah ayat 8, Allah memerintahkan orang beriman untuk berlaku adil karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Bahkan terhadap orang yang dibenci pun, seorang Muslim tidak boleh berlaku tidak adil. Jika terhadap musuh saja kita diperintahkan adil, apalagi terhadap orang yang dekat dengan kita. Maka membela orang yang salah hanya karena ia penguasa, atasan, senior, pemilik jabatan, atau pemberi keuntungan adalah bentuk penyimpangan dari ruh keadilan Islam. Seorang Muslim boleh menghormati pemimpin, tetapi tidak boleh mengubah kebatilan menjadi kebenaran. Seorang Muslim boleh menjaga adab ketika menasihati, tetapi tidak boleh membungkam kebenaran atas nama adab.

Salah satu penyakit besar dalam penjilatan adalah cinta dunia. Cinta dunia di sini bukan berarti seseorang tidak boleh bekerja, mencari nafkah, punya jabatan, atau hidup layak. Islam tidak melarang manusia memiliki dunia di tangan. Yang berbahaya adalah ketika dunia masuk ke dalam hati sampai membuat seseorang takut berkata benar. Ia takut kehilangan posisi. Takut tidak dipakai lagi. Takut tidak disukai atasan. Takut tidak mendapat proyek. Takut dikeluarkan dari lingkaran. Takut dianggap tidak loyal. Takut rezekinya sempit jika tidak ikut membela kebatilan. Padahal rezeki bukan di tangan manusia. Kekuasaan manusia hanya sebab, bukan sumber utama. Sumber rezeki tetap Allah. Ketika seseorang lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah, lidahnya mudah dibeli, sikapnya mudah berubah, dan logikanya mudah dipelintir.

Rasulullah mengajarkan bahwa berkata benar di hadapan penguasa yang zalim adalah bagian dari keberanian besar. Dalam hadis yang masyhur, disebutkan bahwa jihad yang utama adalah menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Makna hadis ini sangat dalam. Islam tidak menyuruh umatnya menjadi pemberontak tanpa adab, tetapi Islam juga tidak membenarkan umatnya menjadi penjilat yang membenarkan kezaliman. Ada jalan tengah yang mulia, yaitu menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, niat yang bersih, dan keberanian yang tidak tunduk kepada ketakutan dunia. Orang yang menjilat memilih jalan sebaliknya. Ia tidak mau mengambil risiko demi kebenaran, tetapi bersedia mengambil risiko akhirat demi kenyamanan dunia.

Penjilat kekuasaan biasanya mengira dirinya cerdas karena bisa membaca arah angin. Ia tahu siapa yang harus dipuji, siapa yang harus didekati, siapa yang harus dibela, dan siapa yang harus dijauhi. Ia merasa pandai bertahan hidup. Namun dalam pandangan akhlak Islam, kecerdasan seperti itu bisa menjadi kecerdasan yang hina jika tidak disertai takwa. Kecerdasan tanpa iman bisa berubah menjadi kelicikan. Kefasihan berbicara tanpa kejujuran bisa berubah menjadi manipulasi. Kemampuan menyesuaikan diri tanpa prinsip bisa berubah menjadi kemunafikan sosial. Orang seperti ini mungkin naik cepat di hadapan manusia, tetapi turun derajatnya di hadapan Allah. Ia mungkin mendapat tempat di lingkaran kekuasaan, tetapi kehilangan tempat di hati orang-orang yang jujur.

Masalahnya, penjilat sering tidak sadar bahwa orang lain sebenarnya bisa melihat kerusakan logikanya. Ketika ia membela sesuatu secara berlebihan, orang yang berpikir jernih akan melihat bahwa pembelaannya tidak tulus. Pujian yang terlalu sering biasanya tidak lagi terasa sebagai penghormatan, tetapi sebagai strategi. Pembelaan yang terlalu dipaksakan tidak lagi terlihat sebagai loyalitas, tetapi sebagai ketakutan. Orang yang selalu membenarkan atasan dalam segala keadaan tidak terlihat sebagai orang setia, tetapi sebagai orang yang tidak punya tulang punggung moral. Ia mungkin disukai sementara oleh orang yang berkuasa, tetapi belum tentu dihormati. Sebab jauh di dalam hati, bahkan orang berkuasa pun sering tahu siapa yang benar-benar jujur dan siapa yang hanya mendekat karena manfaat.

Dalam sejarah Islam, para ulama yang mulia justru dikenal karena keberanian mereka menjaga jarak dari kekuasaan yang berpotensi merusak keikhlasan. Bukan berarti ulama tidak boleh menasihati pemimpin atau bekerja sama dalam kebaikan. Tetapi mereka sangat berhati-hati agar agama tidak dijadikan alat pembenar kepentingan penguasa. Mereka takut jika ilmu berubah menjadi stempel kekuasaan. Mereka takut jika dalil digunakan bukan untuk membimbing penguasa, tetapi untuk membius rakyat agar diam terhadap kezaliman. Dari sini kita belajar bahwa dekat dengan kekuasaan bukan otomatis salah, tetapi dekat dengan kekuasaan tanpa prinsip adalah bahaya besar. Yang rusak bukan kedekatannya, melainkan niat dan sikapnya ketika kebenaran harus dikatakan.

Penjilat kekuasaan sering memakai kata “loyalitas” untuk menutupi ketidakjujuran. Padahal dalam Islam, loyalitas tidak boleh mengalahkan kebenaran. Loyal kepada pemimpin bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Loyal kepada lembaga bukan berarti menutup kesalahan lembaga. Loyal kepada atasan bukan berarti ikut menzalimi bawahan. Loyal kepada kelompok bukan berarti membela keburukan kelompok. Loyalitas yang benar adalah membantu seseorang agar tetap di jalan yang benar. Jika ia salah, dinasihati. Jika ia lalai, diingatkan. Jika ia zalim, dicegah. Itulah loyalitas yang bernilai ibadah. Adapun membiarkan orang yang kita bela semakin rusak hanya karena kita ingin tetap disukai, itu bukan loyalitas, melainkan pengkhianatan yang dibungkus kesetiaan.

Dalam ajaran Islam, nasihat adalah bagian dari agama. Rasulullah bersabda, “Agama adalah nasihat.” Nasihat dalam Islam bukan sekadar kritik, tetapi bentuk kasih sayang agar seseorang tidak jatuh dalam keburukan. Maka ketika seorang bawahan melihat atasannya salah, ketika rakyat melihat pemimpinnya keliru, ketika teman melihat temannya tidak adil, sikap terbaik bukan menjilat, bukan pula mencaci tanpa adab, melainkan menasihati dengan cara yang paling mungkin membawa kebaikan. Tetapi penjilat tidak suka nasihat yang jujur. Ia lebih suka pujian yang aman. Ia menganggap orang yang menasihati sebagai ancaman. Ia menyebut kritik sebagai kebencian. Ia menyebut kejujuran sebagai pembangkangan. Padahal sering kali orang yang mengkritik dengan niat baik justru lebih mencintai kebaikan daripada orang yang memuji tanpa kejujuran.

Mengapa logika penjilat mudah runtuh? Karena ia sering mencampuradukkan antara menghormati pemimpin dan menyembah kekuasaan. Islam memerintahkan adab kepada pemimpin, orang tua, guru, dan siapa pun yang memiliki kedudukan. Tetapi adab bukan berarti kehilangan akal. Menghormati bukan berarti menganggap manusia tidak bisa salah. Menaati bukan berarti mengikuti dalam maksiat. Dalam kaidah Islam, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah. Ini prinsip yang sangat penting. Jabatan manusia tidak boleh menjadi alasan untuk melanggar perintah Allah. Ketika perintah, kebijakan, atau sikap penguasa bertentangan dengan keadilan, kejujuran, dan amanah, maka seorang Muslim tidak boleh ikut membenarkannya hanya karena takut berbeda.

Penjilat juga sering terbentur karena ia terlalu sibuk menyerang orang yang mengkritik, bukan menjawab isi kritiknya. Ketika ada orang berkata, “Ini tidak adil,” ia tidak menjawab letak keadilannya. Ia malah berkata, “Kamu iri.” Ketika ada orang berkata, “Ini merugikan rakyat,” ia tidak menjawab kerugiannya. Ia malah berkata, “Kamu tidak paham kebijakan.” Ketika ada orang berkata, “Ini melanggar aturan,” ia tidak menjawab aturan mana yang membolehkan. Ia malah berkata, “Jangan merasa paling benar.” Cara seperti ini menunjukkan kelemahan logika. Ia tidak membahas substansi, tetapi menyerang pribadi. Dalam Islam, kebenaran tidak gugur hanya karena pembawanya tidak kita sukai. Jika kritik itu benar, maka kewajiban kita adalah mengambil kebenarannya, bukan mencari-cari kekurangan orang yang menyampaikan.

Islam sangat menjaga lisan karena lisan bisa menjadi jalan menuju surga atau neraka. Penjilat kekuasaan sering meremehkan bahaya lisan. Ia merasa hanya sedang berbicara, hanya sedang membela, hanya sedang bercanda, hanya sedang menjaga hubungan. Padahal dengan lisannya ia bisa menutup kezaliman, melemahkan korban, menyakiti orang yang benar, dan memperkuat orang yang salah. Satu kalimat pembelaan yang palsu bisa membuat banyak orang bingung. Satu pujian yang tidak pada tempatnya bisa membuat pelaku kesalahan semakin berani. Satu fitnah terhadap pengkritik bisa membuat orang jujur kehilangan keberanian. Karena itu, dalam Islam, lisan harus dikendalikan oleh takwa, bukan oleh kepentingan.

Orang yang menjilat kekuasaan sebenarnya sedang merendahkan dirinya sendiri. Allah memuliakan manusia dengan akal, hati, dan kemampuan membedakan benar dan salah. Ketika seseorang menyerahkan semua itu kepada kepentingan orang berkuasa, ia telah menjadikan dirinya seperti bayangan. Ia tidak berdiri karena prinsip, tetapi bergerak sesuai arah cahaya kekuasaan. Hari ini ia berkata A karena penguasa berkata A. Besok ia berkata B karena penguasa berubah menjadi B. Lusa ia menyerang orang yang dulu ia bela jika kekuasaan berpindah. Orang seperti ini tidak punya arah batin. Ia tampak fleksibel, tetapi sebenarnya rapuh. Ia tampak pandai menyesuaikan diri, tetapi sebenarnya tidak punya pegangan.

Dalam Islam, pegangan seorang Muslim adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Tentu kita boleh menjaga hubungan baik dengan manusia. Kita boleh berbicara sopan, menghormati, bekerja sama, dan tidak mencari musuh. Tetapi ketika ridha manusia bertabrakan dengan ridha Allah, seorang Muslim harus memilih Allah. Jika semua manusia memuji kita tetapi Allah murka, pujian itu tidak menyelamatkan. Jika orang berkuasa melindungi kita tetapi Allah mencatat kita sebagai pendukung kezaliman, perlindungan itu tidak berarti. Jika jabatan naik tetapi hati jatuh, itu bukan keberhasilan. Jika rezeki tampak bertambah tetapi keberkahan hilang, itu bukan keuntungan.

Salah satu bentuk bahaya penjilatan adalah ia membuat kekuasaan semakin rusak. Pemimpin, atasan, atau siapa pun yang berkuasa tetap manusia. Ia bisa salah, lalai, lelah, tergoda, marah, dan keliru mengambil keputusan. Karena itu, ia membutuhkan orang-orang jujur di sekitarnya. Ia membutuhkan penasihat yang berani berkata, “Ini kurang tepat.” Ia membutuhkan bawahan yang bisa menyampaikan kenyataan, bukan hanya kabar yang menyenangkan. Jika sekelilingnya dipenuhi penjilat, ia akan hidup dalam ruang gema. Ia hanya mendengar pujian. Ia mengira semua baik-baik saja. Ia merasa semua kritik adalah musuh. Akhirnya kekuasaan menjadi buta. Dalam kondisi seperti ini, penjilat bukan hanya merusak dirinya, tetapi juga merusak orang yang ia jilat.

Islam memandang kekuasaan sebagai amanah, bukan kemuliaan mutlak. Jabatan bukan tanda seseorang pasti lebih mulia di hadapan Allah. Jabatan justru ujian yang berat. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Karena itu, membantu pemimpin yang benar adalah amal baik, tetapi membantu pemimpin dalam kezaliman adalah dosa. Ada perbedaan antara mendukung kebijakan baik dan membela semua tindakan orang berkuasa. Seorang Muslim harus bisa membedakan keduanya. Kalau pemimpin benar, dukunglah. Kalau salah, nasihatilah. Kalau zalim, jangan ikut menjadi alat kezalimannya. Jangan sampai karena ingin terlihat loyal, seseorang justru menjadi saksi palsu bagi keburukan.

Penjilat sering berdalih, “Saya hanya menjaga hubungan baik.” Padahal menjaga hubungan baik tidak sama dengan mengorbankan kebenaran. Dalam Islam, silaturahmi dan adab memang penting, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk diam terhadap kerusakan yang nyata. Ada orang yang menganggap setiap kritik sebagai pemutus hubungan. Ini keliru. Kritik yang disampaikan dengan niat baik dan cara beradab bisa menjadi bentuk kasih sayang. Justru orang yang selalu memuji meski melihat keburukan adalah orang yang membiarkan saudaranya jatuh. Jika kita melihat seseorang berjalan menuju lubang, lalu kita diam karena takut ia tersinggung, maka diam kita bukan kelembutan, melainkan kelalaian.

Penjilat juga sering menggunakan agama secara selektif. Ketika rakyat atau bawahan mengkritik, ia mengutip dalil tentang taat kepada pemimpin. Tetapi ketika pemimpin zalim, ia lupa dalil tentang keadilan. Ketika orang kecil marah karena tertindas, ia mengutip dalil tentang sabar. Tetapi ketika orang kuat merampas hak, ia lupa dalil tentang amanah. Ketika korban bersuara, ia bicara tentang adab. Tetapi ketika pelaku menyakiti, ia diam. Inilah yang membuat logikanya runtuh. Ia tidak menjadikan agama sebagai petunjuk menyeluruh, tetapi sebagai alat untuk memenangkan pihak tertentu. Padahal agama bukan alat kekuasaan. Agama adalah cahaya yang menerangi semua, termasuk yang berkuasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, penjilatan tidak hanya terjadi di dunia politik. Ia bisa terjadi di kantor, sekolah, organisasi, lingkungan kerja, bahkan komunitas kecil. Ada orang yang selalu membenarkan kepala sekolah meski kebijakannya merugikan guru. Ada orang yang selalu memuji atasan meski bawahannya diperlakukan tidak adil. Ada orang yang mendekati senior agar aman, lalu ikut menekan junior. Ada orang yang membela pengurus organisasi bukan karena benar, tetapi karena ingin mendapat posisi. Maka kajian ini bukan hanya untuk melihat orang lain, tetapi juga untuk bercermin. Jangan-jangan dalam skala kecil, kita pernah tergoda menjadi penjilat. Jangan-jangan kita pernah diam ketika orang kuat salah, tetapi keras ketika orang lemah keliru. Jangan-jangan kita pernah memakai kata “loyalitas” untuk menutupi ketakutan kita sendiri.

Obat dari penjilatan adalah takwa, keberanian, dan kejujuran. Takwa membuat seseorang sadar bahwa Allah melihat niat terdalamnya. Keberanian membuat seseorang mampu berkata benar meski tidak menguntungkan. Kejujuran membuat seseorang tidak mudah memelintir logika. Orang yang bertakwa tidak akan mudah menjual lisannya. Ia tahu bahwa setiap kata akan dipertanggungjawabkan. Ia tidak ingin hidupnya habis untuk membela manusia yang belum tentu bisa membelanya di akhirat. Ia tidak ingin wajahnya bersih di hadapan atasan tetapi hitam di hadapan Allah. Ia tidak ingin mendapat tepuk tangan manusia tetapi kehilangan keberkahan hidup.

Namun keberanian dalam Islam tetap harus ditemani adab. Menolak penjilatan bukan berarti menjadi kasar. Berani berkata benar bukan berarti bebas menghina. Mengkritik kekuasaan bukan berarti merusak kehormatan tanpa alasan. Islam mengajarkan keseimbangan: jangan menjadi penjilat, tetapi jangan pula menjadi pencaci. Jangan membenarkan kebatilan, tetapi jangan menyampaikan kebenaran dengan hawa nafsu. Kebenaran yang disampaikan dengan kesombongan bisa melukai. Tetapi kebatilan yang dibungkus sopan santun tetap kebatilan. Maka yang dibutuhkan adalah hati yang bersih, niat yang lurus, bahasa yang bijak, dan keberanian yang berpijak pada iman.

Pada akhirnya, orang yang menjilat kekuasaan terbentur oleh logikanya sendiri karena ia sedang melawan fitrah kebenaran. Akal manusia diciptakan untuk mengenali yang benar, bukan untuk terus-menerus membungkus yang salah. Hati manusia diciptakan untuk tunduk kepada Allah, bukan kepada jabatan manusia. Lisan manusia diciptakan untuk berkata jujur, bukan untuk menjual pujian. Ketika semua itu dipaksa melayani kepentingan dunia, pasti ada yang retak. Retaknya bisa terlihat dari ucapan yang tidak konsisten, alasan yang berubah-ubah, standar ganda, kemarahan terhadap kritik, dan keberanian yang hanya muncul kepada orang lemah.

Maka seorang Muslim harus berhati-hati. Jangan sampai kita menjadi orang yang pandai membela kekuasaan, tetapi bodoh membela kebenaran. Jangan sampai kita keras kepada yang lemah, tetapi lembek kepada yang kuat. Jangan sampai kita menuntut adab dari korban, tetapi memberi permakluman kepada pelaku. Jangan sampai kita hafal dalil ketaatan, tetapi lupa dalil keadilan. Jangan sampai kita terlihat setia kepada manusia, tetapi berkhianat kepada amanah Allah.

Kekuasaan itu sementara. Jabatan itu bergilir. Orang yang hari ini dipuji bisa besok jatuh. Orang yang hari ini kuat bisa besok lemah. Orang yang hari ini didekati bisa besok ditinggalkan. Tetapi catatan amal tidak berganti mengikuti peta kekuasaan. Allah tetap mencatat siapa yang jujur dan siapa yang menjilat. Allah mengetahui siapa yang membela karena kebenaran dan siapa yang membela karena kepentingan. Maka lebih baik kehilangan tempat di sisi manusia karena menjaga kebenaran, daripada mendapat tempat di sisi kekuasaan dengan mengorbankan iman.

Kajian ini bukan ajakan untuk membenci pemimpin, atasan, atau orang yang berkuasa. Justru Islam mengajarkan kita untuk menghormati, menasihati, dan membantu mereka dalam kebaikan. Tetapi Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi hamba kekuasaan. Seorang Muslim hanya hamba Allah. Jika kekuasaan berjalan dalam kebaikan, dukunglah dengan ikhlas. Jika kekuasaan keliru, nasihatilah dengan bijak. Jika kekuasaan zalim, jangan menjadi lidah yang membenarkannya. Sebab lidah yang hari ini dipakai untuk menjilat manusia, kelak bisa menjadi saksi yang memberatkan di hadapan Allah.

Itulah sebabnya, pembela kekuasaan yang menjilat sering terbentur oleh logikanya sendiri. Karena ia tidak sedang membela kebenaran, melainkan membela kepentingan yang berubah-ubah. Sementara kebenaran memiliki arah yang tetap. Siapa yang berdiri di atas kebenaran mungkin tidak selalu aman di dunia, tetapi hatinya kokoh. Siapa yang berdiri di atas penjilatan mungkin terlihat aman sementara, tetapi batinnya rapuh. Dan dalam Islam, kemuliaan tidak diukur dari seberapa dekat seseorang dengan kursi kekuasaan, melainkan seberapa dekat hatinya dengan Allah, seberapa jujur lisannya, dan seberapa adil sikapnya ketika berhadapan dengan yang kuat maupun yang lemah.

Posting Komentar

0 Komentar