Ada satu nasihat yang terdengar seperti lelucon, tetapi semakin lama direnungkan justru semakin tampak seperti strategi hidup tingkat tinggi kalau ingin menjadi ASN, jangan terburu-buru muda. Tunggu saja sampai tua. Bukan karena negara hanya butuh orang beruban, bukan pula karena kemampuan administrasi baru turun dari langit setelah lutut mulai berbunyi saat naik tangga. Alasan utamanya lebih sederhana, lebih manusiawi, dan lebih satir. Kalau masih muda, biasanya dianggap masih kuat disuruh-suruh, masih lentur dibengkokkan, masih idealis untuk dimanfaatkan, dan masih cukup polos untuk menerima kalimat “ini bagian dari proses belajar” sebagai pengganti kompensasi, keadilan, atau pembagian kerja yang masuk akal.
Dalam imajinasi birokrasi yang penuh tata tertib, manusia muda sering dipandang sebagai sumber daya terbarukan. Ia seperti kertas HVS di meja kantor: selalu tersedia, mudah dipakai, dan kalau habis tinggal minta lagi. Semangatnya dianggap tak terbatas, waktunya dianggap milik bersama, tenaganya dianggap fasilitas kantor, dan perasaannya dianggap belum masuk indikator kinerja. Ketika seorang pegawai muda mengangkat tangan untuk bertanya mengapa beban kerja tidak dibagi merata, ia mungkin akan diberi jawaban filosofis, “Kamu kan masih muda.” Kalimat ini begitu sakti sampai mampu mengalahkan data, logika, struktur jabatan, bahkan peraturan internal. Dalam empat kata itu terkandung seluruh teori ketimpangan kerja versi lokal.
Maka muncullah gagasan yang tampak absurd tetapi mengandung kebenaran sosial, lebih aman menjadi ASN ketika sudah tua. Setidaknya, pada usia yang dianggap senior, seseorang tidak lagi mudah diperintah dengan nada seolah-olah hidupnya masih masa orientasi. Kerut di wajah berubah menjadi sertifikat tak tertulis bahwa ia sudah cukup mengalami pahitnya dunia. Rambut putih menjadi semacam surat tugas moral yang membuat orang berpikir dua kali sebelum menyuruhnya mengerjakan semua hal yang tidak jelas pemiliknya. Bahkan batuk kecil di ruang rapat bisa terdengar seperti peringatan institusional “Jangan bebani saya dengan pekerjaan yang seharusnya dibagi rata.”
Tentu saja, secara resmi, negara tidak pernah mengatakan bahwa pegawai muda boleh dibebani lebih banyak hanya karena muda. Semua dokumen formal biasanya memakai bahasa indah, profesional, akuntabel, sinergis, kolaboratif, berintegritas. Namun dalam praktik sehari-hari, sering ada tafsir tidak tertulis yang lebih kuat daripada slogan di spanduk. Pegawai muda diminta cepat belajar, cepat bisa, cepat adaptasi, cepat lembur, cepat mengerti keadaan, tetapi lambat diakui, lambat dipromosikan, dan lambat dipertimbangkan keberatannya. Ia menjadi makhluk administrasi yang harus responsif terhadap semua permintaan, tetapi ketika meminta keadilan, tiba-tiba sistem menjadi sangat prosedural.
Ini bukan serangan kepada ASN sebagai profesi, melainkan cermin kecil untuk melihat kebiasaan kerja yang sering bersembunyi di balik kata “pengabdian”. Pengabdian adalah kata yang mulia, tetapi justru karena mulia ia mudah disalahgunakan. Atas nama pengabdian, seseorang bisa diminta menerima beban yang timpang. Atas nama loyalitas, seseorang bisa diminta diam. Atas nama belajar, pegawai baru bisa diberi pekerjaan yang bahkan pegawai lama pun tidak ingin menyentuhnya. Dalam kondisi seperti ini, pengabdian berubah dari nilai etis menjadi alat manajemen tenaga muda.
Padahal, pegawai muda bukan baterai cadangan kantor. Ia bukan fitur tambahan dalam aplikasi birokrasi yang bisa diaktifkan saat semua orang sibuk. Ia manusia yang punya batas, punya hak, punya keluarga, punya kesehatan mental, dan kadang punya pertanyaan sederhana
Mengapa yang rajin selalu diberi tambahan pekerjaan, sementara yang pandai menghilang justru dianggap sudah sibuk?
Inilah paradoks klasik dunia kerja. Sistem sering menghukum orang kompeten dengan cara memberinya lebih banyak tugas, lalu menyebutnya kepercayaan. Sementara itu, orang yang tidak bisa diandalkan kadang dilindungi oleh reputasinya sendiri karena sudah dikenal lambat, ia tidak diberi pekerjaan penting. Betapa mengagumkan, ketidakmampuan ternyata bisa menjadi tameng karier.
Dalam dunia yang ideal, pembagian kerja dilakukan berdasarkan tugas pokok, kapasitas, kompetensi, dan prinsip keadilan. Dalam dunia yang terlalu nyata, pembagian kerja kadang dilakukan berdasarkan siapa yang paling mudah diminta, siapa yang paling tidak enak menolak, siapa yang masih baru, siapa yang duduk paling dekat, dan siapa yang belum cukup tua untuk memasang wajah “saya sudah kenyang pengalaman.” Karena itulah menunggu tua sebelum menjadi ASN terdengar seperti strategi bertahan hidup. Bukan agar lebih bijak melayani publik, tetapi agar lebih sulit dijadikan keranjang semua urusan.
Ada pula dimensi psikologis yang menarik. Pegawai muda sering masuk dengan idealisme. Ia percaya sistem bisa diperbaiki, pelayanan publik bisa ditingkatkan, dan birokrasi bisa menjadi ruang rasional yang menjunjung meritokrasi. Namun idealisme ini kerap bertemu dengan realitas yang lebih kreatif daripada teori administrasi publik. Ia menemukan bahwa rapat bisa membahas hal yang sudah jelas, keputusan bisa menunggu orang yang tidak hadir, dan pekerjaan bisa berpindah tangan bukan karena struktur, melainkan karena “tolong bantu sebentar” yang beranak pinak menjadi tanggung jawab permanen.
Kata “sebentar” dalam birokrasi layak diteliti sebagai fenomena linguistik. “Bantu sebentar” sering berarti mengerjakan dari awal sampai akhir. “Nanti kita diskusikan” sering berarti tidak akan pernah dibahas lagi. “Ini mudah kok” biasanya berarti yang memberi tugas belum tahu tingkat kesulitannya. “Kamu masih muda, pasti bisa” adalah bentuk pujian yang merangkap surat perintah tidak resmi. Bahasa kerja memiliki kekuatan magis: ia bisa membuat beban tampak ringan, ketimpangan tampak wajar, dan eksploitasi tampak seperti kesempatan berkembang.
Maka, dalam kajian satir ini, usia tua menjadi modal politik tubuh. Tubuh yang tampak lelah justru memberi perlindungan. Langkah yang pelan membuat orang segan memberi tugas mendadak. Kacamata baca yang diturunkan perlahan bisa menjadi mekanisme pertahanan diri. Ucapan “coba kirim dulu, nanti saya lihat” dari seorang senior terdengar seperti kebijakan strategis, sementara kalimat yang sama dari pegawai muda bisa dianggap kurang sigap. Di sinilah letak komedinya: substansi ucapan sama, tetapi tafsirnya berbeda karena usia, posisi, dan aura sosial.
Namun jangan salah. Menjadi tua tidak otomatis adil, bijak, atau bebas dari beban. Banyak pekerja senior juga mengalami tekanan, apalagi jika mereka punya integritas tinggi di tengah sistem yang gemar membebani orang yang bisa bekerja. Tetapi satire ini sengaja membalik logika umum: selama yang muda sering dianggap paling layak disuruh, maka menunggu tua menjadi bentuk protes imajinatif. Ia bukan solusi kebijakan, melainkan sindiran terhadap budaya kerja yang belum dewasa dalam memperlakukan tenaga muda.
Masalah utamanya bukan usia, melainkan ketidakadilan yang diberi pembenaran sosial. “Masih muda” seharusnya berarti masih punya ruang belajar, bukan berarti boleh diberi beban tanpa batas. “Masih baru” seharusnya berarti perlu pendampingan, bukan berarti menjadi target semua pekerjaan yang tidak diinginkan. “Masih energik” seharusnya menjadi potensi yang dikembangkan, bukan cadangan tenaga untuk menutupi buruknya distribusi tugas. Bila organisasi sehat, energi muda dirawat. Bila organisasi sakit, energi muda diperas lalu ketika melemah disebut kurang tahan banting.
Di sinilah istilah “tahan banting” perlu dicurigai. Dalam banyak tempat kerja, tahan banting dipuja sebagai karakter unggul. Memang, ketahanan itu penting. Tetapi jika seseorang terus-menerus harus tahan banting, mungkin masalahnya bukan pada daya tahannya, melainkan pada lingkungan yang terlalu sering membanting. Kita terlalu sibuk memuji orang yang kuat menanggung beban, sampai lupa bertanya mengapa bebannya tidak dibagi. Kita terlalu kagum pada pegawai yang selalu siap, sampai lupa bahwa kesiapan yang terus-menerus tanpa batas adalah jalan cepat menuju kelelahan.
Kajian ini, meski satir, mengajak kita melihat bahwa keadilan kerja bukan barang mewah. Ia fondasi organisasi yang waras. Tanpa keadilan, kantor berubah menjadi panggung sandiwara. Semua orang bicara tentang kolaborasi, tetapi sebagian orang terus mengerjakan lebih banyak. Semua orang bicara tentang tim, tetapi beban jatuh ke individu yang sama. Semua orang bicara tentang integritas, tetapi diam-diam membiarkan pembagian kerja yang timpang karena dianggap sudah biasa. Kebiasaan, dalam hal ini, menjadi musuh perubahan. Yang tidak adil bisa bertahan lama bukan karena benar, tetapi karena terlalu sering diulang.
Maka, apakah benar sebaiknya menunggu tua untuk menjadi ASN? Secara literal, tentu tidak. Negara membutuhkan orang muda yang cerdas, segar, kritis, dan punya keberanian memperbaiki pelayanan. Namun secara satir, anjuran itu menyimpan pesan tajam: jika sistem hanya menghargai batas seseorang setelah ia tua, berarti sistem gagal menghormati manusia sebagai manusia. Jika pekerja muda harus menunggu uban agar suaranya dipertimbangkan, berarti yang bermasalah bukan usia muda, melainkan budaya mendengar. Jika keadilan baru diberikan kepada mereka yang sudah terlihat lelah, maka kantor bukan tempat kerja, melainkan arena seleksi ketahanan biologis.
ASN idealnya bukan arena siapa paling kuat disuruh, melainkan ruang pelayanan publik yang ditopang pembagian peran jelas. Pegawai muda boleh diberi tantangan, tetapi tantangan berbeda dari pelimpahan. Pegawai baru boleh belajar banyak, tetapi belajar berbeda dari dimanfaatkan. Pegawai energik boleh dipercaya, tetapi kepercayaan berbeda dari ketergantungan organisasi pada satu-dua orang yang tidak enak menolak. Tanpa pembedaan ini, organisasi akan terus mencetak generasi pekerja yang awalnya antusias, lalu perlahan menjadi sinis, lalu akhirnya menguasai seni tertinggi birokrasi terlihat sibuk agar tidak diberi tugas tambahan.
Ironisnya, banyak orang muda yang masuk ke dunia kerja dengan niat baik akhirnya belajar bukan dari pelatihan resmi, melainkan dari mekanisme bertahan hidup. Mereka belajar bahwa terlalu cepat membalas pesan bisa membuat mereka selalu dihubungi. Terlalu sering berhasil menyelesaikan tugas mendadak bisa membuat tugas mendadak menjadi spesialisasi mereka. Terlalu mudah berkata iya bisa membuat batas pribadi menghilang. Pada akhirnya, mereka bukan hanya belajar administrasi, tetapi juga belajar koreografi kantor: kapan harus terlihat fokus, kapan harus menghela napas, kapan harus membawa map agar tampak menuju urusan penting.
Satire ini pahit karena lucunya berasal dari kenyataan. Kita tertawa karena pernah melihatnya, bahkan mungkin pernah mengalaminya. Ada pegawai yang pekerjaannya sedikit tetapi keluhannya banyak. Ada yang pekerjaannya banyak tetapi apresiasinya sedikit. Ada yang ahli memberi arahan tetapi alergi eksekusi. Ada yang selalu berkata “kita” saat memberi tugas, tetapi berubah menjadi “kamu” saat pekerjaan harus diselesaikan. Dalam struktur seperti ini, keadilan bukan hanya soal aturan tertulis, melainkan keberanian sehari-hari untuk tidak membiarkan beban menumpuk pada orang yang sama.
Menunggu tua, dalam pengertian simbolik, adalah menunggu sampai seseorang punya posisi tawar. Dan inilah inti kritiknya: mengapa pekerja harus punya posisi tawar dulu untuk diperlakukan adil? Mengapa rasa segan lebih efektif daripada regulasi? Mengapa usia, jabatan, atau kedekatan sering lebih menentukan perlakuan daripada prinsip objektif? Organisasi modern seharusnya tidak bergantung pada belas kasihan informal. Ia harus punya mekanisme yang membuat keadilan tidak perlu diminta dengan suara gemetar.
Kita perlu membayangkan kantor yang tidak menjadikan pegawai muda sebagai mesin serbaguna. Kantor seperti itu akan membagi tugas secara transparan, mengevaluasi beban kerja secara berkala, memberi ruang menolak dengan alasan rasional, dan tidak menganggap keberatan sebagai pembangkangan. Di sana, “kamu masih muda” tidak dipakai untuk menambah beban, melainkan untuk memberi dukungan. Di sana, senioritas bukan hak untuk mengalihkan pekerjaan, melainkan tanggung jawab membimbing. Di sana, pengabdian tidak berarti mengorbankan martabat pekerja.
Namun karena ini sebuah tulisan, kita boleh menutup dengan usulan kebijakan imajiner. Misalnya, sebelum seseorang menjadi ASN muda, ia diberi perlengkapan wajib satu map tebal untuk perlindungan visual, satu kalimat diplomatis untuk menolak tugas yang tidak sesuai, satu sertifikat “masih manusia meskipun masih muda”, dan satu tombol darurat yang berbunyi setiap kali frasa “tolong sebentar” mulai mengancam akhir pekan. Selain itu, setiap kantor perlu memasang poster baru di samping slogan integritas “Energi muda bukan milik umum.”
Usulan lainnya, setiap tugas tambahan harus dilengkapi keterangan ilmiah: mengapa tugas itu diberikan kepada orang tersebut, siapa yang seharusnya bertanggung jawab, apakah pembagiannya adil, dan apakah kalimat “dia masih muda” sedang dipakai sebagai argumen atau sekadar kebiasaan malas berpikir. Bila alasan pemberian tugas hanya karena seseorang mudah diminta, tugas otomatis kembali ke meja rapat untuk direnungkan bersama. Dengan begitu, organisasi belajar bahwa kecepatan berkata iya tidak boleh menjadi dasar distribusi kerja nasional.
Pada akhirnya, “mending nunggu tua untuk jadi ASN” bukan ajakan menunda pengabdian, melainkan sindiran terhadap budaya yang sering keliru membaca usia muda sebagai izin untuk membebani. Negara yang baik tidak menunggu pegawainya tua untuk menghormati batasnya. Kantor yang sehat tidak menunggu seseorang lelah untuk mengurangi bebannya. Pemimpin yang adil tidak menggunakan semangat muda sebagai tambang tenaga murah. Dan pekerja muda yang waras tidak perlu merasa bersalah saat meminta perlakuan yang proporsional.
Karena sesungguhnya, menjadi muda bukan kesalahan administratif. Menjadi muda bukan bukti bahwa seseorang punya waktu tak terbatas. Menjadi muda bukan surat persetujuan untuk disuruh-suruh tanpa pertimbangan. Menjadi muda hanyalah fase hidup yang seharusnya dipenuhi pembelajaran, kontribusi, dan pertumbuhan yang manusiawi. Jika sebuah sistem hanya bisa berjalan dengan cara menguras yang muda dan melindungi yang pandai menghindar, maka yang perlu direformasi bukan umur pelamarnya, melainkan nurani organisasinya.
Jadi, benar juga mungkin lebih aman menunggu tua sebelum menjadi ASN. Bukan karena tua pasti lebih mampu, tetapi karena dalam banyak ruang kerja, usia kadang menjadi pagar tak kasatmata dari permintaan yang berlebihan. Namun alangkah lucunya sebuah negara jika keadilan kerja baru datang bersama uban. Alangkah anehnya sebuah birokrasi jika martabat pekerja harus menunggu lutut berbunyi. Dan alangkah melelahkannya sebuah sistem jika pegawai muda harus memilih antara antusias dan habis, antara loyal dan dimanfaatkan, antara belajar dan menjadi tempat pembuangan tugas.
Maka, daripada menyuruh orang muda menunggu tua, lebih baik organisasi belajar menjadi dewasa. Sebab pekerja tidak perlu menua dulu untuk diperlakukan adil. Mereka hanya perlu berada dalam sistem yang mengerti bahwa manusia, berapa pun usianya, bukan alat kerja tanpa batas.


0 Komentar