Pernyataan bahwa kuliah itu “banyak yang membohongi” sering muncul di tengah masyarakat, terutama di era media sosial ketika pengalaman pribadi mudah sekali digeneralisasi menjadi kesimpulan umum. Ada yang merasa setelah lulus kuliah tetap sulit mendapat pekerjaan, ada yang melihat lulusan sarjana bekerja di bidang yang tidak sesuai jurusan, ada pula yang membandingkan diri dengan orang yang tidak kuliah tetapi tampak lebih cepat sukses secara finansial. Dari situ lahir anggapan bahwa kuliah hanyalah janji manis, bahkan disebut sebagai kebohongan yang dilembagakan. Namun jika kita mengkaji lebih dalam, tuduhan bahwa kuliah itu membohongi sering kali berakar pada pemahaman yang kurang utuh tentang tujuan pendidikan tinggi, cara kerja dunia kerja, serta sikap belajar dari individu itu sendiri. Dalam banyak kasus, persoalannya bukan pada sistem kuliahnya semata, melainkan pada ekspektasi yang tidak realistis dan kurangnya keseriusan dalam proses belajar.
Pertama-tama kita perlu memahami apa sebenarnya makna kuliah. Kuliah bukan sekadar proses datang ke kampus, duduk mendengarkan dosen, mengerjakan tugas, lalu memperoleh ijazah. Secara ideal, kuliah adalah proses pengembangan diri yang terstruktur. Di dalamnya terdapat pembelajaran teori, praktik, diskusi, penelitian, pembentukan pola pikir kritis, serta pembiasaan tanggung jawab. Pendidikan tinggi dirancang bukan hanya untuk memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk cara berpikir sistematis dan kemampuan memecahkan masalah. Seseorang yang menjalani kuliah dengan sungguh-sungguh seharusnya tidak hanya membawa pulang selembar kertas bernama ijazah, tetapi juga membawa cara berpikir yang lebih matang dibandingkan sebelum ia masuk perguruan tinggi.
Namun, dalam praktiknya banyak mahasiswa yang menjalani kuliah hanya sebagai formalitas. Ada yang datang ke kampus sekadar menggugurkan kewajiban, mengerjakan tugas seadanya, menyontek saat ujian, atau memilih jurusan bukan karena minat tetapi karena ikut-ikutan teman atau desakan keluarga. Dalam kondisi seperti itu, kuliah memang tidak memberi dampak signifikan. Jika prosesnya tidak dijalani dengan serius, hasilnya tentu tidak maksimal. Ketika lulus dan menghadapi dunia kerja, mereka merasa tidak siap dan akhirnya menyalahkan sistem pendidikan. Padahal, jika dilihat dari awal, proses belajarnya sendiri tidak pernah dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Anggapan bahwa kuliah membohongi sering juga muncul karena kesalahpahaman mengenai hubungan antara pendidikan dan kesuksesan finansial. Banyak orang mengira bahwa dengan memiliki gelar sarjana, otomatis akan mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi. Padahal, gelar hanyalah salah satu faktor di antara banyak faktor lain. Dunia kerja menilai tidak hanya ijazah, tetapi juga kemampuan, pengalaman, sikap, jaringan, dan konsistensi seseorang. Kuliah membuka peluang dan memperbesar kemungkinan, tetapi tidak pernah menjanjikan hasil yang pasti tanpa usaha lanjutan. Jika ada yang masuk kuliah dengan harapan bahwa empat tahun belajar otomatis menjamin kehidupan mapan, maka ketika harapan itu tidak terpenuhi, muncullah rasa kecewa yang kemudian diterjemahkan sebagai “dibohongi”.
Perlu disadari bahwa pendidikan tinggi berfungsi sebagai fondasi. Fondasi yang kuat memungkinkan seseorang membangun karier dengan lebih kokoh. Namun fondasi saja tidak cukup untuk membangun rumah. Dibutuhkan kerja keras, ketekunan, dan strategi setelah lulus. Banyak contoh orang yang kuliah dengan serius, aktif dalam organisasi, magang, memperluas relasi, dan terus belajar setelah lulus. Mereka umumnya memiliki daya saing yang lebih baik dibandingkan yang hanya mengandalkan ijazah. Artinya, kuliah bukan kebohongan, melainkan alat. Seperti alat lainnya, hasilnya bergantung pada bagaimana alat itu digunakan.
Selain itu, kita juga perlu membedakan antara sistem pendidikan yang memiliki kekurangan dan tuduhan bahwa seluruh konsep kuliah adalah kebohongan. Memang benar bahwa tidak semua kampus memiliki kualitas yang sama. Ada perguruan tinggi yang fasilitasnya terbatas, kurikulumnya kurang relevan dengan kebutuhan industri, atau dosennya kurang kompeten. Namun hal tersebut bukan berarti seluruh pendidikan tinggi tidak berguna. Sama seperti dalam bidang lain, kualitas sangat bervariasi. Tugas calon mahasiswa adalah memilih dengan bijak dan memanfaatkan apa yang tersedia semaksimal mungkin. Bahkan di kampus dengan keterbatasan sekalipun, mahasiswa yang aktif dan kreatif tetap bisa berkembang.
Sering kali orang yang menyebarkan narasi bahwa kuliah adalah kebohongan hanya menampilkan potongan cerita. Misalnya, mereka menunjukkan lulusan sarjana yang bekerja sebagai pengemudi ojek online lalu mengatakan bahwa kuliah tidak ada gunanya. Padahal, kita tidak tahu bagaimana proses kuliahnya dulu, bagaimana kompetensinya, atau apa pilihan pribadinya. Tidak semua orang yang bekerja di bidang tertentu melakukannya karena gagal. Ada yang memang memilih jalur berbeda, ada yang sedang dalam proses membangun sesuatu, dan ada pula yang memanfaatkan pekerjaannya sebagai batu loncatan. Mengambil satu contoh lalu menjadikannya kesimpulan umum adalah cara berpikir yang tidak adil.
Di sisi lain, kita juga perlu jujur bahwa ada fenomena inflasi gelar. Semakin banyak orang yang kuliah, semakin tinggi pula standar minimal pendidikan dalam dunia kerja. Dulu lulusan SMA mungkin sudah cukup untuk pekerjaan tertentu, sekarang perusahaan mensyaratkan minimal sarjana. Hal ini membuat sebagian orang merasa bahwa kuliah hanyalah formalitas untuk memenuhi syarat administrasi. Namun jika dilihat lebih luas, peningkatan standar ini menunjukkan bahwa dunia kerja juga semakin kompleks. Tantangan yang dihadapi perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kapasitas berpikir lebih tinggi. Pendidikan tinggi menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan itu.
Masalah muncul ketika masyarakat memaknai kuliah hanya sebagai jalan menuju pekerjaan, bukan sebagai proses pengembangan diri. Ketika tujuan utama hanya gaji, maka segala sesuatu diukur dengan angka penghasilan. Jika setelah lulus tidak langsung mendapat penghasilan besar, kuliah dianggap gagal. Padahal, banyak manfaat kuliah yang tidak langsung terlihat dalam bentuk uang. Kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, menulis dengan baik, memahami konsep secara mendalam, serta bekerja dalam tim adalah keterampilan yang sering kali terbentuk selama masa kuliah. Keterampilan ini mungkin tidak langsung menghasilkan uang dalam hitungan bulan, tetapi sangat berharga dalam jangka panjang.
Ada pula faktor perubahan zaman yang membuat sebagian orang merasa tertipu. Di era digital, banyak kisah sukses pengusaha muda yang tidak lulus kuliah, influencer yang berpenghasilan besar tanpa gelar, atau pekerja lepas yang belajar secara otodidak. Kisah-kisah ini sering viral dan memberi kesan bahwa kuliah tidak diperlukan. Namun yang jarang dibicarakan adalah bahwa kisah tersebut merupakan pengecualian, bukan aturan umum. Untuk setiap orang yang sukses tanpa kuliah, ada ribuan yang tidak terdengar kabarnya. Pendidikan formal memberikan jalur yang lebih terstruktur dan risiko yang relatif lebih terukur dibandingkan jalan sepenuhnya tanpa pendidikan tinggi.
Jika kita melihat data secara global, rata-rata pendapatan orang yang berpendidikan tinggi cenderung lebih baik dibandingkan yang tidak. Memang tidak semua sarjana kaya, tetapi secara statistik peluangnya lebih besar. Selain itu, pendidikan tinggi juga berkaitan dengan tingkat pengangguran yang lebih rendah dan akses terhadap pekerjaan formal yang lebih luas. Fakta ini menunjukkan bahwa kuliah bukan kebohongan massal, melainkan investasi jangka panjang yang hasilnya tidak selalu instan.
Persoalan keseriusan belajar menjadi kunci utama dalam kajian ini. Banyak mahasiswa yang sejak awal sudah tidak memiliki motivasi kuat. Mereka masuk kuliah karena tekanan sosial atau sekadar mengikuti arus. Ketika proses belajar terasa sulit, mereka mencari jalan pintas. Tugas dikerjakan dengan menyalin dari internet, materi tidak benar-benar dipahami, dan waktu luang lebih banyak dihabiskan untuk hal yang tidak produktif. Empat tahun berlalu tanpa peningkatan kemampuan yang signifikan. Saat lulus, mereka merasa tidak ada perbedaan antara diri mereka sekarang dan ketika lulus SMA. Dalam kondisi seperti ini, tentu mudah menyimpulkan bahwa kuliah tidak memberi apa-apa.
Padahal, jika selama empat tahun itu digunakan untuk benar-benar belajar, membaca buku tambahan, berdiskusi aktif, mengikuti pelatihan, magang, dan membangun jaringan, hasilnya akan berbeda. Kuliah menyediakan lingkungan dan kesempatan. Ada dosen yang bisa ditanya, perpustakaan yang bisa dimanfaatkan, laboratorium untuk praktik, organisasi untuk melatih kepemimpinan, serta teman-teman yang bisa menjadi relasi di masa depan. Semua itu adalah modal sosial dan intelektual. Namun modal hanya bermanfaat jika dimanfaatkan.
Dalam konteks ini, penting juga membahas peran pembuat dan penyebar narasi negatif tentang kuliah. Tidak jarang konten yang menyatakan bahwa kuliah adalah kebohongan dibuat untuk menarik perhatian. Judul yang provokatif lebih mudah viral dibandingkan penjelasan yang seimbang. Orang yang memiliki pengalaman buruk cenderung lebih vokal dibandingkan yang memiliki pengalaman baik. Akibatnya, ruang publik dipenuhi cerita-cerita kegagalan tanpa konteks yang memadai. Jika pembuat konten tersebut sendiri tidak menjalani kuliah dengan serius atau tidak memahami tujuan pendidikan tinggi, maka wajar jika kesimpulannya menjadi dangkal.
Hal ini bukan berarti kita menutup mata terhadap kritik terhadap sistem pendidikan. Kritik tetap diperlukan agar kampus terus berbenah. Kurikulum perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman, dosen perlu meningkatkan kualitas pengajaran, dan mahasiswa perlu didorong untuk lebih aktif. Namun kritik yang sehat berbeda dengan generalisasi bahwa seluruh konsep kuliah adalah kebohongan. Kritik bertujuan memperbaiki, sedangkan tuduhan tanpa dasar hanya menimbulkan kebingungan.
Kita juga perlu mempertimbangkan aspek psikologis. Ketika seseorang merasa gagal, menyalahkan sistem sering kali menjadi cara untuk melindungi harga diri. Mengakui bahwa diri sendiri kurang serius belajar lebih sulit dibandingkan mengatakan bahwa sistemnya rusak. Ini adalah kecenderungan manusiawi. Namun jika ingin maju, refleksi diri jauh lebih bermanfaat dibandingkan menyalahkan faktor eksternal semata. Jika seseorang merasa kuliahnya tidak memberi hasil, pertanyaan pertama yang perlu diajukan adalah: apakah selama ini saya sudah benar-benar memanfaatkan kesempatan yang ada?
Selain itu, dunia kerja saat ini memang sangat kompetitif. Gelar sarjana tidak lagi menjadi pembeda yang cukup. Oleh karena itu, mahasiswa perlu menyadari sejak awal bahwa kuliah hanyalah bagian dari perjalanan. Mereka perlu membangun portofolio, mengasah keterampilan tambahan, dan terus belajar bahkan setelah lulus. Pendidikan tidak berhenti di kampus. Jika seseorang berhenti belajar setelah wisuda, maka ia akan tertinggal. Dalam konteks ini, menyalahkan kuliah karena tidak menjamin kesuksesan adalah cara pandang yang kurang tepat.
Dalam kehidupan nyata, banyak profesional yang mengakui bahwa masa kuliah menjadi periode penting dalam pembentukan karakter dan cara berpikir mereka. Mungkin mereka tidak langsung merasakan manfaatnya saat itu, tetapi bertahun-tahun kemudian mereka menyadari bahwa cara berpikir analitis, kemampuan menyusun argumen, dan kebiasaan membaca yang terbentuk di bangku kuliah sangat membantu dalam karier. Manfaat ini sering kali tidak terlihat secara instan, sehingga kurang dihargai oleh mereka yang hanya melihat hasil jangka pendek.
Pada akhirnya, pernyataan bahwa kuliah banyak membohongi lebih tepat dilihat sebagai ekspresi kekecewaan sebagian orang, bukan sebagai kebenaran mutlak. Pendidikan tinggi bukan jaminan kesuksesan, tetapi juga bukan kebohongan. Ia adalah sarana. Jika digunakan dengan baik, ia membuka banyak pintu. Jika dijalani setengah hati, hasilnya pun setengah jadi. Tanggung jawab ada pada banyak pihak: kampus untuk menyediakan pendidikan berkualitas, mahasiswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh, dan masyarakat untuk memiliki pemahaman yang realistis.
Bagi orang awam yang sedang mempertimbangkan kuliah, penting untuk memahami bahwa keputusan ini adalah investasi jangka panjang. Seperti investasi lainnya, ada biaya, ada risiko, dan ada potensi keuntungan. Hasilnya tidak selalu langsung terlihat, tetapi dalam banyak kasus memberikan dampak positif dalam jangka panjang. Jangan terpengaruh oleh narasi yang terlalu menyederhanakan persoalan. Lihatlah secara utuh, timbang kemampuan dan minat diri sendiri, serta siapkan komitmen untuk belajar dengan serius.
Jika ada yang mengatakan kuliah adalah kebohongan, mungkin yang perlu ditanyakan adalah: apakah ia benar-benar memahami dan menjalani prosesnya dengan sungguh-sungguh? Karena dalam banyak hal, kualitas hasil sangat ditentukan oleh kualitas usaha. Pendidikan tinggi bukanlah jalan pintas, melainkan proses pembentukan diri. Dan seperti proses lainnya, ia menuntut keseriusan, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar. Tanpa itu semua, apa pun sistemnya akan terasa sia-sia.


0 Komentar